Reuni Kecil di Candi Plaosan

CERPEN SUNARYO BROTO

CUACA cerah. Cenderung panas lewat tengah hari. Langit biru. Hampir tak ada angin berdesir. Tiga sahabat lelaki berkumpul setelah mereka pensiun.

Ada yang sudah lama pensiun, satunya sudah beberapa tahun dan satunya lagi baru saja pensiun. Mereka semua tinggal di Yogya di daerah pinggiran pada sisi yang berbeda.

Ada yang di Selatan, Utara dan Timur. Kalau orang bukan dari Yogya sering bingung pada kosa kata lor Utara kidul Selatan. Patokannya hanya dua, Merapi itu lor, Pantai itu kidul. Barat Timur tinggal menyesuaikan.

Mereka dulu dalam satu tim majalah internal perusahaan. Tapi masa itu sudah lewat. Mungkin lebih dari 25 tahun lalu. Mereka ingin nostalgia.

Mengobrol apa saja seperti dulu saat aktif pada dunia literasi, di antara pekerjaan kantor pada perusahaan manufaktur pabrik kimia. Sebuah komunitas kecil literasi pada perusahaan manufaktur. Sesuatu yang tak biasa.

Belakangan, mereka intens komunikasi via media sosial. Seseorang menyeru, “Dilarang bicara politik. Tak akan ada habisnya he..he.. Aku ingin obrolan yang lebih bermakna supaya kreativitas muncul…”

“Kita bicara dunia literasi dan kreativitas…”

“Kita bicara masa senggang. Kita ini sudah ‘merdeka’ dan lewat masa mencari harta.”

“Kita bicara yang rileks-rileks saja sesuai usia pensiunan.”

“Kita diskusi karya saja. Aku perlu dorongan iklim berkarya. Dari dulu pengin nulis banyak hal tetapi tak jadi satu hal pun ha..ha…”

“Ini kawan sudah banyak karya cerpen dan buku. Ayo saling bergesekan supaya ketularan he..he…”

“Kuncinya hanya satu, keinginan. Tanpa itu nonsen. Kebanyakan alasan he..he..”

Dalam masa pandemi, mereka harus menyiasati kondisi. Kalau biasanya pertemuan dengan makan-makan di sebuah resto. Kali ini mereka mengusulkan dalam bentuk lain.

“Bagaimana kalau kita mengobrol di dekat Candi Plaosan. Itu out door, sambil berjemur. Rumahku tak jauh dari situ. Tiap hari aku melihat candi di antara sawah dan orang lalu lalang. Siluet candi pada senja hari di tengah tanaman padi. Indah sekali.”

“Iya candi itu tak kalah cantiknya dari Borobudur dan Prambanan. Tak banyak yang tahu. Bahkan candi itu perpaduan nuansa Budha Hindu.”

“Iya, kita bisa bicara masa kini dan masa lalu. Tak ada yang meragukan, banyak karya hebat dari masa lalu. Berapa candi bertebaran di sekitar Yogya? Itu semua karya masa lalu.”

Lalu mereka menuju titik itu dalam waktu sama. Udara panas makin nyata. Di perempatan yang memisahkan Candi Plaosan Utara dan Selatan itu lumayan ramai.

Masyarakat seperti biasa lalu lalang melewati jalanan di antara dua candi. Ternyata ada juga pengunjung yang ingin melihat keindahan candi. Mereka berfoto selfi atau saling mematut mencari view dan latar untuk foto. Kalau tidak masa pandemi infonya ramai sekali candi ini.

Mereka bertemu dan mengobrol asyik di sebuah warung sederhana yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Ditemani kuliner lokal intip goreng dan es degan. Ada yang membawa bakpia dan klentang. Nikmat. Kali ini tak ada larangan jenis makanan. Kolesterol, minyak dan gula biarkan lewat.

Kawan yang tinggal dekat Candi Plaosan, namanya Ra, mirip nama Dewa Horus dari Mesir. Tak salah. Dia penikmat sejarah. Makanya bisa nyambung kalau diskusi tentang sejarah.

Dari setting sejarah buku Api di Bukit Menoreh pada era Demak, Pajang dan Mataram tahun 1500-an sampai jauh sebelum itu, era Candi Borobudur dan Prambanan dibangun sekitar tahun 800-an.

Dia tahu riwayat Pati Unus menyerang Portugis, Surowiyoto, Trenggono, Sunan Prawoto sampai Haryo Penangsang yang seharusnya putra mahkota sultan, tetapi seolah menjadi pecundang karena Karebet yang putra mantu naik tahta.

Antar-saudara di kerajaan Islam bisa berlumuran darah. Bahkan cerita era Paraoh Mesir ribuan tahun sebelum Masehi sampai bagaimana kota Roma dibangun oleh Romus dan Romulus.

