MASIH banyak di antara kita, (dan tampak terutama di kalangan elit pemerintahan) yang belum memahami apa itu “imdad” (uluran bantuan/pertolongan dari Allah), sehingga merasa doa-doanya tidak terkabul. Bahkan lebih jauh lagi, mungkin sudah tidak pernah memperoleh kesempatan untuk berdoa, disebabkan karena sudah lupa apa tujuan kehidupan.
Catatan berikut ini, ingin mengingatkan kepada yang lupa, dan semoga dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi yang belum mengetahuinya.
Pada dasarnya, seluruh alam semesta ini, termasuk potensi yang ada dalam diri manusia, adalah pemberian Allah kepada manusia untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga, tidak pada tempatnya manusia meminta diberi lagi hal-hal yang bersifat materi dari Allah, yang harus mereka lakukan adalah mendayagunakan potensi yang Allah berikan berupa alam semesta yang sangat luas dengan jutaan planet di dalamnya, termasuk bumi. Air, udara, cahaya matahari, hamparan bumi dan seterusnya, semua itu Allah berikan setiap saat, setiap waktu. Manusia tinggal memanfaatkan saja.
Lantas, doa-doa itu bertujuan untuk apa? Doa-doa, permintaan pertolongan kepada Allah, sesungguhnya adalah bentuk uluran bantuan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah-lah yang memberikan kesadaran, memberikan kalimat yang baik untuk berdoa kepada-Nya. Untuk apa Allah memberikan kesadaran, disertai kalimat-kalimat sebagai lafal doa? Tiada lain agar manusia menyadari diri, bahwa mereka telah terlalu “jauh” kepada Allah, disebabkan karena terperdaya oleh urusan duniawi. Terperdaya oleh materi yang seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana/fasilitas beribadah kepada-Nya.
Ketika Rasulullah Muhammad saw, beserta para sahabatnya dan kaum muslimin telah berhasil merebut Makkah, dalam peristiwa yang dikenal dengan Fathul Makkah maka Allah kemudian mewahyukan surah Al-Fath sebagai pengingat bagi Nabi dan kaum muslimin agar bersegera dalam memuji Allah dan memperbanyak istighfar sebagai bentuk kesadaran bahwa tujuan mereka bukanlah merebut Makkah, namun untuk kembali (inabah) kepada-Nya, sebagaimana yang telah Allah sampaikan pada surah An-Nasr yang diturunkan terlebih dahulu, sebelum Nabi harus terlibat dalam perang kemerdekaan sebagaimana firman-Nya:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.” (QS. An-Nasr ayat 1-3).
Oleh sebab itu, setelah Nabi berhasil membangun komunitas di Madinah, serta telah membebaskan Ka’bah di Makkah, sarana dan prasarana bagi Nabi dan pengikutnya untuk beribadah dengan tenang, damai kepada Allah telah cukup. Oleh sebab itu, pasca-Fatkhul Makkah, Allah swt wahyukan surat Al-Fath berikut ini,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al-Fath ayat 1-3).
Baik surah An-Nasr ayat 1-3, maupun Surah Al-Fath ayat 1-3, semuanya memberikan informasi, petunjuk dan arahan kepada Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya, (tentu termasuk kita) untuk memperbanyak bertasbih memuji kebesaran Allah, memperbanyak beristighfar atas berbagai kekeliruan, kesalahan, kealpaan kita selama ini dalam mensyukuri nikmat karunia Allah.
Dan sebab itu, bentuk pertolongan Allah sebagaimana yang sering kita minta disaat sedang membaca surah Al-Fatihah di waktu salat, dengan kalimat pemberian-Nya “iyyakana’budu waiyyaka nastain“, tiada lain wujudnya adalah “ihdinassirothol mustaqiim“, yang maknanya tiada lain adalah jalan bebas hambatan di dalam beribadah kepada Allah swt.
Jadi pertolongan Allah itu (imdad), memenangkan kita dari tarikan atau godaan yang menyebabkan kita “jauh” dari-Nya, sehingga dengan pertolongan-Nya itu, kita kembali lebih dekat kepada-Nya.
Sebab itu, tidaklah seorang hamba, mengucapkan kalimat istighfar, memanjatkan doa, melainkan karena Allah yang telah memberikan kalimat tersebut baginya, agar dengan kalimat itu ia “kembali” (inabah) kepada-Nya.
Berbagai bentuk cara Allah dalam memberikan pertolongan agar seseorang atau suatu masyarakat dapat bersegera mengingat dan “kembali” kepada-Nya. Bisa berupa sakit, lapar karena kekurangan pangan (krisis pangan) pandemi (wabah penyakit), kematian (kehilangan orang yang dicintai) semua itu adalah bentuk uluran pertolongan Allah, agar kita tidak jauh tersesat melupakan tujuan keberadaan kita di bumi ini.
Wabah Covid-19, banjir, tanah longsor, perlakuan kasar dan sadis dari orang-orang kafir, intimidasi dan perampasan HAM oleh penguasa dan lain-lain, semua itu bentuk-bentuk pertolongan dari Allah agar kita memperbanyak bertasbih, beristighfar serta mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali kepada-Nya.
Semoga kita semua, senantiasa bisa bersyukur atas nikmat karunia-Nya, kepada-Nya lah kita berserah diri, melalui nama-nama-Nya yang ter-Indah dan ter-Agung kita menyampaikan untaian dzikir, dan kepada-Nya kita semua kembali.
Rabbi zidni ilman, warzukni fahman.
Depok, 15 Januari 2021