Pupuk Terpenuhi, Petani Lampung Selatan Dihantui Kekeringan

SELASA 20 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Ratusan petani padi di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mulai memasuki masa pemupukan bagi tanaman padi yang telah ditanam sekitar umur 21 hari. Meski ketersediaan pupuk mencukupi namun petani di wilayah tersebut mulai kuatir akan pasokan air irigasi yang berkurang sehingga berakibat tanaman padi yang masih membutuhkan pasokan air kekeringan. 
Komar mempersiapkan pupuk untuk lahan sawahnya.
Sebagian lahan sawah bahkan mengalami kekeringan dengan kondisi tanah sebagian retak akibat kurangnya pasokan air. Salah satu petani di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Sohidi (45) mengaku saat ini dirinya tidak mengkuatirkan pasokan pupuk karena ketersediaan pupuk di wilayah tersebut masih bisa dipenuhi namun justru mengkuatirkan minimnya pasokan air untuk lahan pertanian yang mereka miliki.
Sohidi mengungkapkan dalam sepekan terakhir pasokan air yang seharusnya mengalir ke areal persawahan miliknya tersendat akibat kurang lancarnya saluran irigasi di wilayah tersebut. Meski demikian ia mengaku masih menggunakan mesin pompa air untuk mengalirkan air dari sungai yang letaknya jauh dari sawah miliknya dan terpaksa menggunakan selang panjang untuk mengalirkan air bagi areal sawah yang ditanami padi.
“Sungai yang ada berada lebih rendah dari areal sawah sehingga terpaksa kami gunakan mesin pompa air agar memasuki masa pemupukan tanaman padi mendapat pasokan air cukup meski harus menyewa mesin pompa,”ungkap Sohidi saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Selasa (20/12/2016).
Ia mengakui satu bulan sebelumnya sejumlah petani mengeluhkan tersendatnya pasokan pupuk jenis SP 36 yang berakibat pupuk jenis tersebut langka. Namun setelah pendistribusian lancar sejumlah petani kembali bisa memperoleh pupuk bersubsidi di kios kios pertanian setempat. Petani bahkan sempat kuatir jika pasokan pupuk tak tersedia menjelang masa pemupukan akan berpengaruh pada produktivitas tanaman padi yang mereka miliki.
Sebagian lahan sawah yang kekeringan dan terkena busuk daun.
Salah satu warga Dusun Sumbersari, Komar (45) mengungkapkan untuk meningkatkan produktivitas hasil panen yang baik ia mulai memupuk padi miliknya beberapa pekan setelah tanam menggunakan pupuk urea, SP 36 dan KCL. Ketersediaan pupuk bersubsidi yang dibelinya telah membantunya untuk melakukan pemupukan tepat waktu sehingga tidak terjadi kelangkaan pupuk seperti pada tahun sebelumnya.
Ketersediaan pupuk sejak lima tahun terakhir menurut Komar dipenuhi oleh para petani dengan bergabung dalam kelompok tani (poktan) Panca Usaha Tani. Melalui kelompok tersebut kebutuhan akan pupuk selalu terpenuhi sesuai luasan lahan serta kebutuhan petani yang tergabung dalam kelompok tersebut.
Ia mengaku saat ini jumlah anggota poktan panca usaha tani sebanyak 32 orang petani yang berada di desa setempat. Selain memberikan keuntungan dalam pemenuhan kebutuhan pupuk, obat obatan serta bibit, selama ini kelompok tani tersebut menurut Komar menggantungkan sumber pengairan dari saluran Sungai Way Asahan dengan pola pengaturan oleh petugas pengairan.
Tutur Komar petani tak perlu kuatir tidak kebagian pupuk saat pasokan normal karena kebutuhan pupuk petanis etempat disusun berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) yang berguna untuk pengelolaan kebutuhan petani untuk pupuk bersubsidi. Saat ini Komar mengungkapkan melakukan pemupukan sebanyak 2 kuintal yang terdiri dari pupuk urea, SP 36 dan KCL sesuai dengan kebutuhan lahan sawah miliknya.
“Kebutuhan pupuk masa tanam kali ini terpenuhi namun kami was wasa dengan pasokan air yang terganggu sebab kalaupun dipupuk namun pasokan air kurang juga akan mengganggu pertumbuhan padi,” terang Komar.
Selain kendala akan pasokan air saat ini kendala yang dihadapi petani diantaranya keberadaan  organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT yang dikuatirkan petani pada masa tanaman padi berumur dua bulan diantaranya hama busuk batang yang berimbas batang tanaman padi menguning. Pemberian pestisida diharapkan mampu mengurangi serangan hama tersebut agar produktivitas padi pada masa mengisi bulir padi tidak terganggu.
Pemupukan.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...