G30S PKI, PAREGREG, DAN EKSPANSI KEKAISARAN CINA

Oleh: Abdul Rohman

Apa kaitan antara Paregreg (perang saudara Majapahit) dengan G30S/PKI tahun 1965?. Buku “G30S/PKI: Soekarno-Soeharto Berenang di Antara Dua Karang” ini mengupas keterkaitannya. Juga perbenturan geopolitik antara nusantara dan kekaisaran Cina yang beberapa kali berulang.

Merujuk studi I Gusti Phalgunadi dan Slamet Mulyana, Victor M. Fic (sejarawan Kanada asal Yugoslavia) mengungkapkan background perang Paregreg/ perang saudara Majapahit (1406) adalah kompetisi kekuasaan antar kawasan. Sebuah benturan geopolitik antara Kekaisaran Cina dan Nusantara. Kekaisaran Cina berambisi menaklukkan imperium Majapahit sebagai pengendali nusantara.

Untuk mengusai nusantara, kekaisaran Cina melancarkan dua proyek strategi disintegrasi. Pada lingkar luar —kerajaan-kerajaan/ pangeran-pangeran yang secara geografis berjauhan dari pusat kerajaan Majapahit—, diberi status sebagai raja bawahan oleh kekaisaran Cina. Kerajaan-kerajaan itu juga didukung untuk memisahkan diri dari negara induk (Majapahit).

Sedangkan untuk menusuk pusat imperium Majapahit, kekaisaran Cina memberi status raja bawahan kepada “Raja Timur” Wirabhumi dari Blambangan. Kekaisaran Cina mengakui klaim Wirabhumi atas Mahkota Majapahit. Cina juga memberikan dukungan diplomasi maupun penggunaan kekuatan militer melawan Raja Majapahit Wikramawardhana.

Wikramawardhana dibantu Bhre Tumapel dan Bhre Hyan Parameswara dapat menundukkan Wirabhumi dan sekutu militernya dari Cina. Namun Paregreg telah menenggelamkan nusantara kedalam perang saudara berkepanjangan. Paregreg telah memicu polarisasi dan kemudian disintegrasi yang hebat dari masyarakat nusantara.

Paregreg dan disintegrasi negara-negara lingkar luar itu telah menusuk Majapahit secara bersamaan. Sehingga menyebabkan kemunduran dan bahkan “kematian” Majapahit. Para sejarawan pada zamannya melukiskan pudarnya suprastruktur peradaban nusantara yang gemilang itu sebagai “sirno ilang kertaning bumi” (hilang lenyap ditelan bumi).

Merujuk analis Vic itu, Kudeta PKI 1965 merupakan perulangan Paregreg yang berhasil meluluhlantakkan nusantara. Paregreg merupakan buah proyek disintegrasi kekasisaran Cina atas Majapahit.

Sedangkan kudeta PKI 1965, Victor M. Fic mengemukakan telaahnya jika peristiwa itu sebagai konspirasi antara Aidit dan Mao Tse Tung. Mao adalah kaisar Komunis Cina. Pada saat itu (tahun 1965) poros komunis internasional dikendalikan Cina.

G30S/PKI dan Paregreg bukan satu-satunya peristiwa upaya dekonstruksi kedaulatan nusantara melalui perbenturan geopolitik. Peristiwa itu merupakan 7 peristiwa besar upaya dekonstruksi kekuasaan asing atas nusantara.

Pertama, ekspansi Kerajaan Cola Mandala India atas hegemoni Sriwijaya. Almarhum Dr. Nurcholis Madjid dalam buku “Indonesia Kita”, menyunggung secara sekilas bahwa serangan itu memerosotkan kemampuan Sriwijaya dalam mengukuhkan kedaulatannya di nusantara. Ekspansi Cola Mandala dapat kita catat sebagai peristiwa pertama benturan geopolitik antara nusantara dengan kawasan luar. Dalam hal ini dengan India (saat ini).

Benturan kedua adalah dengan Kubilaikhan yang menguasai kekaisaran Cina. Khubilai Khan adalah cucu Jenghis Khan, pendiri kekaisaran Mongol yang terkenal sebagai penakluk imperium-imperiun adikuasa pada zamannya. Imperium Mongol mampu menaklukkan kekaisaran Cina, Persia dan mendaratkan pasukannya hingga Eropa. Penaklukan terhadap imperium-imperium besar dilakukan secara mengesankan dengan capaian-capaian kemenangan.

Berbeda dengan ekspedisi dalam penaklukan nusantara yang dilakukan pada masa transisi Kediri-Majapahit. Ekspedisi itu berakhir dengan kegagalan besar. Pasukan Mongol berhasil dipukul mundur oleh strategi yang dilancarkan Raden Wijaya. Pasukan Mongol dipukul atas dukungan Adipati Sumenep, Arya Wiraraja.

Gagalnya ekspansi Mongol memunculkan Kerajaan besar di nusantara. Kerajaan/kekaisaran Majapahit. Pada era ini lahir masa keemasan pada saat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih (perdana menteri) Gajah Mada.

