Lima strategi jitu kudeta PKI 1965, alhamdulillah gagal
Admin
JAKARTA, Cendana News – Sebagai sebuah kudeta, peristiwa G30S PKI 1965 sudah disiapkan dengan menyusun strategi yang jitu.
Dari sejarahnya terungkap ada lima strategi jitu PKI dalam upaya melakukan kudeta. G30S PKI 1965 hanya salah satu bagiannya saja.
Kelima strategi kudeta PKI 1965 itu meliputi operasi militer dan pemanfaatan situasi negara, propaganda serta penyebaran isu.
Kelima strategi kudeta PKI 1965 itu pertama-tama karena melihat kondisi kesehatan Presiden Soekarno yang terus memburuk.
Kesehatan Presiden Soekarno yang makin memburuk pada Agustus 1965, membuat PKI merasa harus segera melakukan langkah nyata sebelum terlambat.
Untuk itulah kemudian PKI segera menyusun skenario dan strategi untuk melakukan kudeta merebut kekuasaan.
Mengutip kanal YouTube Cendana TV, ada lima strategi PKI dalam upaya kudeta pada tahun 1965 itu.
Pertama, mempersiapkan rencana operasi gerakan militer dan politik secara tertutup.
Kedua, propaganda publik, dan ketiga penciptaan politik kesan bahwa gerakannya merupakan agenda presiden.
Keempat, adalah test case kesiapan pimpinan TNI AD, dan kelima netralisasi potensi penghambat gerakan.
PKI melancarkan kelima skenario itu serentak untuk memecah konsentrasi pihak lawan, yaitu ABRI dan kalangan nasionalis religius.
Harapannya, agar ABRI dan kalangan nasionalis religius tidak segera menyadari adanya upaya perebutan kekuasaan oleh PKI.
G30S PKI 1965 merupakan bagian strategi pertama, yaitu operasi gerakan militer dan politik secara tertutup.
Dalam strategi pertama ini, operasi militer dilakukan dengan pembersihan pimpinan TNI AD yang tidak mendukung PKI. Dan, gerakan politik untuk mengganti Kabinet Dwikora.
Operasi pembersihan pimpinan TNI AD itulah yang kemudian meletuskan Gerakan 30 September 1965 PKI. Enam jenderal TNI AD dan satu perwira pertama diculik dan dibunuh.
Sementara itu sebagai pelaksana gerakan militer, PKI memanfaatkan perwira atau anggota satuan-satuan militer binaan Biro Khusus PKI sejak tahun 1964.
Di antaranya adalah Letkol Infantri Untung, Danyon Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden, Kolonel Infanteri A Latif dan Brigif-1 Kodam 5 Jaya.
Dan, Mayor Udara Suyono, Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan P3AU Halim.