SELASA, 14 JUNI 2016
JAKARTA — Seiring semakin berkembangnya layanan moda transportasi angkutan umum massal yang terintegrasi atau yang dikenal dengan istilah Mass Rapid Transit (MRT), perlahan tapi pasti kedepannya transportasi angkutan umum “tradisional” yang enggan atau tidak mau mengikuti perkembangan jaman, maka otomatis sedikit demi sedikit akan ditinggalkan penumpangnya.
Salah satunya kini sudah mulai dirasakan oleh para pengemudi angkutan tradisional, dimana warga masyarakat Jakarta sebagian besar berpindah naik transportasi angkutan umum moderen seperti Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek dan layanan Bus Trans Jakarta. Keduanya semakin berkembang dengan pesat dan mampu menjangkau sekitar 50 % wilayah Jakarta dan sekitarnya.
KRL Jabodetabek dan Bus Trans Jakarta sekarang menjadi primadona dan kebanggaan warga Ibukota Jakarta, dimana keduanya saling terintegrasi/terhubung, sehingga penumpang tidak perlu repot-repot berpindah naik turun kendaraan umum. Selain itu KRL Jabodetabek dan dan Bus Trans Jakarta sudah dilengkapi dengan pendingin udara (AC), sehingga tidak terasa panas saat bepergian di siang hari.
Hanya dengan mengeluarkan ongkos sebesar Rp. 3.500 hingga Rp. 5.000, penumpang bisa bepergian sepuasnya berkeliling Kota Jakarta sepuasnya tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan, asalkan yang penumpang bersangkutan tidak keluar/ meninggalkan stasiun KRL atau halte Busway Trans Jakarta.
Sebagian besar penumpang sudah berpindah naik MRT, otomatis lama kelamaan omzet pendapatan sopir angkutan umum tradisional seperti Mikrolet, Bajaj, Metro Mini, Bemo, Bus Kota dan Taksi terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Selain itu juga berimbas pada volume jumlah penumpang yang semakin menyusut dan berkurang.
Dulu ibaratnya penumpang yang harus mencari dan menunggu angkutan umum, namun sekarang situasinya berbalik 180 derajat, sekarang angkutan umum harus bersabar sabar mencari dan menunggu penumpang (ngetem). Sekarang mencati satu-dua penumpang bukanlah perkara mudah, padahal setoran ke juragan dan kebutuhan hidup jalan terus.
Pantauan Cendana News, Selasa siang (14/6/2016), beberapa Mikolet M 12 jurusan Terminal Senen-Kota/sebaliknya tampak terlihat sedang berhenti menunggu penumpang (ngetem) persis dibawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Pengemudi Mikrolet M 12 ternyata mengandalkan penumpang yang baru turun dari Halte Busway, namun kenyataannya tidak semua penumpang mau naik Mikrolet M 12.
Toni, seorang pengemudi Mikrolet M 12 mengatakan “sekarang para sopir Mikrolet hanya bisa pasrah dan bertahan, jumlah penumpang Mikrolet dari tahun ke tahun terus mengalami penyusutan, apalagi dengan adanya ojek online sepeda motor seperti Go-Jek dan Grab-Bike, pendapatan sehari-hari semakin tak menentu, untuk mencari satu-dua penumpang saja sekarang harus sabar menunggu, salah satunya ngetem dibawah JPO seperti ini” terangnya kepada Cendana News, Selasa (14/6/2016).(Eko Sulestyono)