JUMAT, 10 JUNI 2016
BANDUNG — Peletakan batu pertama pembangunan grounbreaking flyover alias jembatan layang Antapani, Kota Bandung dimulai hari ini, Jumat (10/6/2016). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berkesempatan meletakan batu pertama itu.

Acara ceremonial dihadiri pula oleh Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Deddy Mizawar, Kepala Balitbang Kementrian PUPR Arie Setiadi Moerwoto dan kepala Pusjatan Herry Vaza. Diketahui, dengan adanya jembatan layang ini diharapkan bisa mengurai kemacetan, khususnya di kawasan Bandung timur.
“Badan Litbang Kementrian PU ingin menunjukan apa yang dihasilkan dari penelitiannya dapat dipersembahkan untuk kota dan masyarakat umumnya,” ujar Basuki, Jumat (10/9/2016).
Desain rancang bangunan jembatan layang merupakan proyek percontohan baja bergelombang. Menurutnya, hal tersebut adalah inovasi yang dicanangkan oleh Balitbang Kementrian PUPR sesuai arahan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla. Baja bergelombang ini lebih efektif menekan anggaran tanpa mengurangi kualitas.
“Dengan inovasi kita akan mencapai kemajuan, ini memang menjadi program kita semua khususnya dorongan dari Wakil Presiden,” ujarnya. Jika proyek ini berhasil bukan tak mungkin akan diterapkan di kota lainnya. Tak hanya untuk perlintasan jalan raya, bisa juga diterapkan pada persimpanhan keret api. Ada rencana pihaknya juga menggunakan baja bergelombang untuk jalur Cikampe-Cikunir atau Cikampek-Jakarta
“Kita sudah coba dipersimpangan sebidang untuk jalan raya, percobaan yang kedua untuk persimpangan sebidang kereta api,” katanya.
Flyover Antapani sendiri akan berdiri sepanjang 500 hingga 700 meter. Proyek pembangunannya merupakan kerjasama dengan perusahaan asal Korea yakni Posco Steel Korea. Dikabarkan, jembatan layang ini menghabiskan anggarann sebesar Rp. 33, 5 miliar, terbagi dari Rp. 21,5 miliar dari anggaran Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Jemen PUPR, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung Rp. 10 miliar, sementara pihak Posco Steel Korea hanya dalam bentuk material senilai Rp. 2 miliar.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menganggap grounbreaking tersebut tak sekadar proyek, tapi menyangkut pula inovasi. Ia berharap proyek jembatan layang ini bisa memperlancar ekonomi mengurangi stres. Khususnya di kota metropolitan yang cendrung memiliki tingkat stres berkendara sangat tinggi.
“Inovasi melahirkan kerja lebih cepat harga lebih murah yang biasa proyek seperti ini 12 bulan bisa diselesaikan dengan 6 bulan. Yang biasa proyek ini nilainya Rp 100 miliar sekarang cukup di Rp. 33 miliar,” ujar Ridwan. (Rianto Nudiansyah)