Pesan Iman dan Kebangsaan dalam Pergelaran Wayang Pandawa Pitu di Sleman

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Dalang kondang yang juga merupakan Bupati Tegal, Jawa Tengah, Ki Enthus Susmono, membabar lakon ‘Pandawa Pitu’ di Dusun Dukuh, Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Lakon Pandawa Pitu yang berarti Pandawa Tujuh, merupakan gambaran fenomena merebaknya hoax alias kabar bohong yang saat ini marak dihembuskan oleh banyak pihak dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Penyerahan simbolik wayang golek Arjuna dan wayang kulit Batara Guru dari Nurul Atik kepada Ki Enthus

Lakon wayang ‘Pandawa Pitu’, selama ini kurang familier di tengah masyarakat. Judul lakon itu yang berarti pandawa berjumlah tujuh, bahkan juga terkesan membingungkan. Pasalnya, selama ini kebanyakan masyarakat hanya mengetahui Pandawa adalah putra Pandu, salah-satu Raja Hastinapura. Pandawa berarti lima, karena putra Pandu tersebut berjumlah lima. Dan, kata pandawa pun berasal dari bahasa Sansekerta, pandava, yang berarti lima. Lalu, bagaimana dengan lakon Pandawa Pitu?

Dari berbagai referensi, lakon wayang Pandawa Pitu mengisahkan lima kesatria, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, yang tengah mempelajari ilmu yang disebut Ilmu Kawruh Panunggal. Lalu, Prabu Baladewa dan Kresna turut bergabung, sehingga mereka berjumlah tujuh atau pitu. Kabar tentang Pandawa Pitu yang tengah mempelajari ilmu Kawruh Panunggal itu membuat Batara Guru di Kahyangan tidak senang dan marah, sehingga Pandawa dijatuhi hukuman.

Namun, kisah Pandawa Pitu yang banyak disebutkan dalam berbagai referensi tersebut, berbeda dengan kisah Pandawa Pitu yang dibawakan oleh Ki Enthus. Dalang yang terkenal kreatif dan inovatif itu, memiliki tafsir dan cerita tersendiri mengenai lakon Pandawa Pitu.

Ditemui sesaat sebelum pergelaran Wayang Golek Pandawa Pitu, Sabtu (25/2/2017), malam, Ki Enthus menjelaskan, lakon Pandawa Pitu dalam tafsirnya mengisahkan tentang kesatria Pandawa yang sedang mempelajari tujuh sifat orang mukmin dalam Surat Al-Mumin. Sehingga, Pandawa tetap berjumlah lima dan yang tujuh itu adalah tujuh sifat orang mumin yang sedang dipelajarinya.

“Namun, oleh Betari Durga kabar itu sengaja disampaikan kepada Batara Guru di Kahyangan, bahwa Pandawa kini berjumlah tujuh dan hendak menyaingi para dewa yang berjumlah tujuh di Kahyangan. Kabar bohong atau hoax itu sengaja disebar oleh Betari Durga, untuk menyerang Pandawa,” jelasnya.

Kabar bohong yang sengaja dihembuskan oleh Betari Durga itu, lanjut Ki Enthus, membuat Betara Guru merasa hendak dilangkahi kekuasaannya. Pasalnya, selama ini dewa-dewa di Kahyangan berjumlah tujuh, dan genap delapan dengan Batara Guru. Karenanya, dengan adanya kabar Pandawa menjadi tujuh, Batara Guru merasa terancam kekuasaannya.

“Maka, Batara Guru memerintahkan kepada Betari Durga untuk meringkus Pandawa dan membawanya ke Kahyangan untuk dihukum mati. Berbagai upaya untuk meluruskan kabar hoax itu tidak mempan, karena Betara Guru lebih percaya kepada Betari Durga, yang sebenarnya di belakang Betari Durga itu ada pengaruh Buta Kala,” jelasnya.

