Sri Edi Swasono : Kita Kehilangan Jati Diri Bangsa

Sri Edi Swasono

JAKARTA—Acara peringatan HUT RI Ke-70 yang diadakan oleh Gerakan Pemantapan Pancasila pada hari Selasa siang (18/8/2015) di Gedung Granadi, Rasuna Said, Jakarta, nampak hadir Guru besar Universitas Indonesia (UI), Sri Edi Swasono.

Kehadirannya dalam acara tersebut adalah untuk melakukan presentasi Sistem Ekonomi Indonesia. Dalam presentasinya, ia menyampaikan “Ada inkonsistensi, kalau dilihat dari cita-cita buat apa negara ini didirikan, untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, terasa perjalanan bangsa ini tidaklah mudah”

Menurutnya, ketika batang tubuh UUD 1945 mengalami perubahan mendasar, sehingga sistem ketatanegaraan kita berubah drastis, Antara lain, MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara, Presiden/Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat, demikian juga Gubernur, Bupati, Walikota.

“GBHN (Garis Besar Haluan Negara) ditiadakan, otonomi daerah dibuka lebar,” ujarnya.
Sri Edi juga menyampaikan bahwa kegalauan terasa semakin meluas setelah 17 tahun reformasi. “Perubahan UUD 1945 pada 2002 telah melandasi tumbuhnya berbagai kegalauan ini, sebab, antara Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, hasil perubahan tidak sinkron, kita telah kehilangan jati diri Bangsa,” jelasnya.
Tanpa disadari, sambung Sri Edi, kita semakin jauh dari falsafah dan dasar negara Pancasila,  Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketimpangan sosial yang makin melebar, kebersamaan semakin meredup, sementara individualisme semakin meluas.

Dalam kesempatan ini, Sri Edi juga menyentil masalah Gerakan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Jokowi. Menurutnya, Gerakan Revolusi Mental tersebut adalah indikasi kegalauan yang mendalam seorang Presiden. ”Kalo istilah revolusi, ya harus dilakukan dengan cepat, bukan alon alon asal kelakon” ujar Ketua Dewan Penyantun Institut Seni Indonesia.

Ia berharap Ditengah tengah kian terpuruknya Negeri ini, sebagai peringatan keras buat Jokowi. Harus menumbuhkan kesadaran bahwa Pancasila adalah final. “Semoga kurun waktu sampai 2019, dapat dimanfaatkan untuk meletakan dasar-dasar ‘revolusi mental’ itu kepada kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai semangat dan tujuan untuk apa negara ini didirikan,”

Yang tak kalah penting adalah, bahwa Indonesia memiliki sistem sendidi. Memiliki dasar Pancasila yang sudah final. “Insya Allah jika semuanya sadar untuk kembali pada semuanya itu, maka Trisakti akan terwujud.” tutupnya.

Baca juga berita sebelumnya :
Try Sutrisno : Jangan Pernah Merubah Apalagi Menyingkirkan Pancasila
Sekjen GPP : Reformasi Membiarkan Komunis Tumbuh dan Menyaingi Pancasila

SELASA, 18 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa
Foto : Adista Pattisahusiwa
Editor : Gani Khair

Lihat juga...