Paula Setia Menekuni Jalan Kemanusiaan Bersama ODHA di Klinik VCT RS TC Hillers Maumere

SELASA 20 DESEMBER 2016

MAUMEREMendampingi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) atau mereka yang terkena penyakit  HIV/AIDS bukan sebuah pekerjaan yang banyak dilakoni setiap orang. Masih besar stigma negatif  yang disematkan kepada ODHA membuat masyarakat selalu mengucilkan ODHA. Hanya segelintir orang saja yang mau bergaul dan hidup bersama kaum ODHA.
Paula Peni Tukan bekerja mendampingi ODHA di Klinik VCT RS TC Hillers Maumere.
Menjadi relawan dan pekerja yang setia mendampingi ODHA setiap hari bagi Paula Peni Tukan merupakan sebuah pengabdian. Baginya, bergabung di kelompok dampingan sebaya merupakan sebuah panggilan hidup, jalan kemanusian.
Paula, ibu 5 orang anak di mana dua anaknya sudah meninggal dunia ini, kepada Cendana News yang menemuinya di klinik VCT Rumah Sakit TC Hillers Maumere, Senin(19/12/2016) mengatakan,ODHA tidak perlu dijauhi dan dikucilkan.
Selama berada di Samarinda, Kalimantan sejak tahun 2014, Paula  selalu bergaul dan setia mendampingi penderita HIV/AIDS dengan mengantar mereka memeriksa kesehatan dan berobat.
“Saya memberikan masukan kepada para penderita agar bisa datang untuk tes dan memeriksakan diri. Kalau kita yang sering bergabung dan mendapat ilmu tentang itu pasti bisa mengetahui orang-orang yang memiliki gejala tertular,” ungkapnya.
Jauhi Penyakitnya Bukan Orangnya
Perempuan asal Lamatou Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur ini, sejak bergabung dengan Yayasan Spiritia. diperbantukan keYayasan Flobamora untuk membantu teman-teman sebaya di Klinik VCT ( Voluntary Conseling and Testing ).
Terhitung sejak  2016 setiap hari Paula bersama dua teman lainnya selalu setia mendampingi ODHA di klinik VCT. Motivasi dirinya bergabung di penanganan HIV/AIDS setelah melihat bahwa orang memandang penderita HIV/AIDS sangat menjijikan.
“Orang masih mengucilkan dan memberi stigma yang tidak baik akibat pengetahun yang minim di masyarakat terkait penyakit ini. Teman-teman penderita juga kurang membuka diri,” terangnya.
Perempuan kelahiran  2 Juli 1977 ini meminta agar teman-teman yang terjangkit harus berani menbuka diri agar bisa mengetahui bagaimana kelangsungan hdup mereka ke depannya .
HIV itu lanjutnya, penularannya tidak mudah serta  pemeriksaan yang dilakukan sedini mungkin bisa menyelamatkan nyawa para ODHA. Ada pintu masuk ada pintu keluarnya, harus ada jumlah virus yang mencukupi supaya seseorang bisa terinfeksi.
“Jadi tidak semudah yang kita bayangkan penularnnya begitu mudah. Masyarakat memandang orang yang sudah terjangkit harus dijauhi, padahal jangan jauhi orangnya tapi penyakitnya,” tegasnya.
Cegah Anak Tertular
Paula mengaku miris melihat banyak ibu-ibu rumah tangga di Kabupaten Sikka dan wilayah lainnya di NTT khususnya yang sedang hamil masih tertular HIV/AIDS. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang berperilaku baik, selalu di rumah saja dan hanya tahu mengurus anak dan suami tenyata suaminya positif  HIV/AIDS dan si ibu pun akhirnya tertular.
“Terlalu banyak ibu-ibu yang jadi tertular sehingga saya terpanggil membantu mereka sebab mereka merupakan korban,” tuturnya.
Ibu-ibu rumah tangga juga kata Paula, tidak mengetahui kalau sudah terkena  virus ini dan setelah mengetahui mereka berpikir hidup mereka cukup sampai disini saja. Khususnya ibu-ibu yang sedang hamil, pesan perempuan 39 tahun ini, hendaknya menyadari bahwa HIV bukan akhir dari segalanya dan bisa minum obat secara teratur setiap hari agar bisa beraktivitas seperti biasa.
“Untu ibu-ibu di Kabupaten Sikka khususnya dan di seantero nusantara, kalau kita sudah tahu kita positif  HIV /AIDS jangan sampai anak kita juga positif,” pesannya.
Paula pun memohon agar ibu-ibu rumah tangga yang sudah terinfeksi virus ini, jangan pernah mencari tahu siapa yang menjangkirkan dirinya, apakah suami yang menjangkiti atau dirinya yang menjangkiti suami karena itu cuma menambah masalah bukan menyelesaikan masalah.
Periksa Sedini Mungkin
Perempuan berkaca mata ini meminta agar ibu-ibu rumah tangga selalu mencari tahu tentang penyakit ini agar bsa memberitahukannya kepada keluarga, dan masyarakat agar stigma yang ada semakin hari semakin berkurang dan hilang.
“Kita selalu bilang stop HIV/AIDS tapi kalau kita tidak mendekati orangnya tidak mungkin bisa teratasi,” ucapnya.
Bagi ibu-ibu yang belum memeriksakan diri ke klinik VCT pinta Paula,sebaiknya mendatangi klinik VCT untuk memeriksakan diri agar bisa memberikan informasi dan motivasi kepada ibu-ibu lainnya yang tertular.
Saat ini tambah perempuan murah senyum ini, di Kabupaten Sikka penyakit HIV/AIDS mengalami peningkatan yang drastis dan ini yang membuat dirinya bersama rekan-rekan pendamping sedikit agak karena selama ini begitu gencar lakukan sosialisasi ke masyarakat.
“Tapi kami juga berpikir mungkin ini dampak dari sosialisasi yang kami lakukan sehingga banyak yang datang memeriksakan diri.Tetapi kami sedih juga sebab masih ada ibu hamil yang tertular,” paparnya.
Sebaiknya para isteri tandas Paula, saat suaminya pulang dari rantau menghimbau agar sang suami untuk memeriksakan diri ke klinik VCT atau rumah sakit agar bisa diketahui secara dini penyakit yang diderita dan bukan saja HIV/AIDS tapi penyakit lainnya agar lebih dini diobati.
Ini penting sambungnya agar isteri pun sejak awal bisa terhindar dari resiko tertular dan yang terpenting anak yang nanti mungkin dikandung pun bisa terselamatkan.
“Tugas saya memberikan motivasi dan dukungan kepada rekan-rekan yang tertular HIV/AIDS untuk bisa kembali menatapi hidup, menjalani hidup normal,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary
Lihat juga...