Pasang Bubu di Solor, Yamin Hindari Gunakan Batu Karang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Banyak bubu (Belutu bahasa Larantuka) yang dipasang warga pesisir di perairan Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menangkap ikan karang dan ikan dasar.

Pemilik bubu dalam jumlah besar di Pulau Solor, Desa Pamakayo, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yamin Lewar saat ditemui, Rabu (19/8/2020). Foto : Ebed de Rosary

Dalam memasang, terkadang warga mengambil batu karang di dasar laut dan diletakan di bagian atas bubu yang berfungsi sebagai pemberat agar bubu tidak bergeser saat terkena ombak dan arus laut.

“Saya tidak mau gunakan batu karang karena merusak ekosistem laut. Karang merupakan rumah ikan sehingga harus dijaga kelestariannya agar ikan bisa hidup dan berkembangbiak,” kata Yamin Lewar, pemilik bubu di Desa Pamakayo, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (19/8/2020).

Yamin katakan, dahulu perairan di sekitar Pulau Solor baik pantai utara dan pantai selatan selalu ramai oleh aktifitas pengeboman ikan oleh nelayan dari beberapa wilayah di Flores Timur dan dari wilayah lainnya. Sejak adanya patroli rutin oleh tim gabungan penyelamatan laut Kabupaten Flores Timur serta aktifnya peran masyarakat dalam melakukan pengawasan membuat pengeboman terhenti.

“Saat ini perairan di Pulau Solor sudah sepi dari aktifitas pengeboman ikan sehingga karang pun mulai tumbuh kembali. Untuk itu saya memasang bubu juga tidak di atas karang tetapi di daerah berpasir,” ungkapnya.

Yamin menyebutkan, sebanyak 100 bubu yang dipasangnya di perairan di depan Desa Pamakayo dan sekitarnya semuanya dirakit di darat. Batu pemberat diambil dari darat,diikat di empat sisi bubu menggunakan tali agar tidak mudah terlepas serta bagian atasnya diikat dengan tali agar mudah diletakan di dasar laut dan ditarik.

“Ikan kecil yang terperangkap di dalam bubu saya lepaskan termasuk ikan hias agar bisa berkembangbiak. Bekerja di laut kita tidak perlu modal besar sehingga perlu dijaga ekosistemnya agar ikan mudah didapat,” ujarnya.

Kepala kantor perwakilan Misool Baseftin Flores Timur, Evi Ojan mengatakan, perairan Pulau Solor saat ini relatif lebih aman dari aktifitas penangkapan ikan yang merusak ekosistem laut.

Evi menyebutkan penangkapan ikan pari manta oleh nelayan Desa Lamakera dan sekitarnya di Kecamatan Solor Timur menggunakan tombak pun mulai berkurang tetapi beralih menggunakan pukat hanyut.

“Peran Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di desa-desa pesisir sangat penting dimana mereka mengusir pelaku pengeboman ikan dan melaporkan kepada tim terpadu penyelamatan laut bila ada aktifitas pengeboman ikan,” ungkapnya.

Lihat juga...