Budidaya Tanaman Bumbu Cara Penuhi Bahan Pelengkap Kuliner Tanpa Membeli

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Varian olahan kuliner tradisional semakin bercita rasa lezat dengan penambahan bumbu. Kebutuhan pelengkap kuliner tradisional membuat warga memilih membudidayakan tanpa harus membeli.

Lisdaryanti, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut bumbu berbahan segar lebih lezat untuk masakan. Tanpa adanya lahan pekarangan luas, budidaya bisa dilakukan memakai polybag. Yang bisa dibudidayakan berupa lengkuas, jahe, kencur, kunyit hingga lada perdu.

Budidaya tanaman bumbu sebut Lisdaryanti bagi masyarakat pedesaan sangat vital. Pasalnya tradisi dalam sejumlah acara tradisional seperti pernikahan, syukuran identik dengan penyiapan kuliner.

“Saat menyelenggarakan kenduri syukuran banyak dibutuhkan kunyit, lengkuas dan jahe bisa disediakan dari kebun dan pekarangan sehingga tanpa membeli agar dana bisa dialokasikan untuk membeli kebutuhan lain. Bahan yang segar langsung dipetik dari kebun juga memiliki cita rasa yang kuat untuk bahan makanan dibanding bumbu kemasan,” terang Lisdaryanti saat ditemui Cendana News, Sabtu (7/8/2021).

Lisdaryanti menyebut kearifan lokal masyarakat pedesaan dalam menyiapkan kuliner erat dengan bumbu. Sebagai cara memperbanyak tanaman bumbu terutama berbentuk rimpang ia melakukan pemencaran, langkah memperbanyak rimpang jahe, kunyit, lengkuas, kencur. Agar bisa menjadi tanaman multi manfaat ia menanam di halaman sekaligus sebagai pagar pembatas dengan jalan.

Warga Desa Pasuruan lainnya, Leginah, menanam berbagai tanaman bumbu. Jenis tanaman bumbu lada perdu bahkan dibudidayakan memakai tekhnik polybag. Sebagian tanaman dibudidayakan pada tepi pagar agar bisa berkembang. Setiap rumpun tanaman lada perdu sebutnya bisa menghasilkan satu kilogram biji. Setelah dikeringkan lada bisa disimpan sebagai stok bumbu.

“Saat memasak daging, bumbu dari lada perdu dalam kondisi mentah sangat memberi cita rasa sehingga saya tanam dalam jumlah banyak,” ulasnya.

Budidaya tanaman lada perdu dilakukan Leginah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan sebagai sumber kebutuhan bumbu tanpa harus membeli, Sabtu (7/8/2021). Foto: Henk Widi

Budidaya tanaman bumbu di pedesaan sebut Leginah juga bersifat sosial. Sebab tanaman bumbu bisa dibagikan kepada tetangga yang meminta. Selain dibagikan dalam bentuk siap olah, sebagian diberi dalam bentuk bibit. Secara ekonomis sebagian tanaman bumbu jahe, lengkuas, kunyit, kencur bisa dijual. Harga per kilogram bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp20.000 sehingga menjadi sumber penghasilan.

Pemanfaatan tanaman bumbu juga dilakukan oleh Wayan, warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang. Ia menanam kencur, jahe dan kunyit di pekarangan. Menyiapkan tanaman bumbu di pekarangan sebutnya efektif menghemat pengeluaran hingga ratusan ribu perbulan.

“Lumayan bisa penuhi kebutuhan bumbu dapur saat panen melimpah bisa dijual ke pasar dan pemilik usaha warung makan,”bebernya.

Penghematan dalam penyiapan bumbu pelengkap kuliner juga dilakukan Antimah, warga Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. Ia menyebut tinggal di kawasan perbukitan, sungai memberi peluang membudidayakan pala, asam kandis dan berbagai tanaman bumbu.

Antimah menyebut budidaya tanaman bumbu berkaitan erat dengan kuliner tradisional. Semakin beragam bumbu yang ditanam ia bisa menyediakan beragam kuliner. Bahan bumbu pala misalnya banyak digunakan untuk pembuatan kuliner berbahan daging sapi, ayam dan ikan laut.

Lihat juga...