Internasionalisasi HMI

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 03/09/2026

 

Polemik yang melibatkan Cak Imin dan HMI, jika dibaca lebih jauh, justru menegaskan satu hal: HMI berhasil melakukan kaderisasi mahasiswa Muslim Indonesia. Jejak alumninya ada hampir di semua lini kehidupan bangsa—politik, birokrasi, akademik, dunia usaha, profesi, media, dan masyarakat sipil.

Kader HMI ada di mana-mana. Karena memang kaderisasinya dirancang untuk melahirkan manusia yang mampu hadir di berbagai medan kehidupan.

HMI adalah anak umat. Karena itu, sejak awal ia tidak semestinya dipahami sebagai milik satu kelompok politik atau organisasi keagamaan.

Bahkan dalam sejarah politik Islam Indonesia, Masyumi pada fase awal merupakan wadah berbagai kekuatan Islam, termasuk NU. Setelah konflik dan keluarnya NU pada 1952, konfigurasi politik umat berubah.

Karena itu, Masyumi sebelum dan sesudah keluarnya NU tidak dapat dibaca sebagai entitas yang sama. Dalam konteks itulah sikap Cak Nur terhadap Masyumi pun tidak bisa dipahami sebagai pembelaan yang otomatis dan tanpa kritik.

HMI berkembang dengan spektrum kaderisasi yang lebih luas. Salah satu fondasi pentingnya adalah pemikiran kaderisasi Cak Nur, termasuk Nilai Identitas Kader.

Kaderisasi HMI bertumpu pada lima kapasitas: keislaman, intelektualitas, profesionalitas, kepemimpinan, dan kecakapan politik. Dari sanalah lahir kader yang kemudian mengisi berbagai ruang kehidupan Indonesia.

Secara kaderisasi, HMI berhasil. Bahkan dapat dikatakan HMI menjadi salah satu penyangga peradaban Indonesia.

Pertanyaannya, mengapa keberhasilan itu hanya berhenti di Indonesia?

Sudah saatnya HMI melakukan internasionalisasi.

Internasionalisasi bukan berarti membuka cabang HMI di berbagai negara dengan anggota orang Indonesia. Itu lebih tepat disebut jaringan diaspora.

Jauh lebih strategis adalah membawa pengalaman kaderisasi HMI kepada mahasiswa Muslim di berbagai negara. Mendorong lahirnya organisasi kader mahasiswa Islam di beragai negara.

HMI dapat membangun mitra kaderisasi. Bekerja sama dengan basis mahasiswa Muslim lokal, mendorong tumbuhnya organisasi kader, memberikan asistensi dalam pengembangan sistem kaderisasi, kepemimpinan, intelektualitas, profesionalitas, dan pengabdian.

Bentuknya dapat berupa organisasi lokal seperti Muslim Students Association (MSA). HMI dapat mendorong lahir dan berkembangnya MSA yang didirikan serta dikelola oleh mahasiswa Muslim setempat. Misalnya di RRC, Amerika Serikat, India, Inggris, Jerman, Bangladesh, Timor-Leste, Australia, dan negara-negara lainnya.

Tentu tidak harus seragam dalam bentuk dan pendekatan. Yang dibangun adalah organisasi mahasiswa Muslim yang sesuai dengan konteks lokal, tetapi memiliki tradisi kaderisasi yang kuat.

Organisasi-organisasi tersebut harus otonom dan independen, didirikan dan dikelola oleh mahasiswa setempat serta tunduk pada hukum negara masing-masing. Ia bukan organ HMI. Hubungannya dengan HMI adalah hubungan visi, pengetahuan, pengalaman, dan asistensi.

Ini bukan karena dunia Muslim kekurangan organisasi. Di banyak negara justru telah berkembang gerakan mahasiswa Muslim yang kuat dan memiliki tradisi sendiri.

HMI tidak perlu datang sebagai guru. HMI datang sebagai knowledge partner: berbagi pengalaman panjang Indonesia dalam mengembangkan kader mahasiswa Muslim.

Yang direplikasi bukan nama, struktur, atau identitas HMI, melainkan tradisi kaderisasinya.

Jika berhasil, HMI tidak sekadar memiliki jaringan internasional. HMI ikut membangun ekosistem kepemimpinan muda Muslim global.

Inilah soft power Indonesia yang paling berharga. Bukan ekspansi organisasi, tetapi jaringan manusia.

Mahasiswa yang hari ini menjadi mitra kaderisasi, kelak dapat menjadi akademisi, profesional, pengusaha, diplomat, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin negara.

Maka ukuran keberhasilan internasionalisasi HMI bukan berapa banyak cabang yang berdiri di luar negeri. Ukurannya adalah berapa banyak organisasi kader Muslim yang mandiri tumbuh, dan berapa banyak pemimpin berkualitas lahir dari sana.

HMI telah membuktikan bahwa kaderisasi dapat menjadi kekuatan peradaban Indonesia.

Kini saatnya pengalaman itu menjadi kontribusi HMI bagi umat Islam dan dunia.

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.