Semarang Optimalkan Lahan Terbuka Hijau Atasi Suhu Panas
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Suhu udara di Kota Semarang yang kian meningkat, tercatat pada Oktober 2021 berdasarkan data BMKG, suhu bisa mencapai 34 derajat celcius, sehingga perlu segera diantisipasi. Salah satunya dengan mengoptimalkan lahan terbuka hijau, berupa hutan kota yang ada di Kota Semarang.
“Kota Semarang memiliki 13 hutan kota yang tersebar di sejumlah titik, termasuk di antaranya di Hutan Tinjomoyo, Hutan Gunung Talang, kemudian di Komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), dan lainnya,” papar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono, saat dihubungi di Semarang, Rabu (27/10/2021).
Dijelaskan, saat ini kondisi hutan kota di Kota Semarang ada yang sudah optimal, namun ada juga yang perlu perawatan lebih lanjut.
“Hutan kota ini penting. Tidak hanya sebagai paru-paru kota yang berfungsi menyerap karbon dioksida untuk diubah menjadi O2 atau oksigen, namun juga diharapkan mampu mengantisipasi suhu udara di Kota Semarang yang meningkat,” ujarnya.
Pihaknya juga menggandeng sejumlah pihak eksternal, dalam peningkatan jumlah ruang terbuka hijau berupa hutan kota. Termasuk di kalangan perguruan tinggi, yang memiliki lahan kampus cukup luas.
“Misalnya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), atau Universitas Sultan Agung Semarang (Unissula). Ketiganya ini memiliki lahan kampus yang luas, sehingga dapat dioptimalkan sebagai hutan kota,” tambahnya.
Sejalan dengan upaya revitalisasi hutan kota, hingga penambahan ruang terbuka hijau, langkah senada juga dilakukan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang.
“Cuaca panas di Kota Semarang sebelumnya sudah coba kita atasi dengan penempatan kipas angin pendingin di jalan-jalan protokol. Setidaknya bisa mengurangi hawa panas yang dirasakan pengendara saat berhenti di traffic light,” terang Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali.
Selain itu, pihaknya juga terus menambah jumlah pohon peneduh di pinggir jalan.
Dijelaskan, penghijauan jalan tersebut juga untuk menggantikan sejumlah pohon di Kota Semarang yang roboh terdampak cuaca ekstrem.
Diketahui, beberapa waktu lalu belasan pohon yang ada di Kota Semarang roboh karena imbas dari cuaca ekstrem.
Menurut Ali, Kepala Disperkim Kota Semarang, puluhan pohon roboh dalam sehari karena diterjang angin kencang.
“Dari catatan kita, hingga menjelang akhir Oktober 2021 ini sudah ada 33 pohon roboh tertiup angin kencang. Termasuk hari ini, (Rabu -red), juga ada pohon tumbang di sejumlah titik di Kota Semarang,” lanjutnya.
Saat ini, pihaknya fokus pada penanaman jenis pohon pule dan tabebuya. Selain rindang dan kokoh, pohon tersebut juga diharapkan mampu mempercantik jalan protokol di Kota Semarang.
“Tabebuya ini memiliki bunga yang indah, jadi kalau pas mekar, jadi mempercantik jalan,” tandasnya.
Dirinya menegaskan, penghijauan terus dilakukan sebagai bentuk pelestarian dan mempercantik kota, sekaligus untuk menyejukkan cuaca di Kota Semarang.