Yudi Latif: Penyesuaian non Fisik Kompas Penuntun Pembangunan

YOGYAKARTA — Ketua Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latif menilai, proses pembangunan fisik harus diiikuti dengan pembangunan atau penyesuaian non fisik, berupa penguatan mental, karakter dan kohesi sosial di dalam masyarakat. Pasalnya, bangunan non fisik tersebut merupakan kompas yang menuntun kemana pembangunan fisik itu diarahkan.

“Kita membangun fisik, bangunan jembatan apapun, tapi kalau kohesi sosial robek, tidak ada rasa kepercayaan, maka akan sangat mudah dirobohkan. Bangunan non fisik ini yang akan menjadi kompas penuntun kemana pembangunan fisik diarahkan,” katanya saat menyampaikan Pidato Ilmiah “Meneguhkan Ilmu Sosial Keindonesiaan” dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial UNY, Jumat (15/9/2017).

Sayangnya, Yudi Latif menyebut, saat ini proses pembangunan fisik sering kali jalan tanpa disertai pembangunan non fisik. Ia mencontohkan, saat ini banyak dibangun kompleks perumahan-perumahan baru tanpa kompas sosial atau kompas nilai sehingga banyak muncul perumahan eksklusif. Yang pada akhirnya menimbulkan segregasi sosial di masyarakat.

“Mestinya penataan kota harus melibatkan partisipasi ilmu sosial. Jangan sampai pembangunan itu mengasingkan masyarakat secara sosial. Kalau saling terasing maka akan menimbulkan ketidaktpercayaan. Ketidaktpercayaan menimbulkan prasangka, dan akhirnya melahirkan ketegangan sosial,”katanya.

Meski mengakui kesenjangan sosial merupakan salah satu faktor munculnya kecemburuan dan segresasi sosial, namun Yudi menegaskan, selain itu penyesuaian dengan melibatkan ilmu sosial budaya dalam proses pembangunan fisik juga sangat penting. Seperti misalnya, penyiapan ruang-ruang publik untuk berinteraksi, bergaul dan sebagainya.

“Tapi selama ini ilmu sosial budaya diangap tidak penting sehingga pembangunan berjalan tanpa syarat pakem kepatutan etika sosial di masyarakat,” katanya.

Untuk itu, menurut Yudi, yang harus dilakukan saat ini adalah membentuk mainset moral masyarakat agar lebih terbuka sejak awal. Dunia pendidikan dinilai memiliki peran sangat penting. Melalui lembaga pendidikan seperti sekolah atau kampus itulah tradisi mental dan pikiran yang terbuka dapat dibentuk.

“Selain itu juga lingkungan pergaulan. Kampus harus sediakan ruang bagi semua mahasiswa dalam keragaman dan latarbekalang. Tidak sekedar teori. Misal pembelajaran dilakukan dengan membuat kelompok yang dicampur. Lalu diterjunkan ke proyek bersama. Sehingga secara tidak langsung mengajarkan anak didik menghargai dan bekerja dalam perbedaan. Dan ini merupakan inklusifitas real,” tutupnya.

Lihat juga...