Di sini letak tantangan utama: memastikan perhatian internasional terhadap solusi dua negara tidak tergeser dinamika geopolitik baru yang memecah fokus kolektif. KTT negara-negara Arab dan berbagai pertemuan internasional telah menegaskan kembali dukungan terhadap Palestina. Termasuk tuntutan gencatan senjata, akses kemanusiaan, dan perundingan damai yang kredibel.
Data PBB menunjukkan jutaan warga Palestina hidup dalam pengungsian. Krisis kemanusiaan berulang. Korban sipil terus meningkat. Tanpa dorongan berkelanjutan di PBB dan forum multilateral, komitmen tersebut berisiko menjadi simbolik. Terutama jika negara-negara pendukungnya terseret ke isu-isu lain yang menguras energi politik.
Indonesia memiliki posisi strategis. Negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, anggota penting OKI. Salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB dari negara berkembang. Indonesia dapat memainkan peran jembatan antara dunia Islam, negara berkembang, dan komunitas internasional yang lebih luas.
Dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara, termasuk kesiapan kontribusi dalam misi perdamaian jika mandat internasional terbentuk, merupakan sinyal komitmen terhadap Palestina tidak boleh dikalahkan fragmentasi isu global. Sikap tegas Indonesia terhadap pengakuan sepihak Somaliland juga konsisten dengan upaya menjaga prinsip hukum internasional yang sama yang menjadi dasar tuntutan keadilan bagi Palestina.
Bagi komunitas Muslim internasional, tantangannya adalah menjaga fokus strategis dan terus mengarusutamakan isu kemerdekaan Palestina. Bahkan ketika isu lain bermunculan. Solidaritas terhadap Somalia dalam isu Somaliland dan keprihatinan atas Venezuela tidak seharusnya mengurangi tekanan kolektif terhadap penyelesaian konflik Palestina.