Hidup Sederhana dan Pendidikan dari Kehidupan Rakyat

Catatan Abdul Rohman Sukardi – 26/10/2026

 

 

Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia, tumbuh dari lingkungan pedesaan yang jauh dari kemewahan. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921, ia merupakan putra Kertosudiro, seorang petani sekaligus petugas pengatur pengairan desa, dan Sukirah.

Latar belakang keluarga sederhana itu menjadi titik awal perjalanan hidupnya. Sebelum kelak memasuki panggung militer dan politik nasional. Jauh sebelum ia ditakdirkan menjadi Presiden terlama dalam sejarah Indonesia modern. Sejauh ini.

Masa muda Soeharto memperlihatkan bahwa pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas. Ia mulai bersekolah sekitar usia delapan tahun dan mengalami perpindahan sekolah, antara lain di wilayah Godean dan Wuryantoro.

Ketika tinggal bersama keluarga pamannya, Prawirowihardjo, seorang mantri tani, ia juga berkenalan lebih dekat dengan kehidupan pertanian dan masyarakat desa. Pengalaman tersebut memberi ruang bagi pembelajaran informal: mengenal kerja, memahami keterbatasan, serta menyaksikan bagaimana kehidupan rakyat ditopang oleh ketekunan dan kebersamaan.

Pendidikan formalnya berlanjut melalui sekolah lanjutan yang ditempuh di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah, Soeharto memasuki pendidikan militer di Gombong pada 1940. Di sana, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, latihan fisik, dan kemampuan memimpin menjadi bagian penting dari pembentukan dirinya.

Dengan demikian, pengalaman pendidikan Soeharto tidak hanya dibangun oleh pelajaran akademik. Tetapi juga oleh lingkungan sosial dan latihan kedinasan.

Dari perjalanan itu, ada pelajaran yang relevan bagi pendidikan Indonesia hari ini: kesederhanaan dapat menjadi ruang pembentukan karakter. Sementara kehidupan rakyat dapat menjadi sumber pengetahuan yang nyata.

Anak-anak belajar bukan hanya dari buku dan guru, melainkan juga dari keluarga, pekerjaan, lingkungan, serta perjumpaan dengan beragam keadaan sosial. Pendidikan yang kuat seharusnya menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Namun, kisah masa muda Soeharto tidak perlu diromantisasi seolah-olah kesulitan dengan sendirinya melahirkan keberhasilan. Kesempatan bersekolah, dukungan keluarga, akses terhadap pelatihan, dan keadaan sejarah turut menentukan jalan seseorang.

Karena itu, tugas negara bukan sekadar mengajarkan anak agar tabah menghadapi keterbatasan. Melainkan memastikan keterbatasan ekonomi tidak merampas hak mereka untuk memperoleh pendidikan bermutu

Pada akhirnya, nilai penting dari masa muda Soeharto bukanlah anggapan bahwa kesederhanaan menjamin lahirnya seorang pemimpin besar. Nilainya terletak pada pengingat bahwa pendidikan formal dan informal saling melengkapi.

Sekolah membangun pengetahuan dan keterampilan. Kehidupan sosial menguji empati, tanggung jawab, dan kemampuan memahami masyarakat.

Pendidikan yang berpijak pada keduanya akan lebih bermakna ketika melahirkan manusia yang bukan hanya berhasil bagi dirinya sendiri. Tetapi juga mampu mengabdi kepada rakyat.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...