Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – Jum’at, 30/10/2026
Akhlak merupakan bagian penting dari keberagamaan. Ibadah tidak semestinya berhenti pada ritual, tetapi perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Ukuran keberagamaan tidak hanya terletak pada kesungguhan seseorang menjalankan ibadah. Tetapi juga pada akhlaknya dalam memperlakukan sesama, menjalankan amanah, dan menjaga lingkungan.
Keimanan seharusnya melahirkan kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab, baik dalam hubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan. Dengan demikian, akhlak bukan pelengkap ibadah, melainkan salah satu wujud nyata dari nilai-nilai keimanan.
Pertama, akhlak kepada Allah SWT. Akhlak diwujudkan melalui keikhlasan beribadah, ketaatan, rasa syukur, dan kesabaran. Alquran memerintahkan manusia beribadah dengan ikhlas (QS. Al-Bayyinah: 5) dan menegaskan bahwa syukur membawa kebaikan bagi diri sendiri (QS. Ibrahim: 7). Nilai-nilai ini semestinya membentuk perilaku yang baik dalam kehidupan nyata.
Kedua, akhlak kepada diri sendiri dan orang tua. Manusia perlu menjaga kehormatan diri, mengendalikan perilaku, serta menjalankan tanggung jawabnya. Kepada orang tua, Alquran memerintahkan agar kita berbuat baik, berbicara dengan santun, dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat (QS. Al-Isra’: 23–24).
Ketiga, akhlak kepada sesama dan tetangga. Alquran memerintahkan berbuat baik kepada tetangga dekat maupun jauh (QS. An-Nisa’: 36). Kebaikan bukan hanya berupa bantuan, tetapi juga menghormati privasi, menjaga kenyamanan, dan tidak menyakiti.
Rasulullah saw. menegaskan pentingnya memuliakan tetangga (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam pergaulan, umat juga diperintahkan menghindari penghinaan, prasangka buruk, dan penyebaran informasi tanpa pemeriksaan (QS. Al-Hujurat: 6, 11–12).
Keempat, akhlak sebagai pejabat publik. Jabatan merupakan amanah, bukan hak istimewa untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok.
Pejabat dituntut jujur, adil, bertanggung jawab, tidak menyalahgunakan kewenangan, serta melayani masyarakat tanpa pilih kasih. Alquran memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keputusan ditetapkan secara adil (QS. An-Nisa’: 58).
Akhlak pejabat tidak cukup dinilai dari ucapan atau simbol keagamaan. Tetapi juga dari integritas dalam menggunakan anggaran, mengambil keputusan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Kelima, akhlak dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Islam mengajarkan kejujuran dalam bekerja dan berusaha, melarang mengambil hak orang lain secara batil (QS. Al-Baqarah: 188), serta mendorong tolong-menolong dalam kebaikan (QS. Al-Ma’idah: 2). Kepercayaan dan kepedulian menjadi dasar kehidupan bersama yang adil.
Keenam, akhlak terhadap lingkungan. Manusia bertanggung jawab menjaga alam dan tidak membuat kerusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56). Menjaga kebersihan, menghemat sumber daya, dan menggunakan alam secara bijaksana merupakan tanggung jawab moral terhadap sesama dan generasi mendatang.
Pada akhirnya, akhlak bukan sekadar ucapan atau identitas keagamaan, melainkan nilai yang tampak dalam tindakan dan dampaknya bagi orang lain. Kesalehan sejati tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga dalam kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawabnya terhadap sesama.
Nilai-nilai itulah yang menjadikan agama hadir sebagai kekuatan moral dalam keluarga, masyarakat, jabatan publik, dan kehidupan lingkungan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Esai Kebijakan Strategis dan Esai Legal Analyst. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.