Mereka terbaring di jalan raya. Sebagian besar tubuhnya hancur. Tanpa muka. Isi kepalanya telah kosong. Berhamburan seperti ledakan.
Sundari telah mendapat Kartu Keluarga yang baru. Pak RT yang mengantarkan ke rumahnya. Sudah sebulan dia menunggu. Petugas kecamatan beralasan datanya harus dilaporkan terlebih dahulu ke kabupaten. Inilah yang membutuhkan waktu lama.
Sundari membaca dengan teliti. Jenis pekerjaannya telah berubah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia memang baru diangkat menjadi PNS. Rupanya, data Kartu Keluarga tersebut masih ada kesalahan penulisan pendidikan atas namanya.
Sifat perfeksionis dalam dirinya seolah dibangkitkan. Bila ada hal yang mengganggu, dirinya tak akan tenang. Helaan nafas panjang dihembuskan. Sudah bisa dipastikan, dia harus mendatangi kantor kecamatan lagi. Menunggu sebulan kemudian untuk mendapatkan Kartu Keluarga yang baru.
“Tolong datanglah ke kantor kecamatan. Aku menjumpai kesalahan data di Kartu Keluarga. Luangkan waktu sebentar saja. Izinlah pada atasanmu. Lagi pula kau bekerja dari rumah.”
“Bisakah tidak hari ini? Besok-besok masih bisa diurus.”
“Mengapa kau kerap kali menunda-nunda?! Aku harus segera menyerahkan Kartu Keluarga yang baru ke kantor.”
“Esok saja, aku akan mengurusnya.”
Bagi Lingga, ini bukanlah masalah besar. Sementara di sisi lain, ini bukan hanya sekadar masalah kesalahan penulisan pendidikan di Kartu Keluarga yang memancing amarah Sundari. Dirinya acapkali menelan kekecewaan pada suaminya. Inilah puncak kemarahannya.
Berkali-kali dirinya mendapati Lingga sering menunda-nunda dalam beberapa hal. Ini hanya salah satu di antaranya. Kartu Keluarga kemarin saja dia yang mengurus. Sundari adalah wanita yang cekatan sedangkan Lingga adalah lelaki yang lamban.
Sundari menstarter motor dan berangkat sendiri ke kantor kecamatan. Sedari awal dia langsung menancap gas dengan kencang. Lalu mengemudi seperti orang kesetanan. Dirinya lupa bahwa raga hanya diberi satu kesempatan untuk dihuni jiwa. Menghirup aroma dunia. Tak ada lagi kesempatan kedua.
Sundari membiarkan amarah membakar dirinya.
“Lelaki pemalas! Lelaki lamban!” Sepanjang perjalanan mulutnya merapal umpatan. Menghardik perilaku suaminya yang tak berubah sedari dulu. Bila amarah sudah tak dapat dikendalikan, bisakah berpikir rasional?
Setengah jam telah berlalu. Gapura kantor kecamatan sudah terlihat. Sundari bergegas memasukinya. Tampak barisan parkir motor yang jumlahnya tak terlalu banyak.
Beruntung saat itu tak banyak antrean. Tanpa menunggu lama, Sundari dapat segera mengurus perbaikan Kartu Keluarga. Setidaknya, di kantor kecamatan kali ini tidak menambah amarah yang bergemuruh di palung dada Sundari.
Setelah semua usai, dia langsung pulang ke rumah. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Walaupun dirinya masih bekerja dari rumah, bukan berarti tak ada pekerjaan.
Malah menumpuk-numpuk bahkan tak mengenal batas waktu. Dirinya bahkan lebih senang bila tiba giliran jadwal masuk kantor. Justru beban pekerjaannya masih terbilang lebih manusiawi.
Efek pandemi telah menyisakan perubahan kebijakan di kantornya. Kini dirinya hanya seminggu tiga kali masuk kantor. Selebihnya bekerja dari rumah. Instansi tempatnya bekerja tidak berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Jadi bila dilakukan secara work from home masih tetap bisa berjalan dengan lancar.
