Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Profil dr Kariadi

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG —Tiga tokoh nasional yakni Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso, dr Kariadi dan Prof Dr Soegarda Poerbakawatja, diusulkan Pemprov Jateng mendapat gelar pahlawan nasional.

Hal tersebut seiring dengan terbitnya surat bernomor 464/0009043, tertuju kepada Menteri Sosial. Dalam surat tersebut, diterangkan setelah dilakukan kajian oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Jateng, ketiganya memenuhi persyaratan yang berlaku.

“Ada banyak pertimbangan yang dilakukan untuk pengusulan itu. Usulan dari masyarakat, ada data yang dilampirkan. Tugas kami memverifikasi saja, apakah semuanya betul dan tidak ada yang terlanggar. Kemudian setelah itu, kami meneruskan ke pusat,” papar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Semarang, Jumat (19/6/2020).

Dipaparkan, nantinya para pengusul gelar pahlawan nasional tersebut yang akan menindaklanjuti. Karena sudah melalui penyaringan, nantinya Kementerian Sosial yang menindaklanjuti pengajuan itu. “Sampai pada Sekmil Presiden yang nanti akan memutuskan terakhir. Kami hanya meneruskan saja,” paparnya.

Sementara, bagi masyarakat Kota Semarang, nama dr Kariadi sudah tidak asing lagi. Dinilai telah berjasa dan mengabdi dalam bidang kesehatan masyarakat, namanya pun diabadikan sebagai rumah sakit pemerintah terbesar di Jateng, RSUP dr Kariadi Semarang.

Lalu seperti apa sosok dr Kariadi, yang gugur ditembak tentara penjajah Jepang pada Oktober 1945 tersebut?

Pengamat sejarah Semarang, Hariyadi memaparkan, pada saat itu dr Kariadi ditugaskan sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) di Semarang, yang kelak akan berganti nama menjadi RSUP dr Kariadi.

“Pada masa itu, dr Kariadi bekerja di RS Purusara Semarang. Beliau mendapat tugas untuk memeriksa Reservoir Siranda, yang dikabarkan sudah diberi racun oleh penjajah Jepang. Tugas ini penting sebab reservoir tersebut, merupakan sumber air minum bagi warga Kota Semarang,” paparnya.

Namun sayang, dalam tugas tersebut, dr Kariadi gugur ditembak penjajah. Meski sempat dirawat, namun nyawanya tidak tertolong. Kabar meninggalnya, dr Kariadi, menyulut kemarahan para pejuang dan masyarakat Semarang, sehingga terjadi pertempuran secara meluas.

“Ini kemudian kita kenal dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang, pada 15–19 Oktober 1945. Dua penyebab utama pertempuran ini adalah karena larinya tentara Jepang dan gugurnya dr Kariadi. Kini pusara beliau, ada di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang,” terangnya.

Mengingat jasa yang diberikan begitu besar, pada tahun 1964, RSUP Purusara yang sudah berubah nama menjadi RSUP Semarang, diganti namanya menjadi RSUP dr Kariadi Semarang.

Tidak hanya itu, pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1968, dr Kariadi dianugerahi Satyalencana Kebaktian Sosial oleh Presiden Soeharto. Penghargaan tersebut merupakan tanda kehormatan tertinggi, yang diberikan pemerintah, sebagai penghargaan kepada warga negara Indonesia atau seseorang, yang telah berjasa dalam bidang perikemanusiaan.

Lihat juga...