Padahal mereka bukan dari fakultas sejarah. Mereka hanya pernah berteman sewaktu awal bekerja setelah lulus kuliah dengan minat yang sama, literasi. Lalu berpisah karena jarak dan kegiatan yang berbeda. Setelah mereka pensiun ada kesempatan saling bertemu.

Waktu pertama bertemu. Ra menjadi instruktur yang memberi materi tentang peraturan perusahaan dan kawan yang paling muda, To sebagai calon karyawan baru yang mendapat materi tentang perusahaan.

Mereka sempat berdebat karena apa yang diomongkan di sela waktu presentasi ada yang “provokatif”. Dia bilang, “Untuk apa pada bekerja di sini, di tempat sepi hutan belantara? Meninggalkan kenikmatan hidup di kota? Harus ada alasan dan jauh-jauh mau bekerja. Besok harus punya sesuatu.”

To yang awalnya enggan berangkat dan masih ragu menjadi tersulut oleh nada seperti itu. To langsung tunjuk jari dan memprotes, “Kenapa bapak berkata seperti itu? Bapak harus menumbuhkan semangat. Jangan membikin down yang semangatnya pas-pasan…”

Panjang kali lebar dan tinggi, To tambahi sampai berbusa-busa. Dia juga tak kalah menjawab sampai berbusa-busa. Dia memang pintar bicara. Kelas orientasi karyawan baru menjadi panas. Kelas berganti materi dan mereka sudah melupakan itu.

Eh ternyata di luar menjadi obrolan. Waktu To bertemu kawan yang lebih senior yang sudah bekerja di perusahaan tersebut, ditanya, “Apa tidak minat kerja di sini? Perdebatanmu tidak menguntungkanmu sebagai calon karyawan.”

“Lho kok tahu. Kan itu hanya di kelas?”

“Ya ada yang cerita. Banyak yang tahu. Nanti kalau evaluasi gimana? Di sini tidak diperlukan berbagai perdebatan. Yang diperlukan harmoni dan selaras he..he..”

Tapi teman akhirnya berkata. “Gak pa-pa. Saya bercanda he..he… Tidak sekedar itu penilaian untuk calon karyawan baru…”

Ternyata benar dan To tetap diterima sebagai karyawan. Perdebatan dengan karyawan senior itu menjadi awal perkenalan. Saling menjajagi minat diri. To menjadi tahu ternyata mereka sealumni. Lalu saling berinteraksi.

Pada saat To menulis esai di media komunitas tentang puisi Dingin Tak Tercatat-nya Goenawan Mohammad, Ra memuji dengan kata-kata puitis di surat pembaca.

To saat itu juga heran, di lingkungan industri kimia, puisi masih laku juga dibicarakan. Lalu mereka terlibat dalam kerja bareng menulis pada in house magazine perusahaan.

Kadang mereka dolan bareng. Ra senang foto dan punya kamera berlensa komplet. Dia pun bisa mencetak foto hitam putih dengan membeli peralatan afdruk. To pernah meminjam kamera dan lensa tele 80-200 mm, mendapat medali emas saat lomba porseni di perusahaan untuk foto bertema lingkungan.

Lalu tiba-tiba Ra pergi dan keluar dari perusahaan. Seperti kata-katanya dulu, untuk apa datang di tempat yang sepi ini? Harus berkarya. Mungkin dia sudah berkarya atau kota ini sudah habis dieksplorasi. Lalu tak berapa lama, Ra memberi kabar kalau tinggal di Yogya. To maklum dan tak heran orang macam dia.

Teman satunya, Mu yang paling senior. Rambutnya sudah putih semua. To bertemu Mu di media komunitas, sama-sama senang membaca dan menulis.

Pernah menjadi takmir masjid raya dan aktif di organisasi massa agama. Latar pendidikan teknik dan bekerja di bidang lingkungan hidup sebelum terjun ke Humas. Dia senang menulis feature dan esai.

Kalau menulis feature sosial halus dan detail. Esainya tentang kondisi lingkungan hidup di perusahaan juga bertebaran. Menjadi andalan tulisan feature di media perusahaan setelah pensiun, Mu menikmati hari-harinya di Yogya Selatan.

Mendampingi anak-anaknya menggapai sukses. Ketiga anaknya lulusan universitas ternama di Yogya. Masih rajin membaca buku dan media online. Sering mengutip berita yang penting untuk dikabarkan lagi di media sosial. Hampir tiap pagi olah raga jalan kaki dan menuliskan peristiwa yang ditemuinya sepanjang jalan.

