Isu Penculikan Anak Marak, Sekolah di Jogja Lakukan Langkah Prefentif
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA, Cendana News — Menyikapi maraknya isu kasus penculikan anak beberapa waktu belakangan, sejumlah sekolah di Yogyakarta mulai mengambil langkah prefentif dengan meningkatkan kewaspadaan di lingkungan sekolah masing-masing.
Langkah pencegahan tersebut dilakukan sejumlah sekolah khususnya tingkat PAUD/TK, SD hingga SMP. Antara lain dengan meningkatkan pengawasan, perlindungan maupun pengamanan bagi para siswa khususnya di saat jam pulang sekolah.
Seperti dilakukan SD Negeri Gamping Sleman Yogyakarta. Sekolah yang terletak tepat di sebelah jalan raya yang selalu ramai ini, bahkan mengaku menerapkan kebijakan khusus. Hal ini juga sebagai bagian menindaklanjuti surat edaran yang telah dikeluarkan Dinas Pendidikan Sleman maupun Dinas Pendidikan DIY, yang mewajibkan seluruh sekolah menyikapi serius isu penculikan anak ini.
Salah seorang guru SDN Gamping, Harni mengatakan, pihak sekolah telah menugaskan sejumlah guru jaga untuk mengawasi atau memantau setiap kegiatan siswa di lingkungan sekolah. Baik itu saat jam istirahat, jam pulang sekolah maupun jam ekstrakurikuler.
Dengan sistem piket bergilir, guru jaga ini ditempatkan di depan pintu gerbang sekolah pada jam-jam tertentu. Disamping bertugas untuk mewaspadai setiap orang asing maupun orang tak dikenal dengan gerak-gerik mencurigakan di sekitar lingkungan sekolah, guru jaga ini juga bertugas memastikan setiap anak dijemput oleh orang tua maupun wali murid masing-masing.
“Kalau misalnya nanti ada keterlambatan penjemputan, maka guru jaga wajib menghubungi orang tua maupun wali murid siswa bersangkutan. Sementara siswa yang biasanya pulang sendiri, harus pulang bersama rombongan teman lainnya yang rumahnya searah,” katanya.
Tak hanya itu, pihak SDN Gamping juga mengaku telah memberikan sosialisasi dan arahan bagi seluruh siswa agar berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal. Termasuk juga menjalin komunikasi yang efektif serta mengenali keluarga siswa yang biasa menjemput saat pulang sekolah.
Sementara itu salah seorang orang tua siswa, Retno, sangat khawatir dengan adanya isu penculikan anak ini. Apalagi kabar tersebut muncul tak jauh dari sekitar wilayah tempat tinggalnya, yang hanya berjarak puluhan kilometer saja.
Atas dasar itulah, ia mengaku rela untuk mengantar dan menjemput kedua anaknya ke sekolah setiap hari. Meski harus menunggu hingga beberapa jam lamanya.
“Kebetulan anak saya dua. Satu TK satu SD. Jadi ya harus rutin antar jemput. Setelah jemput adiknya, biasanya saya nunggu sekitar 1-2 jam, untuk langsung menjemput kakaknya. Ya biar aman aja,” katanya.