Motor itu masih melaju dengan kencang. Bahkan berkali-kali Sundari menyalip mobil atau pun truk.
Bus besar melintas di sampingnya.
Tiupan angin yang dihasilkan membuat tubuh langsing itu sedikit oleng saat mengemudikan motornya. Hal itu tak membuat Sundari menurunkan kecepatan.
Kini Sundari tak ada penghalang. Hanya ada motor di kanan kirinya. Dia kembali menambah kecepatan. Bahkan dirinya melaju di tengah jalan.
Tampak dari arah berlawanan ada sebuah trailer. Melihat hal itu Sundari sedikit menepikan motornya. Tiba-tiba sebuah motor yang dikendarai dua gadis seusia anak SMA hendak mendahului trailer dari sisi kiri. Mereka berdua tidak mengenakan helm.
Motor yang dikendarai dua gadis seusia anak SMA itu tampak oleng lalu jatuh ke kanan. Tepat berada di kolong di antara roda depan dan roda belakang trailer.
Bres! Suara benda terlindas trailer dalam hitungan detik. Sundari, trailer, dan dua gadis seusia anak SMA itu berada pada satu garis lurus. Percikan darah, daging, dan otak berhamburan mengenai baju dan motor Sundari dari sisi kanan.
Seketika dirinya kaget dan mengurangi kecepatan. Lalu perlahan menghentikan motornya di pinggir jalan.
Jeritan-jeritan mengerikan dari orang-orang terdengar bersautan. Tubuh Sundari ambruk, gemetar, dan lunglai. Dan membiarkan motornya masih terparkir di pinggir jalan raya.
Dari seberang jalan dia menyaksikan dua mayat tergeletak. Mereka terbaring di jalan raya. Sebagian besar tubuhnya hancur. Tanpa muka. Isi kepalanya telah kosong. Berhamburan seperti ledakan.
Salah satu sisi jalan raya itu dipenuhi cincangan daging segar yang ukurannya tak beraturan. Bertabur ceceran otak. Dilumuri aliran darah. Izrail telah mencabut nyawa mereka dalam sekejap.
Trailer itu masih melaju. Sopir tak menyadari telah melindas dua orang. Salah seorang warga mengejar trailer itu menggunakan motor. Akhirnya sopir trailer itu menepikan kendaraannya.
Tak ada orang yang berani menyentuh jasad mereka. Bila sudah menjadi mayat harus menunggu petugas polisi datang. Beberapa orang hanya menutupi jasad-jasad itu dengan koran.
Setengah jam telah berlalu. Dua petugas polisi datang dengan mengendarai motor. Mereka langsung mengamankan sopir trailer, memeriksa jasad, lalu membantu mengondisikan lalu lintas. Tampak salah seorang di antaranya sibuk menelepon.
Tak berapa lama, seorang bapak paruh baya datang lalu menjerit histeris di tepi jalan. Dia adalah orang tuanya. Lelaki itu dihubungi petugas polisi melalui nomor kontak yang tertera pada ponsel milik korban yang telah diamankan warga. Rupanya ponsel itu masih bisa digunakan.
Beberapa warga terlihat menguatkan. Pun seorang petugas polisi. Petugas polisi yang lain menelepon ambulans. Bagaimanapun potongan jasad harus segera dievakuasi, karena kemacetan sudah sangat panjang.
Jalan raya itu adalah jalan provinsi. Banyak kendaraan besar lalu-lalang. Bunyi klakson kendaraan terdengar saling bersautan menyiratkan ketaksabaran. Akhirnya, kendaraan hanya bisa melintas bergantian di salah satu sisi jalan.
“Anakku … anakku ….”
Bapak itu memeluk mayat putri-putrinya. Nada suaranya parau diiringi isak tangis. Air matanya membanjiri jalanan. Batinnya tercabik-cabik. Tatapan matanya hanya berisi keputusasaan.
