Pembelajaran ‘Online’ Terus Berjalan, Kurikulum Suplemen Diterapkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Awal semester ganjil tahun ajaran 2020 ini, sejumlah sekolah tingkat SMP di Kulonprogo Yogyakarta mulai menerapkan kurikulum pembelajaran yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Hal ini dilakukan karena proses pembelajaran masih akan dilakukan secara online di rumah masing-masing atau disebut Belajar Dari Rumah (BDR).

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Galur Kulonprogo, Sugeng Winadi, mengatakan, kurikulum yang akan mulai diterapkan bagi seluruh siswa di masa pandemi ini adalah kurikulum suplemen. Dimana kurikulum ini memiliki struktur program pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran online sebelumnya.

Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Galur Kulonprogo Yogyakarta nampak mengenakan masker saat hadir di sekolah, belum lama ini. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Kurikulum Suplemen ini diterapkan karena siswa masih harus belajar di rumah masing-masing secara online. Pada semester genap lalu memang pembelajaran online masih bersifat darurat. Namun untuk semester ganjil ini akan dilakukan dengan patokan yang lebih jelas sesuai ketentuan dari Dinas Pendidikan,” ujarnya Jumat (17/7/2020).

Sugeng menjelaskan nantinya siswa akan mengikuti proses belajar secara online atau BDR selama 36 jam per minggu. Dengan batasan maksimal lama pembelajaran 240 menit per hari. SMP Negeri 1 Galur sendiri dikatakan hanya akan mengambil lama pembelajaran sebanyak 180 menit per hari agar tidak membebani siswa.

“Dalam sistem pembelajaran online ini, memang siswa tidak banyak dituntut dalam pencapaian materi kurikulum. Namun lebih pada membangkitkan semangat belajar setiap anak. Agar anak tetap memiliki motivasi belajar di rumah meski berada di rumah masing-masing,” ungkapnya.

Setiap guru nantinya diberikan kewenangan untuk membuat standar pengukuran pencapaian siswa masing-masing. Yakni melalui tugas-tugas yang diberikan pada siswa. Selain itu, guru juga memiliki kewajiban untuk memastikan setiap siswa siap saat proses pembelajaran online atau BDR berlangsung. Tentu dengan bantuan orang tua/wali murid siswa masing-masing.

“Dengan sistem online, tentu guru akan kesulitan memantau setiap siswa. Sehingga peran orang tua/wali murid sangat vital untuk memastikan siswa bisa mengikuti proses pembelajaran secara online atau BDR,” jelasnya.

Dari evaluasi yang dilakukan selama semester genap lalu, Sugeng mengaku muncul sejumlah kendala dalam proses pembelajaran secara online yang dilakukan. Mulai dari kendala teknis soal sinyal di sejumlah wilayah tempat tinggal siswa tertentu. Hingga pemahaman satu dua orang tua/wali murid yang masih melarang siswa memegang HP.

“Namun sejumlah kendala itu saat ini sudah bisa teratasi. Sementara untuk mengantisipasi kendala lain misalnya ada siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran secara online atau BDR, kita juga melakukan home visit atau kunjungan langsung ke rumah siswa. Sehingga siswa diharapkan bisa terbantu,” jelasnya.

Lihat juga...