Kebiasaan Belajar Daring Picu Kecemasan di Kalangan Orang Tua
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURWOKERTO – Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat kegiatan belajar siswa terhenti di sekolah, sebagai gantinya dilakukan pembelajaran daring, namun hal ini mulai menumbuhkan kecemasan di kalangan orang tua.
Pasalnya, selama tidak ada kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), kebiasaan anak untuk bangun pagi, kemudian mandi dan sarapan secara perlahan mulai luntur. Sikap disiplin dalam belajar juga mulai berkurang dan anak cenderung asyik dengan dunia bermainnya.
Salah satu orang tua siswa, Ustaz Mukorobin mengungkapkan, sejak masuk tahun ajaran baru, anaknya sama sekali belum masuk sekolah. Semua kegiatan belajar dilakukan secara daring dari rumah. Dampaknya, anak sama sekali belum mengenal lingkungan sekolah.

“Anak saya baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar (SD) kemarin dan sampai saat ini belum sekalipun menginjakkan kaki di sekolah,” tuturnya, Kamis (28/1/2021).
Akibatnya, aktivitas di rumah, masih dijalani seperti saat anak tersebut masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Untuk pembelajaran daring, akan diikuti jika didampingi oleh orang tua.
“Harapan saya, sebenarnya ingin sekolah kembali diperbolehkan PTM, tetapi dengan jumlah siswa yang dibatasi dan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Karena tidak mudah untuk membangun kebiasaan baru bagi anak, seperti bangun pagi, mandi pagi, sarapan dan kemudian berangkat sekolah. Sudah hampir satu tahun anak-anak tidak melakukan aktivitas pagi hari seperti itu, sehingga akan sulit mengembalikannya,” tuturnya.
Munurut Mukorobin, anaknya terlihat nyaman saja dengan kondisi sekarang dan bahkan mengaku senang tidak perlu pergi ke sekolah setiap pagi. Namun hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.
Zhafran Mukorobin, siswa kelas 1 SD di Kota Purwokerto ini, sampai saai ini memang belum pernah menginjakkan kaki di sekolah, sejak tercatat sebagai salah satu siswa di SDIT Al Irsyad Purwokerto. Pada awal pandemi, selama 3-4 bulan pertama, Zhafran masih rajin mengikuti pembelajaran daring dan selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
“Awal belajar daring, anak saya rajin sekali, karena ia mulai belajar mengenal laptop ataupun gadget. Tugas-tugas sekolah dikerjakan dengan cepat dan rajin bertanya ke saya, kalau ada yang kurang dipahami. Tetapi sejak dua bulan terakhir, kalau ditanya apakah ada tugas sekolah, jawabnya mulai ogah-ogahan,” tutur Mayreni, ibunda dari Zhafran.
Menurutnya, saat ini rasa bosan dan kejenuhan sudah memuncak, sehingga anak cenderung lebih sulit untuk diarahkan dan dinasihati.
Untuk menghilangkan kejenuhan anaknya, Mayreni mengaku harus kreatif menciptakan kegiatan baru yang menyenangkan. Seperti mengajaknya bermain dengan permainan fisik yang mengharuskan anak bergerak aktif, atau pun mengajaknya berolahraga.
“Selama belajar daring, anak memang aktivitas fisiknya jauh berkurang dan kita sebagai orang tua harus kreatif mengajak anak melakukan kegiatan yang menyenangkan,” pungkasnya.