Menteri ESDM Sampaikan Strategi Hadapi Ancaman Krisis Energi

Admin

JAKARTA, Cendana News – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyatakan perlunya strategi menghadapi ancaman krisis energi di dunia.

Hal tersebut terkait dengan berbagai isu utama bidang energi saat ini.

Menurut Menteri ESDM, isu-isu utama tersebut seperti transisi energi dan adanya program-program menuju net zero emission.

“Antara lain, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan tuntutan dekarbonisasi,” katanya dikutip dari laman kemenesdm, Selasa (5/7/2022).

Kemudian, dia melanjutkan bahwa tantangan kedua adalah pandemi Covid-19 dan ketersediaan energi.

Dan, perang antara Rusia dan Ukraina yang mungkin berlangsung berkepanjangan bisa menyebabkan melonjaknya harga energi.

“Karena itu, perlu langkah-langkah strategis untuk mengatasinya,” kata Arifin.

Menteri ESDM menjelaskan, strategi mengatasi krisis energi antara lain dengan memanfaatkan energi seefisien mungkin.

Dan, melihat alternatif-alternatif sumber energi untuk memberikan kontribusi bagi negara dalam mengatasi krisis.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan hal tersebut saat rapat kerja bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, di Ciawi, Bogor, Senin (4/7).

Dalam rapat tersebut, Kementerian ESDM menyampaikan isu-isu energi yang perlu mendapat dukungan dari Kemenperin.

Di antaranya adalah pelaksanaan efisiensi energi, pengendalian konsumsi BBM dan LPG PSO, serta percepatan pengembangan EBT.

Kemudian, percepatan industri hilirisasi minerba, penerapan standar SNI pelumas, pemanfaatan gas untuk industri, serta evaluasi penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Menteri ESDM juga menyampaikan, bahwa kebijakan sinergi harga gas bumi tertentu untuk industri hingga saat ini sangat terasa manfaatnya.

“Utamanya saat harga gas di pasaran saat ini mencapai sekitar 20 Dolar AS per MMBTU di Eropa,” katanya.

Dia pun berharap, sektor industri bisa memanfaatkan fasilitas harga gas khusus tersebut dengan pertimbangan krisis akibat perang diperkirakan masih berlaku selama satu hingga dua tahun.

Dia menekankan, bahwa hal tersebut juga merupakan kesempatan bagi industri untuk meningkatkan output dan ekspansi.

“Sehingga, bisa memperoleh economy capacity untuk bersaing di pasar internasional,” imbau Arifin.

Sementara itu dalam rapat tersebut, Menperin menilai poin-poin dari Kementerian ESDM merupakan common interest yang juga menjadi fokus Kemenperin.

“Misalnya, terkait isu SNI pelumas dan TKDN khususnya solar panel,” kata Menperin.

Lihat juga...