Pandemi, Warga Lamsel Tetap Jaga Stok Pangan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kearifan lokal masyarakat pedesaan selama puluhan tahun mengantisipasi saat sulit tetap dipertahankan. Kearifan dalam menyediakan stok bahan pangan dilakukan sesuai pengalaman empiris hidup yang pernah dilakoni.
Tuti (50) dan Hasanudin (60) sang suami hidup dalam kesahajaan di tepi pantai Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel).
Tinggal dari hiruk pikuk keramaian sebut Tuti menjadikan keduanya nyaman meski dalam keterbatasan. Tinggal dalam rumah kayu, bambu beratapkan ilalang dan seng dijalani selama puluhan tahun.
Saat pandemi berkaitan dengan masalah kesehatan tidak berpengaruh bagi keduanya. Bahan makanan diperoleh dari mengolah lahan tak seberapa namun cukup untuk keseharian.
Tuti bilang saat sejumlah bantuan sosial dikucurkan, ia mengaku tidak pernah tersentuh. Kabar dan informasi sampai kepadanya hanya sebagai angin segar.
Namun keduanya tetap bisa memenuhi kebutuhan dengan menanam berbagai jenis sayuran, mencari ikan di laut sebagai stok pangan. Pandemi berkaitan dengan kesehatan sebutnya tidak dirasakan, sebab keduanya tinggal jauh dari permukiman warga.
“Hidup menyatu dengan alam kami jalani selama puluhan tahun, bisa menanam singkong hasilnya dibuat menjadi gaplek, tiwul untuk stok makanan sehari-hari dan lauk bisa dicari dengan menjaring ikan oleh suami, sayuran bisa diperoleh dari tanaman pada lahan yang tak begitu luas,” terang Tuti saat ditemui Cendana News, Sabtu (24/7/2021).
Tuti bilang pengawetan bahan makanan dilakukan pada singkong, kacang benguk hingga ikan laut. Pada pengawetan singkong atau ubi jalar ia mengolahnya menjadi gaplek.
Singkong dikupas lalu dipotong kecil lalu dijemur. Tahap selanjutnya gaplek yang kering bisa ditumbuk jadi butiran halus, dikukus lalu dijemur ulang menjadi beras tiwul. Hasil dipakai sendiri sebagian dijual.
Hasil panen kacang benguk sebut Tuti bisa diolah menjadi sayuran saat muda. Dipanen saat tua atau kering kacang benguk bisa digunakan sebagai bahan tempe.
Tempe kacang benguk sebutnya dipesan oleh warga untuk camilan dan lauk makan. Saat tidak dibuat menjadi tempe, benguk sebutnya akan menjadi cadangan pangan karena awet disimpan kala kering.
“Benguk mulai jarang ditanam, namun jadi bahan pangan cadangan bagi keluarga kami,” ulasnya.
Hasil tangkapan ikan sang suami diolah Tuti menjadi ikan kering. Jenis ikan yang dikeringkan merupakan hasil tangkapan saat melimpah seperti japuh, peperik, selar dan teri.
Ikan berukuran besar jenis simba, layang bisa diolah menjadi kuliner untuk menu makan harian. Semua bahan makanan sebutnya diperoleh dari menanam, menangkap di laut memakai cara tradisional.
Hasanudin sang suami mengaku memiliki filosofi menjaga alam, maka alam akan memberi kehidupan. Rumah geribik beratapkan alang alang sebutnya digunakan untuk berteduh.
Sebagai penjaga dari angin laut, gelombang pasang lahan seluas ratusan meter persegi dipagar tanaman mangrove. Selain mangrove jenis api api, perpek, sentigi, ia juga menanam tebu dan pohon kelapa.
“Tebu bisa saya olah menjadi gula putih, kelapa bisa jadi bahan bumbu dan lauk bisa saya peroleh dari menangkap ikan,” ulasnya.
Memanfaatkan perahu ketinting, Hasanudin bilang bisa mendapat bahan makanan dari laut Selat Sunda. Berbagai jenis bahan makanan selain ikan ia memperoleh kerang, kepiting dan lobster. Jenis rumput laut dan anggur laut bahan lalapan diperoleh dari sejumlah batu karang. Ia mengaku meski dalam kesahajaan bahan makanan bergizi, segar, tetap bisa diperoleh dari laut.
Semua bahan makanan segar, sehat tanpa bahan pengawet sebutnya menjadi penjaga kebugaran tubuh. Hasanudin juga bilang meski tidak mendapat bansos dalam bentuk sembako, ia memastikan tetap memiliki cadangan bahan pangan.
Semua jenis bahan makanan sebutnya bisa disediakan dengan menanam di pekarangan terbatas. Lahan luas juga dipakai untuk memelihara ayam kampung penghasil telur, daging.
Memanfaatkan sumber bahan pangan dengan kreativitas dilakukan Sriyatun. Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan itu memanfaatkan melimpahnya hasil panen singkong.

Hasil panen diolah menjadi kerupuk mangleng, kerupuk opak. Manggleng jadi olahan singkong tahan lama atau awet setelah direbus, dikeringkan. Cadangan pangan itu bisa digunakan setiap saat.
“Warga di desa tetap bisa mendapat bahan makanan bahkan kala pandemi, tidak khawatir kekurangan pangan,” ulasnya.
Bagi warga pedesaan, Sriyatun menyebut bahan lauk bisa diperoleh dengan memelihara ayam, bebek. Menghasilkan telur, dagingnya bisa jadi sumber protein bagi keluarganya.
Saat berada di sawah ia juga menyebut sawah bisa dipakai untuk menanam kangkung, genjer, gundo. Bahan pangan alternatif bisa digunakan sebagai stok bahan pangan dan penghematan.