Dengan tangan yang gemetar, mencakupi cincangan daging dan ceceran otak. Entah apa yang bisa menguatkan yang bahkan tak setiap orang tua sanggup melakukan. Itu adalah wujud kasih sayang pada putri-putrinya. Seolah menggendongnya kembali dalam pangkuan. Mendekapnya dengan kehangatan.
“Anakku sedang terkapar di jalan raya. Aku harus menyelamatkannya. Mengambil setiap puing bagian dari dirinya.” Dia tak membiarkan barang sedikit pun bagian jasad dari putrinya yang hilang. Meskipun mustahil dilakukan.
Seorang petugas polisi tampak sigap membantu proses evakuasi dibantu beberapa warga. Petugas polisi yang lain mengondisikan lalu lintas.
Semua orang yang berada di sekitarnya menyaksikan pemandangan paling memilukan. Siapa pun tak akan sampai hati saat melihat orang yang dicintainya berakhir sedemikian tragis.
Namun bila Tuhan mengiyakan suratan takdir demikian, sepahit apa pun, wayang tetap harus patuh pada Dalang. Sepahit apa pun, tetap harus ditelan. Pun dengan Sundari. Butiran air matanya kian deras membasahi pipi. Kejadian ini membuat dirinya tertampar.
Bagi sang bapak, hidup sudah tak ada artinya sekarang. Rasa sesal kian membuncah saat mengingat akhir kisah antara dirinya dengan salah satu putrinya.
Mengapa harus berakhir dengan pertikaian sebelum ajal memisahkan? Bila saja suratan takdir bisa diubah. Tentu akhir kehidupan indah yang diharapkan.
Anak gadis yang mengemudikan motor itu bernama Sekar. Dia sedang bertengkar dengan ayahnya. Dirinya kecewa karena permintaannya tak kunjung dikabulkan.
Amarahnya meluap-luap. Lalu memutuskan untuk meninggalkan rumah mengajak serta adiknya. Bermaksud mencari udara segar agar emosinya mereda.
Siapa sangka, hal itu mengantarkan mereka pada ajal. Sifat manusia mengantarkannya pada keputusan-keputusan. Lalu keputusan-keputusan itu membentuk sebuah takdir.
Kedua jiwa gadis itu sedang meratapi akhir hidupnya yang tragis. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Tangisan bapaknya yang memilukan kian menyayat hatinya.
Rasa penyesalan begitu menyesakkan dada, terlebih bagi Sekar. Dia tak lagi bisa memeluk bapaknya sembari berkata: maafkan anakmu, Pak. Mengapa pula dirinya mengajak serta adiknya?
Kini menjadikan bapaknya hidup sebatang kara. Menanggung beban berat seorang sendiri di sisa usianya. Tanpa istri, tanpa anak-anaknya.
Belum kering air mata, bila mengingat sebulan yang lalu sang ibu lebih dulu menghadap Sang Kuasa. Kini giliran dirinya dan adiknya. Bukankah jika saling mencintai, ditinggalkan dan meninggalkan itu sama beratnya.
Sundari masih tertegun dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dia tak kuasa mengemudikan motor untuk pulang ke rumah. Tubuhnya masih lunglai.
Beruntung salah seorang warga telah menyuruhnya untuk duduk di pelataran sambil memberi segelas air putih dan beberapa lembar tisu. Tampak bercak darah masih menempel pada baju Sundari.
Ponsel dalam tas Sundari berdering beberapa kali. Dia lalu mengangkatnya. Jantungnya semakin berdebar kencang. Pikirannya berkelindan dengan rasa takut yang mencekam, setelah mendengarkan ucapan, “Sundari, kau ada dimana?! Lingga dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba tak sadarkan diri.” ***
Ivany Ratna, pecinta dunia literasi yang mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Dia telah menulis sebuah novel terbaru berjudul Kalkulator Tuhan. Beberapa buku antologi cerpen bersama juga telah terbit.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.