Tafsir lakon Pandawa Pitu yang demikian, menurut Ki Enthus, juga merupakan cerminan sekaligus wejangan bagi bangsa ini yang semakin marak dirundung kabar hoax. Bahkan, kabar hoax itu sudah mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu, Ki Enthus menyatakan, jika lakon tersebut kontekstual dengan keadaan saat ini.

“Pesannya lebih agar masyarakat Indonesia kembali kepada Quran, kembali kepada agama, dan jati dirinya. Jangan memakai aturan dan dasar-dasar lain, karena Dasar Negara Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI itu sudah harga mati. Kalau ini tidak dijalankan, negara yang terdiri dari pulau-pulau besar ini bisa hilang,” katanya.

Pesan kebangsaan dalam pergelaran wayang Pandawa Pitu itu, juga disampaikan secara simbolik, melalui penggabungan dua wayang berbeda budaya, Wayang Golek Sunda dan Wayang Kulit Jawa, dalam satu panggung pergelaran. Demikian pula dengan gamelan pengiring, yang terdiri dari dua perangkat gamelan Sunda dan Jawa. “Ini merupakan pesan kebhinekaan yang indah dan harus kita jaga,”, kata Ki Enthus.

Di lain aspek, Ki Enthus juga menafsirkan lakon Pandawa Pitu sebagai ajaran bagi orang beriman. Bahwa, Batara Kala yang berarti jagal waktu, merujuk kepada pemaknaan begitu banyak manusia dalam kehidupan ini yang merugi hanya demi waktu. Sedangkan, orang yang tidak rugi adalah orang yang tetap beriman, mengerjakan sholat lima waktu, menjalankan yang benar dengan kesabaran, dan buah kesabaran itu adalah keberkahan. “Ini seperti Nurul Atik, yang selama tujuh tahun dengan sabar dan tekun membangun usahanya, sehingga berhasil luar biasa,” tutur Ki Enthus.

Nurul Atik yang disebutkan oleh Ki Enthus, sendiri adalah warga setempat yang menginisiasi digelarnya wayang dengan lakon Pandawa Pitu. Nurul Atik adalah pengusaha bidang kuliner ayam goreng krispi (fried chicken) cepat saji ala Amerika, yang kini memiliki 276 cabang tersebar di Indonesia, dengan jumlah staf dan karyawan mencapai 2.764 orang. Kesuksesan Nurul Atik ini menginspirasi banyak orang, karena pria yang kini berusia 51 tahun itu merintis usahanya dari bekerja sebagai cleaning service.

“Pergelaran wayang ini merupakan syukuran ulang tahun ke tujuh perusahaan saya. Karena itu, lakonnya Pandawa Pitu, yang berarti tujuh. Semoga pergelaran wayang ini bisa memberi hiburan sekaligus tuntunan bagi masyarakat luas,” kata Nurul, yang ditemui usai penyerahan simbolis tokoh wayang golek Arjuna dan tokoh wayang kulit Batara Guru karya Ki Enthus.

Antusias warga menonton pergelaran wayang pandawa pitu

Pergelaran Wayang Golek Pandawa Pitu oleh Dalang Ki Enthus Susmono, juga dihadiri perwakilan muspida dan muspika Kabupaten Sleman. Kendati hujan besar sempat mengguyur beberapa jam sebelum pergelaran wayang dimulai, ribuan warga dari berbagai daerah antusias berdatangan hendak menonton. Sementara itu, sebagai rangkaian acara penutup, pada Minggu (26/2/2017) ini diadakan jalan sehat gratis yang diikuti oleh warga dari berbagai daerah. Nurul Atik menyediakan hadiah 1 unit mobil Ayla, 5 unit sepeda motor matic, 5 unit sepeda gunung dan 20 Ipad.

“Pergelaran wayang kulit dan jalan sehat dengan berbagai doorprize ini, merupakan wujud tanggung-jawab sosial saya, bahwa dari sebagian rejeki yang saya terima, sebagian ada milik orang lain yang harus saya kembalikan. Semoga yang saya lakukan ini menjadi berkah bagi kita semua,” pungkasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...