Kunci penanganan HIV AIDS adalah kepercayaan dari ODHA
Admin
JAWA TENGAH, Cendana News – Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar mengatakan saat ini jumlah ODHA di provinsi ini mencapai 42.000 orang.
Dari jumlah ODHA di Jateng sebanyak itu, baru 14.528 orang yang aktif mengkonsumsi Antiretroviral (ARV).
“Pemprov Jateng terus berupaya memberikan layanan kepada ODHA melalui 1.086 layanan konseling di 35 kabupaten/kota.” kata Yunita, dikutip dari laman jatengprov, Jumat (2/12/2022).
Dia mengakui, masih perlunya optimalisasi kinerja agar ODHA bisa mendapatkan akses ARV secara mudah.
“Kita perlu memperkuat koordinasi lintas tugas dan lintas sektor untuk perkuat koordinasi KPA kabupaten kota,” kata Yunita.
Yunita Dyah Suminar menyampaikan hal itu dalam rapat koordinasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) se-Jateng di kantor dinas kesehatan setempat, pekan ini.
Turut dalam rakor tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Dalam kesempata itu dia mengatakan, bahwa kunci penanganan HIV AIDS adalah dengan kepercayaan.
Menurutnya, sebelum melakukan penanganan para petugas harus bisa mendapatkan kepercayaan dari orang dengan HIV AIDS terlebih dulu.
Dengan demikian, program 3 zero, yaitu zero penularan, zero kematian, zero diskriminasi, bisa terwujud pada tahun 2030.
Dia menegaskan, kunci masuk penanganan AIDS adalah mendapatkan kepercayaan dari ODHA
“Teman-teman ODHA membutuhkan komunikasi dan kepercayaan. Dukungan moral kita kepada mereka. Baru setelah itu bisa kita capai 3 zero,” kata Taj Yasin.
Wagub menambahkan, petugas medis juga perlu diberi arahan dalam menangani ODHA.
Menurutnya, dengan pemahaman yang tepat petugas medis bisa lebih optimal memberikan layanan kesehatan.
Taj Yasin juga meminta akses informasi layanan kesehatan kepada ODHA harus diperbanyak dan jelas.
Dia ingin, ODHA memperoleh informasi yang cukup supaya mereka mau terbuka.
Wagub juga meminta agar para petugas kesehatan, KPA, serta LSM untuk melakukan jemput bola terhadap ODHA.
Menurutnya, ada beberapa persoalan seperti akses jalan dan tidak adanya identitas ODHA yang harus diselesaikan.
Dia menilai, dengan upaya jemput bola itu ODHA bisa ditangani lebih optimal.