38 Disabilitas di Sikka Ikuti Pelatihan Keterampilan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebanyak 38 penyandang disabilitas mulai menjalani pelatihan di berbagai tempat pelatihan yang ditentukan di Kota Maumere, Kabupaten Sikka,Nusa Tenggara Timur.

Saat ditemui di Bengkel Misi PT. Langit Laut Biru,Maumere, para penyandang disabilitas tersebut disebar di tiga unit usaha sesuai minat dan bakat setiap peserta, seperti di bengkel kayu, las dan pengolahan pangan.

“Hari ini kami sudah mulai memberikan pelatihan kepada para disabilitas yang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementrian Sosial, melalui Balai Rehabilitasi Sosial Efata Kupang,” sebut Yohanes Adrianus Betu, instruktur pengolahan pangan lokal saat ditemui di tempat usahanya di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Selasa (26/10/2021).

John, sapaannya, menjelaskan hari pertama pelatihan setiap peserta hanya diberikan penjelasan soal jenis-jenis pangan lokal yang akan diolah dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat.

Ia menjelaskan, selama proses pelatihan selama 16 hari, peserta akan diberikan pelajaran mengenai proses pengolahan pangan lokal yang higienis, yang selama ini belum dilakukan dengan baik.

Instruktur pelatihan pengolahan pangan lokal, Yohanes Adrianus Betu, saat ditemui di tempat usahanya di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Rabu (27/10/2021). –Foto: Ebed de Rosary

“Ada banyak pangan lokal yang diolah dari berbagai bahan yang ada, seperti kelor, sorgum dan lainnya. Semuanya akan diajarkan tentang proses pengolahannya hingga pengemasan,” ucapnya.

John menyebutkan, peserta pelatihan pengolahan pangan terdiri atas 6 orang, yang selama proses pelatihan berlangsung tetap menerapkan protokol kesehatan.

Wilfidus Kolin, instruktur di bengkel kayu mengaku selama hari pertama pelatihan peserta masih diperkenalkan dengan alat-alat dan mesin yang akan dipergunakan dalam membuat mebel dan perlengkapan dari bahan kayu.

Wilfridus menyebutkan, dirinya dipercayakan menangani 9 peserta pelatihan dan proses pelatihan pun disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan peserta, agar bisa memberikan hasil maksimal.

“Selain memberikan penjelasan soal alat-alat kerja dan fungsinya, kita juga langsung praktik ringan menggunakan alat kerja tersebut di hari pertama pelatihan,” ungkapnya.

Wilfridus menerangkan, para peserta nanti ikut bekerja dengan tim dalam membuat pesanan dari pembeli seperti meja, kursi, lemari dan perabotan lainnya yang banyak dipesan.

Ia mengharapkan, agar dengan mengikuti pelatihan tersebut para peserta bisa memiliki bekal keterampilan yang bisa dipergunakan untuk bekerja di perusahaan, atau membuka usaha sendiri.

“Peserta juga bisa melanjutkan praktik kerja di tempat kami hingga benar-benar mahir, bila merasa belum terlalu terampil nanti bisa mengajukan permohonan ke manajemen perusahaan,” sebutnya.

Lihat juga...