Larangan Mudik Pengaruhi Penjualan Pedagang Oleh-oleh di Panjang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kota Panjang menjadi salah satu jalur perlintasan strategis di kota Bandar Lampung. Imbas larangan mudik, jalan perlintasan menuju ke sejumlah kecamatan di Lampung Selatan, wilayah Kabupaten Pesawaran dan Provinsi Bengkulu itu lengang.

Fitriani, pedagang oleh-oleh menyebut dua tahun terakhir imbas mudik dilarang berdampak pada usahanya. Menjual kerupuk ikan, keripik dan berbagai oleh-oleh memberinya omzet lebih sedikit dibanding dua tahun sebelumnya.

Saat mudik tahun 2019 ia mengaku masih bisa memperoleh omzet Rp500.000 per hari. Namun semenjak  2020 dan 2021 mudik yang dilarang berimbas pada sepinya pemudik. Permintaan akan kerupuk ikan rata rata mencapai 50 kemasan perhari. Jumlah itu lebih merosot dibanding tahun sebelumnya mencapai 400 bungkus perhari.

“Agar bisa mendapatkan banyak konsumen kami berbagi tugas dengan suami dan anak membuka lapak dengan mobil di wilayah Jalan Lintas Sumatera dan di sekitar pasar Panjang dengan konsumen dominan warga lokal, mengandalkan pemudik tidak ada tahun ini karena penyekatan,” terang Fitriani saat ditemui Cendana News, Selasa (11/5/2021).

Sistem berjualan dengan memanfaatkan lokasi strategis dipilih Fitriani dan keluarganya. Sebab perubahan mudik yang dibatasi tidak bisa menjadi jaminan penjualan produk oleh oleh miliknya.

Imbas perubahan pola mudik yang dilarang pemerintah, Mustakin, warga Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang memilih usaha lain. Semula ia memiliki lapak penjualan oleh-oleh kerupuk, kemplang, keripik, sale hingga ikan kering tawar. Namun sejak dua tahun mudik lebaran berlangsung selama pandemi usahanya bangkrut. Semua barang dagangan dikembalikan (return) pada produsen.

“Banyak barang dagangan tidak laku sementara sewa lapak berupa toko di tepi jalan mahal belum biaya operasional lainnya,” beber Mustakin.

Beralih menjual buah kelapa sebut Mustakin jadi pilihan baginya. Bermodalkan golok, wadah termos, meja dan ratusan butir kelapa ia menjual kelapa muda atau dugan. Ia melayani penjualan dengan sistem perbutir seharga Rp8.000 dan kemasan Rp5.000 memakai kantong plastik. Penjualan buah kelapa muda sebutnya lebih menjanjikan ditekuni sejak awal Ramadan lalu.

Mustakin, salah satu pemilik usaha penjualan oleh oleh alih profesi menjadi pedagang es kelapa muda di Jalan Yos Sudarso, Panjang, Bandar Lampung imbas tidak adanya pemudik, Selasa (11/5/2021). Foto: Henk Widi

Mustakin menyebut ia beralih ke usaha penjualan dugan dibanding oleh oleh. Pasalnya perputaran uang yang diperoleh lebih cepat. Perbutir kelapa muda sebutnya bisa memberinya keuntungan Rp2.000 hingga Rp3.000. Meski kecil namun dengan penjualan mencapai ratusan butir dalam sehari ia masih bisa mendapat omzet sekitar Rp600.000.

Penurunan omzet, alih usaha oleh sejumlah warga dampak pandemi Covid-19, mudik yang dilarang diakui oleh M.Supriyadi. Lurah Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang itu mengaku warganya dominan menggantungkan usaha dari sektor usaha kecil. Beberapa pelaku usaha pembuatan kerupuk, kemplang, keripik beralih usaha. Pilihan yang dipilih berupa produksi kue basah keperluan Ramadan.

M. Supriyadi bilang lokasi straregis wilayahnya berada di dekat terminal Panjang, pelabuhan peti kemas Panjang. Akses jalan perlintasan kendaraan yang kerap dilalui pemudik alami imbas setelah mudik dua kali lebaran dilarang. Berbagai peluang usaha musiman sebutnya jadi harapan warga. Beberapa warga memproduksi kue basah untuk hidangan takjil. Beberapa masih bertahan menjual oleh oleh untuk pangsa pasar warga lokal.

Lihat juga...