Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/08/2025
Satu hari lagi, usia Indonesia 80 tahun. Besok, 17 Agustus 2025. HUT kemerdekaan RI ke 80.
Bagi sebuah peradaban, usia itu belum lama. Masih muda. Masalahnya, Indonesia bukan peradaban baru. Ia kelanjutan peradaban lama. Nusantara.
Rezim penguasa dan sistem pemerintahan berganti-ganti. Monarqi. Disela kolonialisme Eropa. Berikutnya menjadi Indonesia modern: Republik. Sejak 17 Agustus 2045.
Bagaimana kita melihat Indonesia usia 80?. Jika alat ukurnya tujuan bernegara. Konstitusi: UUD 1945.
Terlindungi segenap bangsa – tumpah darah. Majunya kesejahteraan umum. Cerdasnya kehidupan bangsa. Kemampuan Indonesia turut serta mewujudkan perdamaian dunia berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kemampuan melindungi bangsa dan tumpah darah. Kita gunakan Global Peace Index (GPI) – Indeks Perdamaian Global. Indonesia pada posisi 48 dari 163 negara (2024). Peringkat 49 dari 163 (2025): kategori “high peace”. Di ASEAN, Indonesia posisi ke-4 negara paling damai. Relatif mampu memberi kedamaian bagi warganya.
Kita juga gunakan alat ukur: Law and Order Index – Persepsi Tentang Ketertiban & Keamanan. Skor Indonesia 89 dari 100. Pertanda keamanan dan ketertibannya kuat.
Data itu paradoks jika dikonstatasikan data lain. Tindak Pidana Nasional (2021–2023) melonjak 144%. Risiko kejahatan per 100.000 penduduk (2022–2023), naik +56 % (137 ke 214). Lonjakan harian gangguan kamtibmas (+21,15% dalam satu hari): kasus 13-14 Mei 2025. Kenaikan tahunan kasus kriminal (2022–2023): 4,3% (11.965). Belum aman dari tindak pidana.
Kemampuan mewujudkan kesejahteraan umum. Kita gunakan indikator kesehatan, ekonomi, kualitas lingkungan dan infrastruktur dasar.
Angka Harapan Hidup (AHH) saat lahir 74,15 tahun (2024). Angka Kematian Bayi (AKB): 18 per 1.000 kelahiran hidup (2023). Stunting: 21,5% (2023), masih jauh di atas target WHO 14%. Akses Air Minum Layak: 91,05% rumah tangga (2024). Akses Sanitasi Layak: 85,84% rumah tangga (2024).
Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita – Atlas method: USD 4.580 (2023). Upper middle income. Kemiskinan Nasional: 8,47% (Maret 2025). Kemiskinan Ekstrem: 0,85% (2,38 juta jiwa-Maret 2025). Gini Ratio: 0,375. Pengangguran Terbuka (TPT): 4,76% (Februari 2025), setara 7,28 juta orang.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH): 72,54 poin. Melebihi target nasional: 69,48 poin. Indeks Kualitas Udara (IKU) sesuai target nasional. Indeks Kualitas Air (IKA), naik, tapi belum sesuai target nasional. Indeks Kualitas Lahan (IKL), naik, tapi belum mencapai target nasional. Indeks Kualitas Air Laut, turun, tapi tetap sesuai target nasional.
Rasio elektrifikasi rumah tangga di Indonesia (2023) 99,78%. Rasio desa berlistrik tercatat 99,83%. Sedangkan pada infrastruktur, wilayah non-Jawa masih tertinggal. Trotoar juga belum berstandar.
Bagaimana dengan kecerdasan bangsa Indonesia?. Mari kita lihat berbagai indikator.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) – Komponen Pendidikan. Rata-rata lama sekolah (RLS): 8,93 tahun (2024), setara kelas 2 SMP. Artinya orang Indonesia hanya menempuh pendidikan formal sekitar 9 tahun, setara samai kelas 2 SMP.
Harapan lama sekolah (HLS): 13,37 tahun (2024) setara kelas 1 perguruan tinggi. Artinya: anak lahir tahun ini diproyeksikan akan bersekolah hingga 13,37 tahun. Bila semua faktor (akses, ekonomi, kebijakan pendidikan) berjalan baik. Setara tahun pertama kuliah S1. Masih menjadi tantangan besar.
Melek huruf usia 15–24 tahun: 99,72% (2024), dewasa (15 tahun ke atas): 97,01% (2024). APK (Angka Partisipasi Kasar) SD/MI: 106,77% (2023/2024). APK SMP/MTs: 91,78%. APK SMA/SMK: 89,42%. APK Perguruan Tinggi: 31,45%. Lebih 68 % usia PT tidak melanjutkan studi di PT.
Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca): 64,48 (2023) kategori sedang. Minat baca: relatif rendah. Rata-rata orang Indonesia membaca 5–6 buku per tahun.
Penguasaan Sains dan Matematika (PISA) rendah. Skor PISA 2022 (OECD): membaca: 359, Matematika: 379 Sains: 396. Jauh di bawah rata-rata OECD (500). Indonesia peringkat 70–76 dari 81 negara.
Kemampuan Inovasi dan Riset. Jumlah peneliti per 1 juta penduduk: 216 orang (2022). Jauh dari rata-rata global (~1.500–2.000). Global Innovation Index (2024): Indonesia 68 dari 132 negara.
Kemampuan Digital. Indeks Literasi Digital Indonesia: 3,54 dari 5 (2023), kategori sedang–baik. Pengguna internet: 79,5% populasi (2024).
Bagaimana dengan kemampuan turut serta mewujudkan perdamaian dunia.
Berdasar Asia Power Index (Lowy), Indonesia: 9 dari 27. “Middle power” kawasan Indo-Pasifik. Menurut Global Power Index (GPI), Indonesia: 34 dari global, peringkat 3 di ASEAN. Ada potensi lebih baik. Political Globalization Index (KOF): Skor 86,75 (di atas rata-rata dunia). Dalam diplomasi dan perjanjian global, Indonesia kuat. Global Diplomatic Index: Global Diplomatic Index. Jaringan diplomatik Indonesia, sangat luas. Geopolitical Stability: Skor 28,3 (sedang stabil), Kondisi stabil namun masih ada risiko.
Itulah Gambaran Indonesia usia 80 tahun Berdasarkan riset digital, berbagai sumber. Mengacu pada parameter amanat konstitusi UUD 1945. Masih harus bekerja keras untuk mewujudkannya.
Segena bangsa dan tumpah darah belum sepenuhnya terindungi. Kesejahteraan umum masih banyak belum terpenuhi. Belum mampu mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh. Walaupun partisipasi Indonesia dalam turut serta mewujudkan petrdamaian dunia sudah mulai dipandng positif.
- ARS – Jakarta (rohmanfth@gmail.com)