Krisis Pangan, Kementan Genjot Produksi Bibit Pertanian

Admin

JAKARTA, Cendana News – Menghadapi krisis pangan dan energi global, Kementerian Pertanian saat ini menggenjot produksi bibit pertanian bernilai ekonomi tinggi.

Bibit pertanian bernilai ekonomi tinggi sebagai persiapan krisis pangan itu di antaranya adalah kopi dan dan kakao.

Karenanya, Menteri Syahrul Yasin Limpo meminta jajarannya untuk menyiapkan bibit kopi di tahun 2022 ini sebanyak 3 juta pohon.

Penyiapan bibit kopi sebanyak itu untuk meningkatkan nilai ekspor sebagai upaya menghadapi krisis pangan.

Dia berharap, satu tahun ke depan Indonesia memiliki kekuatan 3 kali lipat dari yang ada saat ini.

“Jumlah produksi benih tidak boleh hanya ratusan ribu, tapi harus jutaan,” kata Mentan, dikutip dari laman pertanian.go.id, Senin (1/8/2022).

Mentan menyampaikan hal tersebut saat kunjungan kerja ke Balai Penelitian Tanaman Industri (Balitri) Sukabumi, Jawa Barat, pekan lalu.

Menurutnya, untuk mewujudkan hal tersebut harus berani membuat terobosan dalam berinovasi dan bekerja tidak lagi dengan cara birokratik.

Berbagai daerah harus bisa melakukan inovasi bibit, sehingga Indonesia yang saat ini menduduki posisi ke-3 produksi kopi, ke depan dengan cepat bisa menduduki posisi pertama di dunia.

“Jangan beralasan tidak ada anggaran sehingga tidak bisa berinovasi dan memproduksi 3 kali lipat, ini cara kerja birokratik,” katanya.

Mentan mengajak agar bekerja dengan nalar dan memanfaatkan potensi dengan maksimal.

Apalagi, sekarang ini dunia lagi bermasalah. Amerika antre makanan, dan Vietnam menutup ekspornya.

“Jadi, tanggung banget kalau produksi kopi Indonesia di urutan nomor 3, kita harus jadi peringkat 1 dunia,” tegasnya.

Mentan juga menginginkan agar komoditas coklat Indonesia yang saat ini berada di urutan kedua di dunia bisa menjadi nomor satu.

Dia menegaskan,  bahwa produksi coklat Indonesia jauh lebih unggul, tahan panas, tidak mudah meleleh, dan rasa pahit menembus jantung  bisa menjadi obat.

“Ke depan kita pun harus terobos agar kakao kita nomor 1 dunia,” kata Mentan.

Selain krisis pangan, Mentan juga menyoroti adanya tantangan global lain berupa krisis energi.

Menurtnya, pertanian menjadi sektor utama yang diharapkan untuk menyiapkan sumber energi baru terbarukan sebagai bahan bakar alternatif.

Dia mengatakan, pembakar naik 3 kali lipat dari sekarang, sementara Indonesia memiliki mesin sendiri, CPO dan kemiri juga ada.

“Kita beli solar mahal Rp10.000, dan solar dari kita produksi hanya Rp6.000. Sawit kita banyak dan harusnya bisa bikin minyak goreng sendiri karena mesinnya ada di sini. Jadi, saya kasih challenge,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry mengatakan pihaknya melalui Balitri siap memproduksi bibit kopi sebanyak 3 juta pohon.

Bibit sebanyak itu nantinya untuk disebar di awal bulan Desember 2022.

Menurutnya, saat ini Balitri memiliki kapasitas produksi bibit kopi sebanyak 4 juta pohon.

Sedangkan saat ini terdapat bibit kopi yang siap disalurkan sebanyak 130 ribu bibit kopi arabika, dan 80 ribu bibit kopi robusta.

“Kita juga telah menghasilkan bibit kakao yang potensi hasilnya 3,7 ton, yang sudah tersebar di beberapa daerah,” kata Fadjry.

Dia juga mengatakan, tahun depan seluruh balai yang ada di daerah menghasilkan benih berstandar tersertifikasi.

“Sehingga, biaya pengiriman jauh lebih murah dan kita akan membangun kebun induk untuk menghasil benih sumber di setiap provinsi,” pungkas Fadjry.

Lihat juga...