Menebar Asap, Memburam Masa Depan

OPINI — Indonesia kini mendapat predikat baru sebagai negara pengekspor asap. Pembakaran lahan hutan dibeberapa daerah di Nusantara ini telah menyebar hingga ke negara tetangga, antara lain Singapura dan Malaysia.
Pembakaran hutan yang membuat berbagai sendi kehidupan masyarakat menjadi buram, membuat Walhi  seringkali melaporkan perusahaan konsesi perkebunan yang terkait dengan pembakaran ke Mabes Polri. Sementara itu team investigasi Greenpeace meminta pemerintah menghentikan semua operasi pembukaan lahan dalam kawasan hutan.
Akibat yang ditimbulkan dari pembakaran lahan ini, jalur penerbangan dan pelayaran terganggu (ekonomi). Di Provinsi Riau, akibat yang ditimbulkan dari pembakaran lahan secara tak bertanggungjawab ini menyebabkan jumlah penderita penyakit ISPA meningkat dari hari-hari biasanya. Anak-anak masa depan  bangsa pun banyak yang tidak bisa menuntut ilmu dan berpengetahuan karena kabut asap yang tebal sebagaimana yang terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi. Para pewaris bangsa ini terpaksa tak bersekolah di rumah pengetahuan mareka. Penyakit kanker paru-paru pun sebagaimana yang dikemukan pakar kesehatan akan mengancam kelangsungan hidup para penduduk di Riau dan sekitarnya. Sungguh tragis.
Pada sisi lain, sikap membakar lahan tanpa memerhatikan dampak lingkungan dan ekologi merupakan bukti tenggelamnya manusia Indonesia dalam kabut (asap) pikiran yang ditandai dengan ketidakberpikiran, ketidakberdayaan dan ketidakbertindakan.
Ketidakinginan manusia serakah untuk membiarkan alam untuk hidup (right of nature) membuktikan bahwa masih ada manusia yang tidak mencintai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Manusia berpikiran purba ini hanya mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya saja tanpa mau berpikir untuk kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa ini.
Anehnya, masih ada manusia yang justru mengagungkan manusia klas ini sebagai manusia pembangunan hanya dengan dalih mampu memberikan pekerjaan kepada segelintir orang saja dan harus merugikan jutaan orang yang menderita akibat aksi liarnya itu.
Pada sisi lain, pembakaran lahan yang seolah-olah telah menjadi agenda rutin tahunan ini kurang ditanggapi dan direspon pemerintah secara seksama kendati payung hukumnya telah ada berupa UU no 41 tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah no 4 tahun 2001 yang dengan tegas mengatur pengendalian kerusakan lingkungan yang berkaitan dengan pembakaran lahan atau hutan.
Toh agenda tahunan ini belum juga tersolusikan dengan baik dan terus berlangsung dan berlangsung. Padahal negara harus mengusahakan keadilan dan kesejahteraan bagi warga negara dan mengalahkan kepentingan kelompok.
Akibat pembakaran secara liar dan purba ini membuat ekonomi yang kita bayar cukup mahal. Beragam teknologi dan bantuan kita kerahkan untuk memadamkan titik api yang tersebar hanya untuk kepuasaan nafsu manusia yang hanya mementingkan dirinya dan kelompoknya.
Akibat pembakaran liar ini martabat dan citra serta reputasi bangsa kita sebagai bangsa Indonesia terendahkan. Dan bukan cuma itu saja, akibat pembakaran hutan ini merefleksikan rendahnya pengawasan sosial, lemahnya penegakan hukum, suburnya aneka kecurangan dan manipulasi serta hilangnya otoritas kekuasaan.
Penyebab kebakaran ada dua yakni pertama api tersulut secara alami karena lahan yang kerontang dan tanaman yang mengering. Penyebab kedua adalah karena ulah manusia secara sengaja ataupun tidak.
Namun kadangkala kita masih menyaksikan adanya manusia yang tanpa sengaja ataupun tidak masih membuang sisa-sisa puntung rokok pada lahan yang hijau dan permai.Kendati tidak dikirimi dengan sisa puntung rokok pun, lahan yang kering kerontang itu pun akan mati dengan sendirinya.
Sikap kita yang kadangkala masih ” sekenek-kenek ” (Seenak perut) ini membuktikan bahwa kita sebagai manusia tidak bisa mencintai hak hidup alam secara baik dan benar.  Kita memang harus mengakui tidak bisa menghargai eksisitensi alam sebagaimana mestinya.Padahal isi alam ini antara lain kayu memiliki makna dalam memberikan pencerdasan dan pencerahan bagi kita sebagai manusia moderen. Begitu banyak produk hutan dan alam yang telah dinikmati dan ternikmati oleh manusia dalam menjalani kehidupan dimuka bumi ini.
Harus kita akui masih ada kawan, tetangga atau masyarakat kita yang hidup dan berpendapatan dari berjualan kayu untuk menyambung kehidupannya.
Alam telah begitu banyak memberikan kemakmuran dan kesejahteraan pada kita sebagai manusia dan penghuni bumi ini. Namun sikap rakus dan liar serta pikiran purba kita membuat kita lupa (melupakan) untuk berterima kasih kepada alam. Memberikan hak hidup kepada alam tanpa harus melakukan perusakan secara tidak wajar dan serampangan merupakan bentuk terima kasih kita kepada alam. Dan jangan sampai alam memberontak, kita baru sadar dan tersadar. Dan yang harus diingat pemberontakan ala alam lebih dashyat daripada pemberontakan ala manusia.
JUMAT, 18 September 2015
Jurnalis       : Rusmin Toboali
Foto            : Koleksi CND
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...