Pendidikan terintegrasi yang memadukan sains modern dengan ilmu dan etika Islam menawarkan jalan keluar strategis. Model ini tidak berhenti pada transmisi dogma atau hafalan teks. Tetapi mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi sains, matematika, dan teknologi. Sekaligus membangun karakter dan visi keislaman yang inklusif.
Targetnya adalah lahirnya generasi Muslim yang mampu bersaing masuk universitas-universitas terbaik dunia. Berkontribusi dalam riset global, dan sekaligus memiliki kepekaan moral berbasis nilai Islam. Menjadi pemimpin dan pengambil keputusan kebijakan publik pada banyak sektor modern.
Dalam jangka panjang, kelompok terdidik ini akan menjadi agen dialog antarperadaban, mengikis islamofobia melalui interaksi akademik, profesional, dan kultural yang damai.
Sejarah menunjukkan bahwa ide, ilmu pengetahuan, dan nilai moral menyebar jauh lebih dahsyat dibandingkan kekuatan militer. Ia bekerja pada ranah kesadaran, bukan paksaan. Kekaisaran dan rezim politik runtuh bersama senjatanya. Tetapi nilai yang diterima secara rasional dan etis justru bertahan lintas generasi dan peradaban.
Jalur kedua yang tidak kalah strategis adalah penguatan ekonomi halal. Secara demografis, umat Islam berjumlah sekitar 1,9–2 miliar jiwa atau hampir seperempat populasi dunia. Proyeksi Pew Research Center menunjukkan proporsi ini akan terus meningkat hingga mendekati 30 persen pada 2050.
Dari sisi ekonomi, laporan Global Islamic Economy menyebutkan nilai pasar industri halal global melampaui 2 triliun dolar AS per tahun. Sektor makanan dan minuman halal sebagai kontributor terbesar. Pertumbuhan ekonomi halal secara konsisten berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Bahkan di negara-negara non-Muslim.