Dua Tahun Dibuka, Jalan Menuju Desa Lewotanaole Flores Timur Sulit Dilewati

RABU, 7 DESEMBER 2016
 
LARANTUKA—Akses jalan menuju Desa Lewotanaole Kecamatan Solor Barat Kabupaten Flores Timur saat ini sangat memprihatinkan. Ruas jalan dari sisi timur yang dibangun tahun 2014 menghubungkan Desa Lamawalang dan Desa Lewotanaole saat ini mengalami kerusakan yang sangat parah. Jalan sejauh 7 kilometer ini, sejak dibuka tidak ada peningkatan sama sekali. Gerusan banjir pada badan jalan menimbulkan lubang-lubang besar di bagian tengah dan menyisakan batu-batu yang beterbaran liar sepanjang jalan.

Sepeda motor yang mencoba melintasi jalan menuju Desa Lewotanaole Kabupaten Flores Timur yang merupakan jalan tanah.

Maksimus Masan Kian, warga Larantuka saat menghubungi Cendana News Rabu (7/12/2016) mengatakan, alternatif jalan yang dibuka dengan tujuan untuk mempercepat akses transportasi dalam mendistribusikan komoditi warga Lewotanaole ke pasar belum bisa digunakan secara signifikan.

“Tak banyak sepeda motor yang berani melewati jalur ini. Warga mengistilahkan lintasan jalan ini dengan sebutan jalur merah karena selain jalan yang menanjak dan terjal, tak ada jalan yang rata,” ujarnya miris.

Ditambahkan Maksi sapaannya, selain menanjak dan terus menanjak, beberapa titik membentuk belokan seperti huruf  Z. Sepeda motor saja sulit melintas apalagi mobil. Hanya sopir yang berani dan penumpang yang nekad saja yang mau menumpang truk kayu sebagai satu-satunya angkutan favorit.

Truk kayu merupakan satu-satunya angkutan favorit masyarakat yang menjangkau Desa Lewotanaole Kecamatan Solor Barat Kabupaten Flores Timur.

“Warga lebih nyaman dengan berjalan kaki, memikul hasil komoditinya untuk dijual di pasar sebab banyak yang takut kalau naik kendaraan akan mengalami kecelakaan,” tuturnya.

Fransiskus Lusi Kewuan sekretaris Desa Lewotanaole pun mengatakan hal senada. Kondisi sulit yang dialami di wilayah ini, mestinya mendapat respon dari lembaga terkait namun jeritan dan keluhan yang disampaikan dari tahun ke tahun belum juga mendapat respon.

“Kesulitan yang paling kami rasakan adalah akses transportasi, penerangan, akses informasi, akses pendidikan dan layanan kesehatan. Sekian kesulitan itu, yang paling terasa adalah akses transportasi atau jalan,” ungkapnya datar.

Kondisi jalan seperti saat ini, lanjut Fransiskus, sangat mengancam keselamatan sehingga membuat warga lebih memilih berjalan kaki, Apalagi saat musim hujan, akses jalan semakin buruk sehingga praktis tak ada kendaraan yang melintas sebab ban mobil sering tergelincir.

Senada dengan Fransiskus, Kepala Desa Lewotanaole Martinus Bulin mengatakan, potensi alam di desa Lewotanaole terbilang melimpah. Boleh dikatakan jantungnya Solor ada di tempat ini.

“Kami punya hasil kemiri, kelapa, kakao, kopi, alpokat, pisang, sawo, bambu, ubi jalar, nenas, madu, coklat, dan hasil bumi lainnya. Namun, kondisi jalan yang rusak membuat kami tidak berharap banyak untuk bisa menjangkau pasar menjual hasil komoditi,” tuturnya kesal.

Kades Lewotanaole ini berharap, semoga ada perhatian dari lembaga terkait dalam peningkatan kualitas jalan dalam memperlancar akses transportasi untuk warga. Praktis saat musim hujan seperti sekarang ini, warga terpaksa harus berjalan kaki, memenuhi kebutuhan atau urusan di luar desa. Masyarakat ke pasar di Ritaebang di hari Selasa, hari Rabu ke pasar Ena Tukan dan Jumat di pasar Kelelu.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
 

Lihat juga...