Puas mengobrol, mereka menyusuri candi Selatan. Hanya ada sekitar 9 candi besar yang berdiri. Selebihnya batu berserakan yang mengumpul pada satu area candi perwara. Siap untuk direkonstruksi. Sepertinya ini candi perwara.

Tak ada jejak prasasti dan tulisan di situ. Ada pohon pisang tumbuh di pojoknya. Juga pohon bodi dengan daun yang berbentuk lambang cinta, jantung hati. Selebihnya kebun orang.

Tapi Ra berkata, “Kayaknya ada prasastinya yang sekarang di Museum Jakarta.”

Mereka selingi salat Jumat di masjid kecil dekat candi. Jemaahnya merapat. Banyak jemaah dari kalangan tua. Beberapa warga tak memakai masker. Khutbah hanya singkat. Seusai salat ada pembagian nasi kuning untuk jemaah.

Mereka duduk di sebuah pojokan. Memandang jauh candi Plaosan Utara. Dua bangunan besar didampingi oleh candi pengapit dan banyak candi perwara. Katanya kompleks candi ini sebagai model sebelum membangun Candi Prambanan. Sangat indah.

Mereka mendekat. Nampak relief tentang lelaki di candi satu dan relief perempuan di candi lainnya.
Ada pohon bodi di situ. Masuk ke kompleks Candi Plaosan Lor, ada dua pasang arca dwarapala, penjaga pintu yang saling berhadapan. Sepasang terletak di pintu masuk utara dan sepasang terletak di pintu masuk selatan.

Pada bagian tengah terdapat pendopo berukuran besar. Di bagian timur, ada 3 altar utara, timur dan barat. Di bagian timur terdapat gambar Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya. Bagian utara ada Patung Samantabadhara dan angka Ksitigarba sedangkan bagian barat terdapat gambaran Manjusri.

Candi Plaosan Lor memiliki dua bangunan candi utama, yang memiliki bentuk sama persis. Masing-masing dikelilingi oleh candi perwara yang berjumlah 174, terdiri atas 58 candi kecil dan 116 bangunan berbentuk stupa.

Ada 7 candi berbaris di sisi utara dan selatan candi utama, 19 candi berjejer di sebelah timur kedua candi utama, sedangkan 17 candi berjejer di depan kedua candi utama. Pada masing-masing candi perwara, ada tulisan sebagai keterangan. Nampaknya candi perwara sumbangan dari bawahan raja.

Ada gudang artefak di sisi Utara. Banyak patung yang tengah direkonstruksi. Kebanyakan patung Budha duduk dengan beberapa bagian tubuhnya terpotong. Ada juga patung ganesha.

Lalu mereka berjalan di antara puing batu-batu candi perwara yang berjejer. Ada rombongan pengunjung berseragam kaos kuning. Nampaknya dari jauh seberang pulau.

Mereka heboh bercanda dan berfoto. Di antara batu, banyak juga petugas yang melakukan rekonstruksi. Mereka meneliti satu per satu batu dan kadang harus menambahkan batu baru supaya rangkaian bangunan bisa direkonstruksi tetapi tetap sebagai batu baru.

Jadi kelihatan kalau batu itu bukan bagian dari candi itu. Kadang persoalan timbul, batu candi A baru ditemukan di antara reruntuhan candi B setelah candi A selesai direkonstruksi. Ya harus dibongkar lagi menetapkan batu yang asli tadi. Kapan pekerjaan itu usai?

Mereka berjalan sambil mengobrol. Dari pelataran paling utara dengan banyak patung Budha duduk. Ada sesaji dalam takir janur di sekitar patung. Ada beras kuning dan uang Rp5 ribu atau Rp 2 ribu.

Mereka beristirahat di pojokan candi. Ada pohon yang menaungi. Membayangkan kala itu. Candi Plaosan dibangun pada abad ke-9 oleh Rakai Pikatan, raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya (840-856) yang juga membangun Candi Borobudur dan Candi Sewu.

Rakai Pikatan mempersembahkan bukti cinta yang tulus – tidak mengenal batasan agama, kerajaan dan budaya. Candi Plaosan memiliki teras berbentuk segi empat, tempat semedi, dan dikelilingi parit buatan.

Menariknya, berbeda dengan candi yang lain, permukaan teras pada candi utama Plaosan sangat halus. Fungsi dari Candi Plaosan sendiri dulunya sebagai penyimpanan teks-teks kanonik milik para pendeta Budha.

Gambar relief laki-laki dan perempuan yang seukuran manusia itu melambangkan bentuk kekaguman antara Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dan permaisurinya, Pramodyawardani, putri raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra yang membangun Candi Mendut.

Wangsa Syailendra adalah pengikut agama Budha sedangkan wangsa Sanjaya pengikut agama Hindu. Mereka menikah, saling mencintai dan masih mempertahankan pada agama masing-masing.

