Unik, Perpustakaan Microlibrary Warak Kayu dari Limbah Pabrik
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Berdiri megah di tengah Taman Kasmaran Semarang, Microlibrary Warak Kayu dipastikan mencuri perhatian siapa saja yang melewatinya. Uniknya, bangunan rancangan Suryawinata Heinzelmann Architecture Urbanism (SHAU) Indonesia tersebut, seluruhnya menggunakan bahan baku kayu limbah pabrik.
Ini merupakan perpustakaan pertama di Kota Semarang, yang pembangunannya menggunakan material fabrikasi limbah kayu. Selain itu, dengan sistem konstruksi solider, menjadikan bangunan ini menyerupai sisik hewan mitologi khas kota Semarang, Warak.
“Sesuai namanya, bangunan ini memang ditujukan sebagai perpustakaan di Kota Semarang, meski tidak sebesar perpustakaan yang lainnya. Itu sebabnya dinamakan microlibrary. Tujuan dibangun memang untuk meningkatkan budaya membaca buku, khususnya bagi anak-anak, yang sekarang ini lebih banyak beralih ke gadget,” papar pengelola Microlibrary Warak Kayu, Hasanah di Semarang, Kamis (20/8/2020).

Dijelaskan, dari sisi konsep, bangunan tersebut terinspirasi dari rumah panggung, sehingga diharapkan ada aktivitas di dua lantai. “Gedung ini juga termasuk bangunan ekosistem, karena dengan ventilasi yang sangat bagus, sirkulasi udara juga baik, sehingga tidak perlu menggunakan AC. Namun cukup dengan alam, dari angin karena sirkulasi udaranya bagus,” terangnya.
Sirkulasi udara yang baik tersebut terbentuk dari desain bangunan yang mengikuti bentuk wajik. Hal tersebut, tercipta dari sistem konstruksi Zollinger dari Jerman. Bentuk wajik ini menyerupai sisik kulit Warak, sehingga dikenal dengan nama Microlibrary Warak Kayu.
Masyarakat yang ingin datang dan membaca pun diperbolehkan, namun ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Terutama diharuskan untuk mengenakan kaus kaki saat di dalam bangunan. Hal tersebut menjadi salah satu upaya,untuk perawatan material kayu yang ada di bangunan tersebut.
“Kita batasi jumlah pengunjung 10 orang dalam satu kesempatan yang sama, agar bisa tetap menjaga jarak. Kemudian memakai masker, cuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Selain itu, buku-buku yang ada, untuk sementara juga hanya bisa dibaca di tempat, belum bisa dibawa pulang. Sedangkan untuk jam operasionalnya dari Senin-Sabtu, mulai pukul 08.30 WIB – 15.30 WIB,” terangnya.
Salah seorang pengunjung, Yurike, mengaku tertarik untuk datang ke Microlibrary Warak Kayu, setelah melihatnya di media sosial.
“Kebetulan saya tahu ketika Microlibrary Warak Kayu ini menang dalam Popular Choice Award dari Architizer A+ Awards 2020 untuk kategori perpustakaan. Kebetulan saya follower akun instagram Wali Kota Semarang, yang ikut mengabarkan keberhasilan tersebut,” terangnya.
Diakuinya, bangunan tersebut sangat unik dan menarik, terlebih dengan koleksi buku yang dimiliki, hingga suasana yang terbentuk di dalamnya yang membuatnya nyaman.
“Meski tidak ber-AC, saya betah duduk dan membaca di dalam. Saya nilai, suasana yang nyaman dengan konsep kekinian, bisa menarik para anak muda untuk kembali gemar membaca,” tandasnya.