Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 13/09/2026
Aceh memiliki sejarah yang besar. Pernah menjadi kesultanan kuat. Pusat perdagangan Samudra Hindia. Salah satu pintu penting masuknya Islam ke Nusantara.
Namun, justru kebesaran masa lalu dapat menjadi perangkap ketika sejarah berhenti menjadi sumber inspirasi. Kemudian berubah menjadi ukuran untuk terus menuntut masa kini.
Dalam perjalanan konflik Aceh, romantisisme itu bertemu dengan orientasi politik jangka pendek: kemerdekaan dan penguasaan sumber daya. Keduanya berangkat dari pertanyaan tentang kekuasaan. Siapa yang menguasai wilayah dan siapa yang menguasai kekayaan.
Akan tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Aceh ingin menjadi apa bagi masa depan?
Salah satu jebakannya adalah cara pandang eksklusif: seolah-olah kejayaan Aceh harus dikembalikan melalui kemerdekaan dalam wilayah geografis yang terbatas. Padahal, jika yang hendak dipertahankan adalah fungsi Aceh sebagai penjaga dan pengembang peradaban Islam, cakupannya justru bisa jauh lebih luas.
Melalui pintu Aceh, Islam dahulu menjadi salah satu kekuatan penting dalam proses Islamisasi Nusantara. Dalam Indonesia hari ini, warisan itu tidak harus dipersempit menjadi batas wilayah. Ia dapat menjadi kekuatan untuk memengaruhi ruang yang jauh lebih luas.
Sebab, kemerdekaan adalah instrumen politik dan sumber daya alam adalah modal ekonomi. Keduanya tidak otomatis melahirkan peradaban.
Dalam perspektif human capital dan capability approach Amartya Sen, pembangunan ditentukan oleh kemampuan manusia. Institusi mengubah sumber daya menjadi pengetahuan, kapasitas, dan pilihan hidup yang lebih luas.
Dengan kata lain, kekayaan baru menjadi kekuatan pembangunan ketika dikonversi menjadi sumber daya manusia dan institusi yang mampu mencipta.
Perdamaian Helsinki 2005 semestinya menjadi titik balik. Aceh memperoleh ruang politik dan kewenangan ekonomi yang jauh lebih luas. Bahkan, kesepakatan tersebut memberi Aceh hak mempertahankan 70 persen pendapatan dari hidrokarbon dan sumber daya alam tertentu.
Karena itu, energi Aceh seharusnya bergeser: dari apa yang hendak direbut menuju apa yang hendak diciptakan. Dari mengingat kejayaan menuju membangun kejayaan baru.
Di sinilah Serambi Mekkah perlu diberi makna baru.
Jangan biarkan Serambi Mekkah sekadar menjadi romantisisme bahwa Aceh pernah menjadi pusat Islam. Jadikan ia visi peradaban abad ke-21: Aceh sebagai salah satu pusat pendidikan dan pemikiran Islam yang menghubungkan dunia Melayu-Nusantara, ASEAN, India dan Asia Selatan, hingga komunitas Muslim di sepanjang jalur Samudra Hindia dan Afrika Timur.
Jika demikian, pembangunan besar-besaran Aceh seharusnya diarahkan pada kualitas pendidikan dan pembangunan peradaban Islam. Bukan sekadar menambah gedung dan program studi. Tetapi membangun universitas dan dayah berkelas dunia. Membangun pusat riset, perpustakaan dan arsip manuskrip, beasiswa internasional. Juga membangun ekosistem ilmu yang mempertemukan tradisi Islam dengan sains, teknologi, ekonomi, kedokteran, lingkungan, kecerdasan buatan, politik, dan humaniora.
Modal awalnya tersedia. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Aceh pada 2025 mencapai 42,81 persen, jauh di atas rata-rata nasional 32,89 persen. UIN Ar-Raniry memiliki 22.455 mahasiswa aktif dan 58 guru besar. Mahasiswa internasionalnya telah datang dari berbagai negara. Pada 2025, pendaftar mahasiswa asing mencapai 55 orang dari 10 negara, meningkat tajam dibandingkan 10 pendaftar dari tiga negara pada 2024.
Targetnya bukan sekadar membuat orang Aceh lebih terdidik. Targetnya adalah membuat Aceh menjadi tempat orang dari berbagai penjuru datang untuk belajar, meneliti, berdiskusi, dan mencari jawaban atas persoalan zaman.
Dengan demikian, Serambi Mekkah tidak lagi hanya menjadi identitas sejarah. tetapi menjadi rujukan internasional bagi pendidikan dan pemikiran Islam yang relevan dengan masa depan.
Ini bukan proyek pemerintah semata. Pemerintah pusat dapat menjadi pengungkit; pemerintah Aceh menyediakan kepemimpinan; kampus dan dayah menyediakan ilmu; dunia usaha menyediakan dukungan; masyarakat menciptakan lingkungan yang ramah; diaspora membawa jejaring global.
Ukuran kejayaan baru Aceh bukan berapa banyak kekuasaan atau sumber daya yang dikuasainya. tetapi berapa banyak manusia yang datang ke Aceh untuk mencari ilmu dan pulang membawa gagasan.
Jika cita-cita itu menjadi energi bersama, Aceh tidak meninggalkan masa lalunya. Ia mengubah warisan itu menjadi masa depan.
Serambi Mekkah baru tidak akan lahir dari perebutan kekuasaan. Tetapi dari reformasi pendidikan yang melahirkan generasi pembangun peradaban.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.