Perbedaan agama dan keyakinan tidak memisahkan mereka, tetapi justru saling mendukung dan menguatkan. Rasa cinta mereka tertuang dalam arsitektur candi Plaosan, candi Budha yang mendapatkan nuansa arsitektur Hindu. Dua Candi Kembar beserta relief laki-laki perempuan yang melambangkan kesetiaan cinta mereka.

Puas berdebat dan diskusi. Diselingi interupsi foto selfi. Mereka saling mengagumi kisah Rakai Pikatan dan Pramodyawardani.

Untuk persembahan cinta mereka membangun sebuah candi besar dan indah penuh makna. Adakah kisah mirip hal ini di tempat lain? Ternyata kisah mirip Taj Mahal di India sudah ada di Indonesia pada abad ke 9.

Mereka mengagumi nenak moyang bangsa Indonesia yang tak kalah dengan bangsa lain. Mereka merencanakan tour de candi, mengunjungi candi di sekitar Yogya. Ada lebih dari 24 candi yang bisa dikunjungi. Sesaat terdiam. Mencoba menghayati. Memandang kejauhan. Angin berdesir.

Tapi Ra bergumam, “Masih terjadi perdebatan apakah wangsa Sanjaya itu ada, karena tidak ada dukungan bukti prasasti. Plaosan bisa jadi dipopulerkan Pikatan, tapi semua blue print candi di Dataran Kewu disinyalir dibuat oleh Rakai Panangkaran, kecuali Candi Prambanan.

Liku-liku berbaurnya Hindu dengan Budha di masa itu menjanjikan drama yang intens dan penuh muslihat. Pemilihan lokasi pembangunan Candi Tara di Kalasan, Sewu, Sari, Lumbung, dan Bubrah juga tidak biasa, karena sejak Panangkaran sampai Kayuwangi, mereka bersemayam di Dataran Kedu.

Raja yang tercatat mulai bersemayam di Lembah Kewu (Kalasan-Prambanan) adalah Balitung, Wawa, Tulodhong, dan Mpu Sindok yang memboyong kerajaan Mdang ke Jombang…”

Ketiganya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Membayangkan suasana saat itu. Untuk memecah suasana, tiba-tiba To berkata, “Ada buku lama 2017, Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma.

Indah sekali Seno menuliskannya. Penggambaran sempurna dari seorang wanita dengan nama sederhana, Drupadi. Dari kecantikan di atas mimpi, kehidupan dewi di istana, dijadikan sayembara sampai penderitaan berbagi cinta dan dipermalukan tiada tara untuk taruhan judi dadu oleh suaminya.

Rasanya komplet penggambarannya. Ada prosa dan puisi. Ada kutipan dan catatan kaki. Ada deskripsi. Juga dialog-dialog kecil bumbu penyedap dan satu dua contoh penggambaran situasi.

Ada cuplikan yang sarat makna untuk mempersingkat cerita. Ada sudut pandang untuk mengakhiri drama paling masyhur dari epik Mahabarata di sebuah gunung tinggi bersalju dan sepi. Seno memang kampiun bercerita.

Dalam bayangan To, kalau serius Ra bisa menuliskannya seperti itu dengan latar Candi Plaosan yang sudah menjadi kampung halamannya. Bisa dengan prosa dan puisi. Juga mengutip satu dua prasasti.

Wow betapa indahnya, Mu juga mendukung. Mereka sudah saling tahu kekhasan tulisan masing-masing. Dia langsung menyanggupinya untuk sebuah karya yang dilombakan pada Dewan Kesenian sebuah kota.

Kali ini dia melanggar apa yang pernah diceritakan, mengikuti kompetisi. To dan Mu juga mulai mengais-ngais bahan. Siapa tahu bisa jadi cerpen atau puisi. Yang jelas Mu langsung menuliskan feature-nya di media sosial.

Mereka saling menyemangati tentang iklim berkarya. Dalam zona nyaman masa pensiun, mereka masih memerlukannya. Kalau tidak ingin waktu berlalu begitu saja.

Daun-daun luruh ditiup angin. Pengunjung pada pulang. Matahari sore masih agak garang. Mereka berpisah menuju jejak awal datang.

Mu kembali ke Selatan menyusun rencananya. Ra menengok proyek kecilnya, menanam tembakau di Manisrenggo.

To melanjutkan perjalanan ke Timur, mudik pulang kampung yang tertunda karena pandemi corona. ***

Buat Raga Affandi dan Mudjib Utomo

Sunaryo Broto, cerpenis, pegiat literasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang pernah mengabdi di Pupuk Kaltim, Bontang.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...