Potensi Ikan Melimpah, Epson Cahyadi Produksi Otak-otak

MINGGU, 3 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Melimpahnya hasil tangkapan ikan jenis ikan parang di wilayah perairan Kalianda Lampung Selatan mendorong beberapa warga yang tinggal di pesisir pantai Kalianda memanfaatkan potensi tersebut untuk membuat kuliner berbahan ikan diantaranya bakso ikan, mpek mpek dan otak otak ikan.
Salah satu pengrajin kue otak otak dengan bahan utamanya ikan parang dan ikan jenis lain diantaranya adalah Epson Cahyadi (40) dan sang istri Elin (39) yang tinggal di Jalan Pratu Lekok, saat Cendana News kunjungi suami istri tersebut tengah sibuk memproduksi otak otak. Saat sang istri membuat otak otak sedang membakar kue otak otak dalam bungkusan daun pisang kepok, harum otak otak berbahan ikan parang yang dibakar di atas bara arang mulai tercium di hidung dengan aromanya yang khas daun pisang sebagai pembungkus.
“Permintaan pada hari biasa cukup tinggi khususnya di warung warung serta permintaan dari beberapa warga yang sedang melakukan kegiatan dan saat menjelang lebaran muslim dan tahun baru Imlek permintaan lebih tinggi,”ungkap Epson Cahyadi sambil mengibaskan kipas angin terbuat dari bambu agar otak otak buatannya cepat matang, Minggu (3/4/2016)
Pada hari biasa ungkap Epson, pesanan otak otak buatannya bisa mencapai sekitar 200-300 bungkus. Sementara untuk musim lebaran dan Imlek Epson mengaku permintaan bisa mencapai 500-800 kue otak otak yang berukuran 3×10 cm.
Epson bahkan mengaku mendapat pesanan dari warga Jakarta yang saat Imlek berencana pulang kampung dan saat pulang ke Jakarta membawa oleh oleh kue tradisional tersebut. Permintaaan untuk dibuatkan otak otak bahkan dilakukan melalui telepon yang sudah dikenal sebagai sarana pemesanan melalui nomor 082377163584 sehingga Epson bisa lebih mengutamakan para pemesan yang jauh jauh hari memesan.
“Pemesan biasanya sudah menelpon jauh jauh hari karena kami harus melakukan persiapan bahan berupa ikan serta adanya pesanan dari tempat lain harus benar benar kita persiapkan,“ungkap Epson.
Terkait kualitas makanan khas Kalianda berbahan ikan tersebut sang istri yang dikenal dengan cece Elin mengaku komposisi ikan lebih diutamakan untuk memberi rasa ikan yang dominan. Lokasi rumah yang berada di dekat Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Dermaga Boom Kalianda menjadi penopang ketersediaan ikan sehingga ia tidak mengalami kesulitan memperoleh ikan untuk campuran pembuatan otak otak.
Elin mengaku cita rasa khas ikan parang yang berasal dari laut Kalianda sangat terasa karena komposisi 1 kilogram ikan parang dan tepung sagu sebanyak 2 ons. Perbandingan cukup signifikan tersebut dirasakan memberikan cita rasa khas ikan yang digemari konsumen.
“Kita menjaga kualitas dengan lebih banyak memberi komposisi ikan pada adonan sehingga konsumen tidak kecewa dan rasa khas ikan inilah yang membuat usaha kami sejak tahun 2000 tetap bertahan,”ungkap Elin.
Selain itu resep nikmatnya otak otak buatan keluarga ini diakui Elin terletak pada proses pengolahan saat membakar. Bungkus daun pisang kepok yang dipakai untuk membungkus adonan otak otak tersebut dibakar dengan bara kayu dan selanjutnya dibakar dengan cara manual pengipasan hingga kue otak otak matang selama kurang lebih lima menit.
Elin mengaku pesanan otak otak di awal tahun ini  mengalami peningkatan dari biasanya pesanan hanya Rp500ribu jelang semakin banyaknya kegiatan terutama adanya festival Rajabasa di pantai Boom Kalianda membuat  pesanan mencapai Rp1juta bahkan lebih untuk otak otak yang satu bungkus kecil seharga Rp3ribu.
“Pantai boom Kalianda dijadikan pusat jajanan dan kuliner berbahan dasar ikan dan sebagian pedagang membeli dari kami untuk dijual kembali di sana,”ungkap Epson.
Para pedagang biasanya memiliki warung yang menyediakan bakso ikan,mpek mpek ikan serta kuliner berbahan ikan yang dijual di pantai dermaga boom Kalianda lengkap dengan minuman es kelapa muda. Otak otak disajikan masih terbungkus daun pisang dan disantap dengan bumbu kacang.
Saat pesanan meningkat Epson mengaku kebutuhan akan daun pisang cukup tinggi dan harus didatangkan dari beberapa desa di Kalianda dan sekitarnya. Saat ini bahkan untuk pesanan otak otak cukup banyak sudah menghabiskan sebanyak 50 ikat daun pisang kepok. Sementara untuk daging giling ikan parang rata rata disiapkan sebanyak 15 kilogram ikan giling yang diperoleh dari nelayan setempat.
Ia bahkan mengaku selain otak otak produksi kue tradisional yang hingga kini ditekuni keluarga Epson diantaranya makanan tradisional berbahan dasar ikan laut diantaranya Bakso Goreng, Pastel, Mpek Mpek berbahan dasar ikan. Tingginya permintaan akan produk olahan berbahan dasar ikan menurut Epson merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Tionghoa di Kalianda yang sudah tinggal di pesisir Kalianda sejak tahun 1800 bahkan sebelum Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Pesanan bahkan tak hanya membanjir dari wilayah Kalianda melainkan dari berbagai wilayah luar Lampung.
Lihat juga...