Aliansi Wartawan Sikka Inisiasi Doa Untuk Aceh dan Intoleransi di Bandung Jawa Barat

SABTU, 10 DESEMBER 2016
MAUMERE — Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menggelar doa bagi korban gempa di Pidie Jaya, Aceh dan korban kekerasan agama di Bandung, Jawa Barat, yang terjadi beberapa hari lalu. Doa bersama  diselenggarakan di Jalan Raya Achmad Yani, depan Kantor Bupati Sikka. Acara doa dan menyalakan lilin berbentuk tulisan Pray for Indonesia ini dihadiri rohaniawan lintas agama, elemen mahasiswa, PMII, PMKRI, Remaja Masjid, Pemuda GMIT, komunitas suporter sepak bola Persami Mania, LSM Wahana Tani Mandiri, para seniman serta masyarakat kabupaten Sikka.
Para pemuka agama dan Ketua AWAS menyalan lilin dalam acara doa bersama untuk Aceh dan Bandung
Tiga rohaniwan hadir membawakan doa dan renungan, yakni Ketua MUI Sikka, Haji Abdul Rasyid Wahab, Perhimpunan Hindu Dharma, Ketut Darmika dan Pater Yance dari Scalabrinian. “Aksi doa bersama ini sebagai wujud solidaritas kami sebagai sesama anak bangsa. Para wartawan juga sedang bekerja mengumpulkan sejumlah bantuan materi untuk korban bencana Aceh,” kata Ketua AWAs, Ruben Ryantobi, yang juga merupakan wartawan televisi nasional di Sikka, Jumat (9/12/2016), malam.
Sementara itu, Sekretaris AWAS, Vicky da Gomez mengatakan, kegiatan ini direncanakan mendadak, sehingga dibuat sesederhana mungkin. Kegiatan ini juga secara ke dalam ingin menegaskan, jika jurnalis harus menjadi corong terdepan kebhinekaan di Indoensia. “Kami wartawan di Sikka ingin mewujudkan itu dan ingin menunjukan, bahwa kami jurnalis di Sikka juga bertekad untuk itu. Kami juga berpesan, dan bertekad mensinergikan profesi jurnalis untuk  ikut bertanggung-jawab terhadap stabilitas negara,” tegasnya.
Peserta doa bersama dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sikka.
Ditambahkan Vickky, wartawan di Sikka juga ingin menunjukan jika wartawan adalah garda terdepan perubahan bangsa. Karena itu, pihaknya hadir dalam kesederhanaan melalui kegiatan ini. Dan, ini merupakan bentuk duka kami untuk Aceh.  “Orang Maumere merawat toleransi sejak dahulu kala. Maka, kami tak akan terpengaruh oleh kondisi bangsa saat ini seperti di daerah lain di Indonesia,” sebutnya.
Vicky menambahkan lagi, Flores, khususnya Maumere, pernah mengalami tsunami pada 12 Desember 1992 dan ketika itu ada banyak orang yang berdoa dan membantu warga Maumere, termasuk warga Aceh. “Ke depan akan dilakukan aksi nyata untuk mengumpulkan bantuan bagi sesama warga bangsa di Aceh. Semoga semua kita tetap adalam satu hati menjaga Indoensia yang sehat, adil, damai dan beradab untuk kita semua,” ungkapnya.
Tidak hanya untuk bencana Aceh, warga Sikka pun juga berdoa atas peristiwa intoleransi yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, belum lama ini. Masyarakat diajak untuk tetap menjaga keutuhan NKRI. Pancasila harga mati, Bhineka Tunggal Ika harus dijunjung setinggi-tingginya demi persatuan dan kesatuan serta menjaga toleransi antar sesama umat beragama.
Penyalaan lilin sebagai simbol penerang bagi bangsa Indonesia.
Ia pun pesan lain yang disampaikan para kuli tinta melalui poster-poster di antaranya, ‘Duka Aceh Duka Kita Duka Indonesia’, ‘Indonesia = Pancasila’, ‘NKRI Harga Mati’, ‘Dari Sabang Sampai Merauke Kita Semua Bersaudara’, ‘Masyarakat Sikka Cinta Damai’.
Kegiatan yang berlangsung di Jalan Ahmad Yani atau depan Kantor Bupati Sikka ini dikawal ketat aparat keamanan dari  Polres Sikka, di bawah komando Ajun Komisaris Besar Polisi I Made Kusuma Jaya, SH,SIK. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan puisi dari kelompok sastra Aksama dan berfoto bersama dan saling bergandengan tangan antara sesama masyarakat.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...