Kesadaran Warga Bekasi Terkait Sampah Plastik, Minim
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BEKASI – Persoalan sampah di Kota Bekasi, Jawa Barat, seperti tak ada habisnya. Belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah terkait sampah plastik yang kerap menutup saluran air di beberapa lokasi.
Hal tersebut seperti terlihat di saluran Kaliabang, Bekasi Utara, kerap ditemukan tumpukan sampah di beberapa saluran terutama di jembatan. Seperti plastik bekas botol minuman, sterofoam, dan lainnya. Meski kerap dibersihkan, tapi beberapa hari kemudian tumpukan sampah kembali terjadi.
Pantauan Cendana News, terlihat di Jembatan Saluran Air Kaliabang Satu, sampah menumpuk di jembatan di samping perkantoran Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kelurahan Margamulya, Bekasi Utara. Juga di beberapa titik lainnya di sepanjang saluran air, dan perlu penanganan serius apalagi memasuki musim penghujan seperti sekarang.
Menurut warga sekitar, Fahrozi, hal tersebut sudah biasa, meski sudah dibersihkan, tiga hari kemudian pasti sampah menumpuk lagi. Terkadang banyak juga warga yang memanfaatkan botol plastik atau lainnya untuk diambil.
“Saya sering ambil ban bekas atau apa yang bisa dimanfaatkan. Tapi kasihan juga petugas, membersihkan sampah tiap beberapa hari sekali. Karena selain bau, juga menyebabkan sumbatan saluran kali,” ujar Fahrozi kepada Cendana News, Rabu (25/11/2020).
Dia berpendapat bahwa masalah sampah adalah kesadaran bersama. Tidak hanya mengandalkan petugas dalam melakukan pembersihan. Ia menilai sampah yang terjadi bukan karena petugas tidak membersihkan.
“Saya sering melihat petugas membersihkan sampah, baik dari PJT atau kelurahan. Tapi kemudian datang lagi, artinya sampah ini terjadi karena minimnya kesadaran bersama dari warga,” tukasnya.
Hal senada diakui Darwin, supervisor PJT II, Kota Bekasi. Menurutnya, sampah di saluran Kaliabang, setiap tiga hari sekali selalu dibersihkan oleh timnya atau pun dibantu pihak kelurahan.

“Tanggung jawab kami memang soal Kaliabang. Setiap tiga hari sekali kami terus bersihkan sampah menumpuk di sepanjang aliran Kaliabang Satu ini. Tapi, ya begitu pasti datang lagi,” tegasnya.
Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun terkait sampah di Kaliabang Satu. Menurutnya, pihak kelurahan atau pun pemerintah tentunya terus memberi imbauan, bahkan membuat aturan tertentu dalam penanganan sampah di lingkungan tertentu. Tapi hal ini, terkait kesadaran masyarakat sendiri yang masih kurang.
Dia berharap, kesadaran agar tidak membuang sampah sembarangan bisa terbangun dengan sendirinya di tengah masyarakat, untuk bersama menjaga lingkungan terutama saluran air. Apalagi saat ini, memang mulai memasuki musim penghujan.