Tren: Muhammadiyah Turun, NU Naik

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 10/09/2026

 

Ada perubahan menarik dalam lanskap muslim Indonesia. Dalam hampir dua dekade, masyarakat yang merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah menurun. Sementara yang merasa menjadi bagian dari NU meningkat sangat tajam.

Survei LSI Denny JA menunjukkan, pada 2005, 9,4 persen responden merasa bagian dari Muhammadiyah. Angka itu turun menjadi 7,8 persen pada 2014 dan 5,7 persen pada 2023.

Sebaliknya, NU naik dari 27,5 persen pada 2005, menjadi 41,7 persen pada 2014, dan 56,9 persen pada 2023. Survei 2023 dilakukan terhadap 1.200 responden Muslim secara nasional dengan margin of error 2,9 persen.

Jika angka 2023 itu sekadar diterjemahkan ke ekuivalen penduduk Indonesia—yang berjumlah sekitar 278,69 juta jiwa—maka 5,7 persen Muhammadiyah setara sekitar 15,9 juta orang. Sedangkan 56,9 persen NU sekitar 158,6 juta orang.

Tetapi ini bukan jumlah anggota resmi. Pertanyaan LSI berbunyi apakah responden “merasa menjadi bagian” dari ormas, dan diajukan kepada responden Muslim.

Karena itu, angka 15,9 juta dan 158,6 juta hanyalah ekuivalen statistik. Bukan sensus warga organisasi.

Lalu bagaimana jika tren itu berlanjut?

Dari 2005 ke 2023, identifikasi Muhammadiyah turun 3,7 poin persentase, atau rata-rata sekitar 0,21 poin per tahun. Jika pola linear tersebut dipaksakan sampai 2050, angkanya mendekati 0 persen—sekitar 0,1 persen, atau ekuivalen hanya sekitar 330 ribu orang dari proyeksi penduduk Indonesia 2050 sebesar 328,93 juta jiwa.

BPS sendiri menegaskan proyeksi penduduk merupakan perhitungan berdasarkan asumsi kelahiran, kematian, dan migrasi.

NU menghadapi persoalan berbeda. Kenaikannya mencapai 29,4 poin dalam 18 tahun. Jika kenaikan rata-rata 1,63 poin per tahun dipaksakan terus, angka 100 persen secara matematis tercapai sekitar 2049.

Ini tentu bukan ramalan. Tidak mungkin seluruh penduduk Indonesia mengidentifikasi diri sebagai NU. Pertumbuhan sebesar itu pasti melambat.

Justru di situlah makna strategisnya.

Bagi Muhammadiyah, persoalannya bukan semata kehilangan anggota, tetapi regenerasi identitas. Mengapa kekuatan pendidikan, kesehatan, perguruan tinggi dan amal usaha yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan identifikasi generasi muda?

Bagi NU, tantangannya bukan lagi sekadar memperbesar basis massa, melainkan mengubah modal demografis menjadi kader berkualitas, institusi kuat, pendidikan unggul dan kemandirian ekonomi.

Masa depan karena itu bukan pertandingan NU melawan Muhammadiyah. Keduanya memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Dalam menghadapi perubahan generasi, kerja sama NU-Muhammadiyah justru dapat menjadi salah satu penyangga utama kekuatan masyarakat sipil Indonesia.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...