Masih Ada Warga di Sikka tak Miliki KTP

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Meskipun Pemerintah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, gencar melakukan pendataan administrasi kependudukan, namun masih ada warganya yang tidak memiliki surat identitas kependudukan. Kondisi ini dialami oleh sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemulung di Kota Maumere, dan tinggal di gubuk reyot di atas tanah pemerintah, persis di belakang Kantor Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Sikka.

“Kami sudah dua tahun tinggal di belakang kantor ini di lahan milik pemerintah,” kata Maria Modesta (50), seorang pemulung di Kota Maumere, Jumat (19/6/2020).

Modesta mengatakan, dirinya hanya tinggal berdua bersama suaminya, Yakob Neno Bana (53), yang sedang mengalami sakit stroke, dan gangguan pendengaran. Sementara 6 anak mereka sudah menikah dan ada yang tinggal bersama saudara dan orang tua angkat.

Rumah gubuk yang ditempati sepasang suami istri pemulung di belakang kantor Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (19/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Sehari-hari, keduanya hanya hidup dari pendapatan sang istri yang hanya bekerja sebagai pemulung, dengan pendapatan pas-pasan, setelah suaminya jatuh sakit dan tidak bisa memulung lagi.

“Subuh saya sudah bangun untuk berjalan mencari barang bekas. Setelah dikumpulkan seminggu sekali, baru dijual dan bisa menghasilkan uang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.Uangnya untuk kebutuhan makan minum sehari-hari,” jelasnya.

Selama ini, sebut Modesta, dirinya bersama sang suami tidak memiliki kartu identitas kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga, sehingga tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Ia m engaku bersyukur keenam anak mereka sesekali sering datang menjenguknya di gubuk reyot tersebut, dan hanya sebentar terus kembali lagi ke tempat tinggal mereka.

“Kami tidak ada KTP dan KK, sehingga tidak mendapatkan bantuan BLT, BST dan lainnya. Kami hanya dikasih beras 3 bulan sekali dari Dinas Sosial sebanyak 20 kilogram saja,” terangnya.

Modesta menyebutkan, setiap malam mereka hanya mengandalkan lampu pelita sebagai penerangan, sedangkan air bersih mereka ambil di Kantor Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM yang berada tak jauh dari gubuknya.

Dia bersyukur, ada lahan kosong yang ada di sekitar gubuknya, sehingga bisa dimanfaatkan untuk ditanami aneka sayuran agar bisa dikonsumsi sendiri dan mengurangi pengeluaran.

“Suami saya juga tidak bisa dibawa berobat ke rumah sakit, karena kami tidak memiliki uang. Pernah ada orang yang menemukan suami saya pingsan di pinggir jalan, lalu membawa ke rumah sakit di mana semua biaya pengobatan ditanggung orang tersebut,” jelasnya.

Yakob, sang suami yang mengaku berasal dari Timor Leste sudah lama merantau ke Maumere, dan sudah belasan tahun terkena stroke sehingga tidak bisa memulung lagi.

Dirinya pun mengaku pernah memiliki gerobak yang biasa dipergunakan menampung barang hasil memulung, namun telah dicuri orang.

“Dulu saya juga ikut memulung, namun sekarang sudah tidak bisa lagi karena mengalami stroke ringan. Gerobak saya juga dicuri orang dan kami tidak punya uang untuk membeli yang baru,” tuturnya terbata-bata.

Dari keterangan yang diperoleh sebuah keluarga yang tinggal tak jauh dari rumah sepasang pemulung ini, keduanya sebelumnya pernah menikah.

Keduanya juga baru tinggal di gubuk reyot tersebut dan lahan yang ditempati milik Pemerintah Kabupaten Sikka, sehingga tidak dipungut bayaran.

Rumah gubuk satu kamar yang ditempati pasutri ini dibangun dari kayu dan bambu bekas. Dinding dan atap rumah juga menggunakan seng bekas, termasuk pagarnya.

Lihat juga...