Gajah Mada dikenal dengan sumpah palapa. Jika menengok dua peristiwa besar sebelumnya (serangan Cola Mandala-India dan Kubilai Khan), ancaman geopolitik berasal dari India dan Cina. Maka Gajah mada membuat cincin pertahanan. Bahwa lingkar luar nusantara tidak boleh menjadi batu pijakan dari imperium-imperium besar itu dalam menguasai nusantara.

Sumpah palapa bisa dikatakan sebagai cincin pertahanan sekaligus early warning system (sistem kewaspadaan dini). Bahwa ketika lingkar luar nusantara (Tumasik, Formosa, Tailand, dll) dikuasai kekuatan asing dan tidak sejalan dengan nusantara, itu akan menjadi pintu meruntuhkan nusantara. Maka kawasan-kawasan itu harus dikonsolidasi dalam kebersamaannya dengan Majapahit. Konsep ini pada era orde baru direplikasikan dalam bentuk “Asean Way”.

Dua benturan itu (Cola Mandala atas Sriwijaya dan serangan Kubilaikhan) tidak berhasil benar-benar menjadikan nusantara sebagai negara bawahan. Bahkan memunculkan penguasa nusantara yang hegemonik, yaitu Majapahit. Dengan cincin pertahanannya di lingkup Asia Tenggara. Situasi ini tampaknya membuat kekaisaran Cina mengubah strategi dalam menakhlukkan nusantara.

Kekaisaran Cina tidak lagi melakukan benturan fisik secara langsung atas nusantara. Melainkan melancarkan politik disintegrasi yang kemudian berbuah Paregreg (perang saudara Majapahit). Paregreg merupakan upaya ke-3 yang tercatat sejarah sebagai upaya kooptasi nusantara oleh kekuasaan di luarnya. Dalam hal ini oleh kekaisaran Cina.

Paregreg memerosotkan kekuatan suprastruktur kekuasaan nusantara (kerajaan pengendali nusantara). Maka masuklah kolonialisme eropa dan mencengkeram secara ekonomi dalam jangka panjang. Kolonialisme Eropa bisa kita catat sebagai upaya ke-4 kekuatan ekternal dalam menundukkan nusantara.

Upaya ke-5, ekspansi fasisme Jepang atas nusantara. Pada era ini, bangsa nusantara juga tidak bisa berdaulat atas dirinya sendiri. Melainkan di bawah kekuasaan politik, militer dan ekonomi oleh Jepang.

Berikutnya upaya suubordinasi nusantara oleh kekuatan di luarnya dilakukan oleh komunisme Soviet. Melalui peristiwa pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948. Keberhasilan kepemimpinan PKI Soviet akan menjadikan nusantara sebagai subordinat dari komunisme internasional di bawah kendali Soviet. Peristiwa kudeta PKI madiun merupakan upaya ke-6 dari benturan geopolitik antara nusantara dengan kekuatan eksternal.

Subordiansi berikutnya (ke-7) adalah komunisme internasional berporos RRC pada tahun 1965. Peristiwa itu menjadi peristiwa kelam bagi bangsa Indonesia. PKI (yang dikendalikan oleh komunisme internasional berporos di RRC) berusaha mengambil alih kekuasaan Indonesia. Keberhasilan upaya ini akan menjadikan Indonesia berada dalam suboordinasi komunis yang kala itu berporos ke RRC.

Mengacu telaah Victor M Fic, bisa dikatakan peristiwa kudeta PKI 1965 merupakan perulangan proyek Paregreg (perang saudara Majapahit). Motifnya sama. Kendali kekuasaan nusantara melalui proyek disisntegrasi (perang antar elemen nusantara). Aktornya sama. Kekaisaran / penguasa RRC.

Lantas bagaimana kita seharusnya memaknai G30S/PKI yang kita peringati setiap tahun itu?.

Pertama, peristiwa itu merupakan pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk setia dan bangga pada idiologi bangsanya. Idiologi yang kuat merupakan penyangga tegaknya sebuah peradaban besar. Kuatnya kedaulatan nusantara salah satunya ditentukan pada kesetiaan warganya terhadap idilogi bangsanya.

Kedua, bangsa Indonesia harus menyadari bahwa keberadaannya dalam kepungan beragam kepentingan global yang setiap saat bisa jadi akan memunculkan benturan geopolitik. Indonesia harus memiliki early warning system dalam mengantisipasi potensi benturan geopolitik. Sebuah konsep yang harus dipahami dan dimengerti oleh segenap warga negara. Apa yang menjadi HTAG (Hambatan-Tantangan-Ancaman-Gangguan) bagi bangsa Indonesia dari masa lalu-sekarang dan masa mendatang. Pemahaman itu akan terus menjaga kesiapan bangsa ini dalam menghadapi kemungkinan perulangan benturan politik.

Selebihnya bisa dibaca dalam buku, “G30S/PKI: Soekarno-Soeharto Berenang di Antara Dua Karang”. Bisa didapatkan di market place “Kemang Book Store” dalam link

Lihat juga...