Serawung Komunitas dan Jagongan Muda ke-23 Digelar di Gunungkidul, Berkolaborasi dengan Tukar Akar

Gunungkidul – Serawung Komunitas dan Jagongan Muda edisi ke-23 digelar di Pendopo DPRD, Jl. Katamso, Wonosari pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 09.00 sampai 11.30 WIB.

Gunungkidul menginspirasi selaku tuan rumah tidak hanya berkolaborasi dalam promosi kegiatan di media sosial bersama Komunitas Tukar Akar, tetapi juga dalam sesi Serawung Komunitas (perkenalan komunitas) dan Jagongan Muda yang berbentuk talkshow.

Para peserta Serawung Komunitas. Foto: Dok. Tukar Akar

 

Ada pun tema yang diangkat adalah “Anak Muda, Sastra, dan Ruang Berekspresi.” Kegiatan rutinan Gunungkidul Menginspirasi tersebut dihadiri sejumlah kelompok lain juga seperti perwakilan OSIS berbagai SMA/SMK di Wonosari, Forum Anak, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Forum Generasi Berencana, dan masih banyak lagi.

Dalam sambutannya, Putri Dwie menyampaikan tujuan dari digelarnya edisi ke-23 Serawung Komunitas dan Jagongan Muda dengan tema “Anak Muda, Sastra, dan Ruang Berekspresi” untuk mewadahi minat generasi muda Gunungkidul. Khususnya ruang mereka dalam mengekspresikan diri.

Selain itu, dia juga mengucapkan terimakasih pada Tukar Akar yang sudah jauh-jauh dari Jogja memenuhi undangan dan berkenan menjadi mitra kolaborator program kerja mereka ini.

Kepala Divisi Humas Gunungkidul Menginspirasi itu juga memaparkan adanya Serawung Tokoh yang melengkapi Serawung Komunitas. “Serawung artinya kita menjadi cantrik. Belajar baik pada komunitas lain maupun tokoh. Dari Gunungkidul maupun luar daerah, termasuk Tukar Akar ini.”

Dalam sesi Serawung Komunitas, Gunungkidul Menginspirasi diwakili Desi dari Divisi Humas. Fisi dan misi, program kerja, sejarah, struktur kepengurusan, bahkan mitra kolaborasi dipaparkannya secara perlahan. Gunungkidul Menginspirasi bergerak dalam bidang kepemudaan, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Isu seperti kasus bunuh diri, putus sekolah, kenakalan remaja, dan kualitas indeks pembangunan manusia menjadi fokus perhatian mereka.

Kegiatan seperti Edu Expo pada Januari 2026 lalu, donasi buku setiap tahun, pelatihan berbagai keterampilan pemuda desa adalah beberapa program kerja yang sudah dikerjakan organisasi kepemudaan sejak 2012 ini. Sejalan dengan fisi Bakti untuk Handayani mereka sendiri.

Selanjutnya, Akbar, Putra, dan Farhan bergantian menjelaskan sejarah serta perkembangan Tukar Akar. Komunitas ini berdiri sejak 6 Agustus 2023. Didirikan oleh 5 orang, yaitu Kei Kurnia, Alfa Amorista, Nona, Guinet Mandala, dan Satria. Akbar secara langsung menyebut Kei Kurnia dan Nona, kedua pendiri dari kelimanya yang hadir.

“Muda, Berbudaya, dan Adaptif” merupakan fisi Tukar Akar yang tercermin dalam setiap agenda sastra yang digelar, baik internal maupun eksternal.

Ketiganya juga menuturkan kegiatan yang sudah berjalan seperti Forum Sastra yang sudah 10 edisi. Selain itu, Serawung Sastra Akbar jelaskan baru berjalan sekali di Sekolah Puisi Evi Idawati pada November 2025 lalu.

Ada pun tokoh lain yang pernah terlibat dalam kegiatan di antaranya Joni Ariadinata di lokakarya secara daring sebanyak 2 kali, Sitok Srengenge, dan Sindhunata. Tidak berhenti di situ, Tukar Akar juga mengadakan kolaborasi kegiatan komunitas bersama Akal Buku, Warung Sastra, Solusi Buku, Gramedia, serta Kelingan Garden & Cafe.

Sejauh ini, ada 2 produk literasi yang sudah Tukar Akar lahirkan. Antologi Puisi Ramuan Akar Cinta sejumlah 78 halaman dari 16 anggota Tukar Akar dan Majalah Pertazine volume 1 2026 pada September lalu. Perkenalan komunitas Tukar Akar tutup dengan ajakan untuk mengikuti kegiatan mereka via Instagram dan menginformasikan rekrutmen anggota masih dibuka sampai 25 Oktober mendatang. Sebelum istirahat, MC meminta setiap perwakilan komunitas undangan untuk memperkenalkan diri secara singkat.

Selama 5 menit, peserta beristirahat untuk mengisi air, menyantap konsumsi snack, dan bergantian buang air kecil di kamar mandi. Setelahnya ada ice breaking dari Gunungkidul Menginspirasi selama 10 menit kemudian Jagongan Muda dimulai. Perwakilan Tukar Akar yang mengisi materi adalah Kei Kurnia dan Alex Sitorus. Keduanya interaktif karena memulai materi dengan sapaan yang kreatif.

Alex menjelaskan pentingnya anak muda memiliki ruang berekspresi karena anak muda berada di usia transisi. Salah satunya dengan sastra yang bermakna mengajarkan petunjuk dan berkomunitas. Memulainya bisa dari hal-hal sederhana. Tidak harus sendirian untuk melakukannya karena sudah banyak pilihan komunitas yang bisa diikuti.

Kei menambahkan dengan bentuk-bentuk bersastra seperti mendengarkan lagu dan menonton film yang sering ditemukan di sekitar. Adapun pentingnya bersastra Kei jelaskan lebih lanjut dengan menyebutkan 4 poin yang diantaranya ruang mengenal emosi diri, ruang kolektif yang artinya karya seharusnya dibaca banyak orang, ruang berimajinasi tanpa batas, dan ruang refleksi agar bisa mengubah kepribadian sekaligus pemikiran si pembaca.

Diskusi ditutup dengan antusiasme salah ketiga peserta yang bertanya. Bukan hanya itu, Akbar juga mengisi ice breaking dengan sambung kalimat setiap perwakilan komunitas sehingga menjadi puisi dan tebak sebuah kata dari huruf yang diacak.

Lihat juga...