Pandemi Covid-19 Momentum Farmasi Indonesia untuk Berinovasi
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Pandemi COVID 19, dinyatakan Menteri Ristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro sebagai momen tepat bagi para peneliti dan pelaku usaha farmasi Indonesia untuk memajukan kemampuan dan sekaligus menerbitkan berbagai inovasi di bidang pengobatan dan pengembangan dunia farmasi Indonesia.
“Saat ini kami sedang mempersiapkan kerangka kerja 2020-2024, untuk menjawab kebutuhan utama di Indonesia berbasis sumber daya dan penguatan teknologi. Salah satunya adalah di sektor kesehatan dan obat,” kata Bambang saat Zoom Webinar Kemenristek/BRIN, Rabu (24/6/2020).
Ia menyampaikan bahwa selama masa pandemi COVID 19, tercatat adanya peningkatan permintaan dan kebutuhan produk kesehatan.
“Sementara di sisi lain, bahan baku obat itu kita masih impor. 95 persen masih impor. Padahal, biodiversity Indonesia baik daratan maupun lautan itu sangat banyak. Sehingga, dianggap penting untuk membangun kemandirian bahan baku obat,” ucapnya.
Bambang menyebutkan Indonesia memiliki bahan dasar petrokimia tapi untuk olahan bahan baku berbasis kimia belum ada.
“Oleh karena itu, dalam prioritas riset nasional (PRN 2020-2024), kemandirian bahan baku obat menjadi salah satu prioritas, selain pengembangan alat kesehatan dan diagnostik serta pengembangan produk biofarmasetika,” paparnya.
Tapi, Bambang menegaskan bahwa dalam membangun kemandirian farmasi Indonesia, bukan hanya pemerintah yang harus melakukannya sendiri. Tenaga medis dan ahli farmasi juga harus ikut serta.
“Contohnya, kalau untuk obat diabetes. Ada bahan baku obat herbal asli Indonesia atau yang kita sebut Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang memiliki kualitas sama dengan obat kimia impor. Tapi kalau dokter sebagai pihak yang berwenang dalam menentukan obat tidak meresepkan OMAI kepada pasiennya, ya tidak akan ada perkembangan dalam penggunaan obat asli Indonesia. Atau jika ahli farmasi tidak bisa menjelaskan bahwa kualitas kedua obat itu sama dan mendorong penggunaan obat asli Indonesia, ya tidak akan berkembang juga. Akhirnya, industri akan mati,” urainya.
Peneliti farmasi, menurutnya, juga harus mendorong industri farmasi untuk melakukan penelitian dan pengembangan serta memperkuat pembuatan obat dari bahan herbal asli Indonesia.
“Kita juga akan melakukan proteksi pada biodiversity kita, sehingga industri atau peneliti asing tidak bisa membawa bahan baku kita keluar dari Indonesia untuk kepentingan analisa maupun pengembangan industri farmasi mereka,” tandasnya.
Terkait harga yang mahal, Bambang menyatakan, bahwa harga akan menjadi murah saat bahan baku tersebut diproduksi dalam jumlah banyak.
“Harus ada pemilahan bahan baku obat apa saja yang diprioritaskan untuk diproduksi secara masal. Sehingga membuat harga menjadi murah. Dan harus dipastikan juga, jika sudah diproduksi, harus ada pembelinya. Kalau tidak, ya pelaku usaha bisa gulung tikar,” pungkasnya.