Ade Irawan: Masyarakat Sejak Lahir hingga Meninggal Dihadapkan dengan Korupsi

KAMIS, 8 DESEMBER 2016
 
MALANG—“Orang Indonesia mulai sejak lahir hingga meninggal dunia, hampir dipastikan selalu berhuhungan dan dihadapkan dengan yang namanya korupsi,” ujar Ade Irawan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) saat berdiskusi dalam acara Festival Malang Anti-Korupsi, Kamis (8/12/2016).

Ade Irawan menjelaskan semenjak lahir hingga meninggal setiap orang susah menghindari korupsi.

Saat lahir, mau membuat akte kelahiran saja sudah harus menghadapi korupsi berupa pungutan liar (pungli). Tumbuh besar sedikit, mau masuk sekolah harus juga berhubungan dengan banyak praktik pungli di dalamnya. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan anti-korupsi bagi anak-anak. Begitu juga saat masyarakat Indonesia ingin menikah, punglinya juga gila-gilaan.

“Terakhir, riset dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama menyebutkan, pungli dari uang Kantor Urusan Agama (KUA) bisa mencapai 5 triliun,” ungkapnya. Menurut Ade pula, orang yang menikah di gedung dengan di rumah harganya beda, menikah di gedung dengan di hotel tarifnya juga beda.

“Oleh karena itu, pungli menyebabkan banyaknya jumlah jomblo di Indonesia,” ujarnya dengan nada bercanda.

Belum lagi kalau masyarakat ingin melaksanakan ibadah Haji, dananya juga dikorupsi terutama saat penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

“Sudah biayanya mahal, dikorupsi, ditambah lagi dengan pelayanannya yang buruk,” ucapnya. Tapi, lanjut Ade, dalam beberapa tahun ini pelayanannya sudah lumayan bagus. Dan yang terakhir, masih menurut Ade, ketika meninggal masyarakat Indonesia juga masih dihadapkan dengan pungli tanah kuburan yang sudah terjadi di beberapa daerah.

“Jadi intinya, kita lahir sampai mati selalu dihadapkan dengan tindak korupsi,” terangnya.

Lebih lanjut Ade juga menambahkan, di zaman sekarang korupsi sudah mulai melibatkan keluarga. Padahal menurutnya, keluarga seharusnya menjadi tempat pertama untuk melakukan pendidikan anti-korupsi.

“Kalau zaman dulu orang korupsi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan keluarga maupun lingkungan, tapi sekarang keluarga justru diajak untuk korupsi,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

Lihat juga...