Menulis, Memberi Nyala Optimisme pada Hidup

DWIPA NEWS – “Penulis yang baik tak layak pensiun,” demikian keyakinan sastrawan dan pegiat literasi dari Kulon Progo, Marwanto. Hal itu diungkapkan ia ungkapkan saat ditemui di acara  “Obrolan Cipta Puisi: Dari Prancis ke Indonesia, Membincang Puisi”, pekan lalu di Wates.

Keyakinan tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi Marwanto. Sekitar 18 tahun lalu, saat diwawancarai media cetak ia mengatakan hal serupa. Waktu itu ia bertemu dan menyerahkan manuskrip buku puisi Menaksir Waktu, kepada Jayadi Kastari (wartawan Kedaulatan Rakyat).

Marwanto (kiri) dan Dr. Ratun Untoro (mantan Plt Kepala Balai Bahasa Yogyakarta). Foto: Dok. Sastra-Ku

Tahun ini ia tercatat telah berkarya selama 34 tahun. Hal ini jika mendasarkan pada tulisan pertamanya yang dimuat media cetak, yakni pada bulan Oktober 1992. Tulisan pertama Marwanto tayang di koran cetak mingguan Minggu Pagi, Edisi No 30  Tahun ke 46 Minggu Keempat Oktober 1992.

Honor Pertama Rp.10.000

Marwanto masih ingat persis, dari tulisan tersebut ia memperoleh honor Rp.10.000,-. Dan ia juga masih ingat, honor tersebut dipakai untuk membeli dua buku, yakni Slilit Sang Kiai (Emha Ainun Najib) dan Dasar-dasar Ilmu Politik (Miriam Budiarjo).

Sejak itu ia bersemangat menulis. Sekitar sepuluh tulisan tiap bulan meluncur ke koran lewat kantor pos, meski tidak setiap bulan dimuat. Sebagai mahasiswa indekos dengan uang saku bulanan terbatas, honor yang diterima dari menulis dapat untuk menambah kebutuhan kuliah, terutama membeli buku.

Di tahun 1995, ia pernah memperoleh honor tulisan resensi dari koran nasional yang sangat besar, yakni dua ratus ribu rupiah. Nominal tersebut waktu itu bisa untuk menyewa kos selama satu tahun, dan seharga mesin ketik brother (kurs sekarang seharga laptop).

Selepas kuliah, ketika sejumlah lamaran di media sebagai wartawan dan ke berbagai kampus sebagai dosen, tidak kunjung membuahkan hasil, Marwanto tetap menulis. Bahkan ia mendirikan komunitas sastra. Pada tahun 2006, bersama sejumlah penulis di Kulon Progo ia mendirikan Komunitas Lumbung Aksara.

Mendirikan Komunitas

Ketika tahun 2010 aktivitas Lumbung Aksara mulai surut, ia menggerakkan sastra lewat Dewan Kebudayaan. Saat itu Marwanto diberi amanat sebagai salah satu Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo (2010-2015), yang membidangi sastra. Di tahun 2015, ketika posisi di Dewan Kebudayaan berubah menjadi sekretaris, Marwanto juga dipercaya menjadi Ketua Forum Sastra dan Teater.

Di tahun 2019, bersama penyair senior Marjuddin Suaeb dan penulis sastra Jawa Sumarno, Marwanto mendirikan Komunitas Sastra-Ku.

Marwanto menjalani aktivitas menulis dan bersastra di sela-sela pekerjaannya sebagai penyelenggara pemilu. Saat UU No 7 tahun 2017 mewajibkan penyelenggara pemilu tidak boleh menjadi pengurus organisasi kemasyarakatan,  Marwanto melepas semua jabatan di kepengurusan organisasi. Tetapi ia tetap menulis dan bersastra.

“Yang dilarang itu menjadi pengurus organisasinya. Menulis masih boleh, baca puisi tetap jalan,” ujarnya. Meski jika ada tahapan pemilu,  intensitas bersastranya menjadi jauh berkurang, karena ia fokus pada pemilu.

Sebagai penulis ia mengaku kurang produktif. Baginya, setidaknya ada tiga pilihan bagi seorang penulis terhadap produktivitas berkarya.

“Pertama, sangat produktif menulis tapi kualitasnya kurang terjaga. Kedua, kurang produktif tapi selalu menjaga kualitas. Ketiga, produktif sekaligus menjaga kualitas. ”Yang terbaik tentu yang ketiga, tapi jika ia tidak bisa dilakukan seorang penulis, Marwanto memilih yang kedua.

Dalam kurun waktu 34 tahun, sekitar 500 tulisan beragam genre dimuat media cetak dan online. Karyanya  masuk di 75-an buku antologi bersama. Delapan buku tunggal ia tulis.

Penghargaan Prestisius

Sejumlah penghargaan lomba puisi dan cerpen ia raih. Tahun ini Marwanto memperoleh penghargaan dari Kemendikdasmen RI (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) untuk dedikasinya di bidang kesusastraan Indonesia lebih dari 25 tahun.

Bagi Marwanto, dunia menulis tidak hanya memberinya banyak pengalaman, memperluas jaringan dan mendapatkan penghargaan, tapi yang  lebih penting menurutnya adalah tetap bisa menyalakan optimisme terhadap hidup. Optimisme yang didasari kejujuran dan cinta.

“Memelihara gairah menulis adalah menyalakan optimisme untuk terus hidup, dilandasi kejujuran untuk merawat cinta,” tegasnya.

Lihat juga...