Sisi Lain Raden Ajeng Kartini

SABTU, 23 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
CATATAN JURNALIS – Selama ini, gaung peringatan pahlawan emansipasi wanita, Raden Ajeng (RA) Kartini, mengalun dalam pergerakan kaum hawa yang menuntut kesamaan hak dan kesetaraan gender. Di era sekarang, Raden Ajeng (RA) Kartini diterjemahkan pula dalam berbagai peran wanita yang pantang menyerah dan revolusioner.


Tetapi, di luar itu, pergulatan batin dan jiwa seorang wanita ningrat Jawa dari desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah itu juga menyentuh dimensi spiritual terkait berbagai ajaran agama dan kepercayaan pada waktu itu.
Di zaman yang masih serba kolot dan teramat jumud, kala itu, RA Kartini (1879-1904) mampu menembus batasan tradisi yang mengekang kebebasan. Padahal, waktu itu tradisi masih menjadi semacam benteng keras yang sulit ditembus. 
Bahkan, ada hukuman yang mengancam bagi siapa pun yang mencoba melabraknya. Namun, RA Kartini telah meruntuhkan tradisi yang mengekang itu, sehingga wanita di zaman ini merasakan hasilnya.
Sekiranya, teramat dangkal jika mengenang RA Kartini hanya sebagai pahlawan emansipasi. Pasalnya, dari jejak kehidupanya ternyata juga tersirat pergulatan batin yang sungguh dalam. Yakni, pencarian Tuhan, pemahaman agama dan cara pengajarannya. Sebuah masalah yang saat ini pun dinilai sedang mengalami kemunduran lagi akibat adanya paham radikalisme dan sektarianisme.
RA Kartini telah mengalami hal itu. Ia gundah dibuatnya, dan pergulatan batinnya dalam mencari ujung dari sebuah keyakinan agama itu juga menjadi bagian dari pencerahan yang kelak dihasilkannya. Ini seperti terlihat dalam berbagai sumber sejarah, bahwa RA Kartini tak hanya melulu mempelajari ilmu barat. Melainkan, juga ilmu ketimuran yang sarat dengan muatan spiritualitas Jawa. 
RA Kartini bahkan diketahui pernah mempelajari ilmu agama Hindu, Budha, Kristen, Islam dan Kejawen. Karena itu, RA Kartini sempat disebut-sebut sebagai penganut sinkretisme. Hingga pada suatu ketika, RA Kartini bertemu dengan Kyai Soleh Darat, seorang ulama yang menjadi guru dari para ulama di tanah Jawa.
Seperti sudah ditakdirkan sebagai sang pencerah, pertemuan RA Kartini dengan Kyai Soleh Darat itu juga memecah kejumudan kaum muslim pada waktu itu, yang hanya mempelajari Al-quran tanpa mengerti arti dan maknanya. Hal ini terjadi karena pada waktu itu, Belanda memang melarang penerjemahaan dan penafsiran Al-quran sebagai upaya pembodohan terhadap kaum pribumi. 
Tetapi, sejak RA Kartini bertemu dengan Kyai Soleh Darat, Al-quran mulai ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Gundul untuk mengelabuhi Belanda.
Kisah pertemuan RA Kartini dengan Kyai Soleh Darat, menjadi momentum penting yang dicatat sejarah sebagai awal dari kemajuan syiar Islam di Jepara. Bahkan, kemudian kemajuan itu merembet ke seluruh Nusantara. Dan, RA Kartini melakukan semua itu tidak dengan mudah. 
Catatan sejarah di Museum RA Kartini di Jepara, Jawa Tengah, menyebut RA Kartini seringkali dilanda kegalauan dan kebuntuan pikiran ketika dalam masa pencarian spiritualitasnya. Pada saat-saat galau dan buntu itu, RA Kartini seringkali meminta nasehat dari kakaknya, Raden Mas Pangeran (RMP) Sosro Kartono, seorang dokter lulusan Universitas Leiden-Belanda, yang justru membuka praktik pengobatan alternatif di rumahnya.
Di Museum RA Kartini di Jepara, juga masih tersimpan meja kursi yang dahulu digunakan oleh RMP Sosro Kartono untuk menerima pasien-pasiennya. Juga berbagai peralatan yang pernah digunakan untuk mengobati pasiennya berupa tempat membakar dupa. Bukti kehebatan RMP Sosro Kartono bahkan juga masih tersimpan di musem tersebut, berupa foto Gunung Merapi dan Gunung Lawu yang dilukisnya dengan mata terpejam. Dua gunung yang semestinya hanya bisa dipotret dari udara itu, oleh RMP Sosro Kartono bisa dihadirkan dengan ilmu kebatinan.
RMP Sosro Kartono adalah kakak kesayangan RA Kartini. Seorang kakak yang selalu dimintai nasehat ketika RA Kartini sedang dicekam kekalutan. Kedekatan RA Kartini dengan RMP Sosro Kartono, kemudian memberi pengaruh besar pada alam pikiran kebatinan Jawa RA Kartini. Dari berbagai buku yang pernah dibaca oleh RA Kartini, dunia gaib pun juga menjadi topik kesukaannya. Misalnya, buku yang berjudul De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.
Tak pelak, RA Kartini juga akrab dengan dunia Kejawen. Tetapi, hal itu bukan berarti RA Kartini gamang dalam soal keyakinan. Pasalnya, sejak kecil RA Kartini sudah dididik keras dengan ajaran Islam. Kakeknya, Kyai Haji Madirono, adalah seorang ulama besar di Jepara. Pergulatan batin RA Kartini di jagat spiritual, semata disebabkan oleh kegelisahannya terhadap cara pengajaran Islam yang waktu itu dipandang jumud. Dan, dari petualangan spiritualnya itu, pada akhirnya RA Kartini dalam sebuah tulisannya menyimpulkan semua agama itu akan bermuara kepada satu titik yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Kini, di era modern yang memberikan tantangan baru di semua lini kehidupan, sekiranya kisah hidup RA Kartini yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, Tertanggal 2 Mei 1964, bisa diteladani. 
Bahwa, apa pun bidang yang menjadi lahan garapan baik pria maupun wanita, hanya kesungguhan batin, kemurnian hati, dan tekad besar dan semangat juang tinggi dengan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi yang menjadi kunci harumnya nama dan sebuah keberhasilan gemilang. (Koko Triarko)
Lihat juga...