Selongsong Ketupat Diburu, Pedagang di Semarang ‘Mremo’
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
SEMARANG — Bagi sebagian besar masyarakat, perayaan Lebaran identik dengan lontong atau ketupat opor. Imbasnya, bahan -bahan yang dibutuhkan untuk membuat menu tersebut pun diburu masyarakat. Tidak terkecuali selongsong ketupat.
Tingginya minat masyarakat untuk membeli, menjadi rezeki bagi para penjual selongsong ketupat.
“Satu renteng berisi 10 selongsong ketupat, harganya Rp15 ribu untuk ukuran sedang, kalau yang besar Rp25 ribu isi 10 selongsong. Sementara kalau janur saja, Rp10 ribu satu ikat isi 10 lembar janur,” papar Priyono, pedagang selongsong saat ditemui di Pasar Simongan Semarang, Selasa (11/5/2021).
Dijelaskan, harga tersebut sama dengan tahun lalu. Meski demikian, permintaan selongsong pada tahun ini, sedikit menurun dibanding tahun lalu.
“Masih belum seramai tahun kemarin. Mudah-mudahan nanti pada perayaan bodho kupat (Lebaran Ketupat-red) atau seminggu setelah Lebaran 1442 H, permintaan akan kembali naik. Soalnya kalau bodho kupat, semua orang pasti memasak ketupat. Kalau sekarang ini kan ada yang lontong pakai bungkus daun pisang, dan ketupat pakai bungkus janur atau daun kelapa yang masih muda,” terangnya.
Meski demikian dirinya tetap bersyukur, masih ada pembeli yang datang. “Baru mulai jualan kemarin (Senin-red), sampai sekarang sudah menjual sekitar 300an selongsong. Mudah-mudahan besok (Rabu-red), semakin banyak yang beli,” papar Priyono.
Hal senada juga disampaikan Sularsih, pedagang selongsong lainnya. Dirinya menjual seikat berisi 10 biji selongsong ketupat dengan harga mulai Rp 15 ribu – Rp 25 ribu, tergantung besar kecilnya.
“Masih belum ramai, mudah-mudahan besok (Rabu-red) sudah mulai ramai, sampai nanti Lebaran Ketupat. Kalau bisa seperti tahun lalu, ya cukup lumayan,” terangnya.
Dipaparkan, pada 2020 lalu, dirinya mampu menjual hingga ribuan selongsong ketupat. Bahkan mendekati Lebaran Ketupat, dia bisa menjual antara 1.000 – 2.000 selongsong per hari.
Keuntungan yang didapat pun cukup besar. Itu sebabnya, dirinya rela bermodal karung, kemudian menggelar dagangan di pinggir jalan masuk Pasar Simongan Semarang.
“Sehari-hari juga tidak berjualan, hanya ibu rumah tangga. Jadi pas jelang lebaran saja ini saya jualan selongsong, kalau dapat rezekinya, ya lumayan buat nambah kebutuhan dapur,” tandasnya.
Diakui, untuk berjualan selongsong tidak bisa setiap hari, namun hanya pada hari-hari tertentu, seperti Idul Fitri, Lebaran Ketupat dan Idul Adha. Di luar itu, tidak banyak pembeli yang mencari selongsong.
Sementara, salah seorang pembeli, Fitri, mengaku jelang Lebaran seperti sekarang, menjadi waktunya para pedagang mremo, atau memanfaatkan momen lebaran untuk berjualan dengan harga yang relatif lebih tinggi dari hari-hari biasanya. “Ya, masih dimaklumi, asal tidak terlalu mahal. Ini juga, beli selongsong ketupat hanya setahun sekali, pas jelang lebaran saja. jadi kalau agak mahal tidak masalah,” pungkasnya.