SENIN, 26 DESEMBER 2016
LAMPUNG — Kondisi lahan pertanian di wilayah Kabupaten Lampung Selatan terutama di Kecamatan Sragi dan Kecamatan Palas yang memiliki kondisi tanah cukup gersang membuat warga memanfaatkan untuk pertanian jagung, pisang, serta tanaman lain. Meski demikian, beberapa petani mulai mengubah haluan dengan membudidayakan tanaman buah naga yang dinilai lebih memberi nilai ekonomis dibandingkan tanaman lain. Salah satu warga yang membudidayakan tanaman buah naga tersebut, di antaranya Ahmad (35) dan Sumini (34) yang mulai menanam buah naga di Desa Margajasa Kecamatan Sragi sejak lima tahun lalu. Tanamannya sekitar 200 batang dengan memperoleh bibit langsung dari Taiwan.
![]() |
| Proses penyortiran buah naga setelah panen. |
Bibit buah yang dikenal dengan nama dragon fruit yang langsung didatangkan dari Taiwan tersebut, menurut Sumini, semula didatangkan sejak sang adik bekerja di perkebunan buah naga di negara itu. Proses budidaya yang dilakukan Ahmad dilakukan dengan cara membongkar sebagian besar lahan yang sudah ditanami pohon pisang dan jagung, membuat batang sandaran dari beton cor semen, menyediakan ban-ban bekas untuk sulur batang buah naga yang berkembang, dan menyiapkan pupuk organik dari pupuk kandang. Sebanyak 200 batang buah naga yang sudah berproduksi setelah ditanam selama hampir 9 bulan tersebut, mulai berbunga dan mulai panen pada bulan ke sebelas dengan hasil awal sekitar Rp 2,5 juta.
“Awalnya sulit membudidayakan buah naga di sini. Selain belum berpengalaman, saat adik pulang dari Taiwan hanya memberikan pelatihan singkat dan proses belajar juga dilakukan dengan menggunakan Facebook,” ungkap Ahmad yang kini mengembangkan sekitar 700 batang tanaman jenis buah naga merah saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (26/12/2016).
Alasan mengubah komoditas tanaman dari pisang menjadi buah naga, diakuinya, karena proses perawatan buah naga tidak terlalu sulit dan hanya memerlukan ketelatenan. Lahan yang digunakan juga tidak terlalu luas. Ukuran tertentu bisa digunakan untuk menanam sekitar 200 batang tanaman buah naga. Selain itu kondisi tanah yang ada di wilayah tersebut cukup cocok untuk pengembangan buah naga. Selain menggunakan modal sendiri sebesar Rp 40 juta untuk bibit, pembuatan tiang penyangga serta keperluan lain, ia masih mendapat bantuan dana dari sang adik untuk pengembangan usaha yang dilakukan secara patungan tersebut.
Perjuangan mengembangkan buah naga yang dilakukannya pun tidak sia-sia karena setelah melakukan beberapa kali panen, dirinya juga bisa mengembangkan luas lahan dan jumlah tanaman buah naga. Sesuai dengan tingginya jumlah permintaan akan buah naga, khususnya menjelang Tahun Baru China (Imlek), serta kebutuhan untuk penggunaan buah sebagai obat penyakit tertentu, membuat tanaman buah naga miliknya tak pernah sepi permintaan. Meski melakukan proses pemanenan dengan hasil sekitar satu kuintal pada musim panen, namun ia mengungkapkan, dengan harga buah naga yang berkisar dari Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram, ia bisa terus mengembangkan usahanya.
“Salah satu keunggulan buah naga yang saya kembangkan adalah penggunaan pupuk organik dan jenis buah naga merah yang memiliki rasa manis banyak disukai konsumen. Terutama menjelang tahun baru,” ungkap Ahmad. Selain menjadi buah segar untuk dihidangkan, buah naga juga bisa untuk diet penyakit tertentu seperti diabetes melitus (DM). Ia mengaku, buah naga juga kerap disajikan menjadi buah segar untuk campuran es buah dan jus buah yang disajikan warung penjual es buah segar. Bahkan, saat perayaan Natal, sejumlah rumah menyediakan es buah segar dari buah naga dengan campuran buah belimbing, mangga, serta buah-buahan lain.
Frekuensi panen buah naga yang mulai panen dengan masa tanam buah naga delapan bulan ditanam, sudah mulai produksi atau mulai menghasilkan buah satu kali dalam sebulan. Buah yang masih jarang dibudidayakan tersebut, menurut Ahmad, dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram dan dijual pengecer dengan harga Rp 25.000 per kilogram, sementara untuk buah naga yang dijual olehnya ke pengecer dengan harga Rp 10.000, bisa dijual pula dengan harga Rp 15.000 per kilogram. Selain dibeli oleh para pengecer buah naga yang dibudidayakannya, bahkan sudah dipesan oleh sejumlah supermarket, meski harus mendapat penelitian serta standar tertentu.
“Kemarin sempat dicek oleh pembeli untuk pasokan ke supermarket. Namun ada standar khusus yang harus dipenuhi di antaranya tidak boleh menggunakan bahan kimia, bobot minimal tertentu, dan kami belum bisa memenuhi,” ungkapnya.
Salah satu alasan belum bisa memenuhi pasokan untuk pasar swalayan atau supermarket, menurut Ahmad, di antaranya karena keterbatasan produksi. Jumlah produksi yang masih beberapa kuintal sementara permintaan pemasok sekitar setengah ton dianggapnya belum bisa dipenuhi kecuali pengembangan kebun baru sudah bisa dipanen. Selain keterbatasan kuota untuk pasokan, ia mengaku, tengah menggandeng petani lain dengan sistem kemitraan. Sistem kemitraan tersebut, di antaranya dengan memberikan bibit sekitar 50 batang per kepala keluarga yang memiliki lahan untuk ditanam. Hasilnya akan dibeli olehnya dan diharapkan mampu memenuhi kuota permintaan pemasok untuk swalayan.
“Sebagian petani di sini sedang kami bimbing untuk pengembangan buah naga dan pemberdayaan petani agar bisa memiliki penghasilan tambahan dari bertanam buah naga,” ungkapnya.
![]() |
| Buah naga yang telah dipanen petani di Kecamatan Sragi. |
Budidaya buah naga, menurut Ahmad, merupakan sebuah investasi yang cukup menjanjikan jika dikelola dengan baik dan benar. Selain harga buah naga yang relatif menjanjikan dengan pangsa pasar menengah ke atas, dipastikan bisa meningkatkan taraf ekonomi petani buah naga. Sebagai bagian dari pengembangan budidaya buah naga, hasil penjualan yang sudah cukup lumayan diakui Ahmad dibelanjakan untuk menyewa lahan dan membeli lahan baru untuk perluasan lahan. Serta mengajak petani di sekitar wilayah tersebut untuk melakukan budidaya buah naga.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
