Seruan Moral Majelis Profesor Unnes Terkait Penanganan Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Majelis Profesor Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersatu meneguhkan sikap, niat dan tindakan yang cerdas dalam upaya mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Mengutamakan keselamatan dan kesehatan masyarakat, warga negara dan bangsa Indonesia secara berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa,” papar Ketua Majelis Profesor Unnes, Prof Mungin Edy Wibowo, M.Pd, Kons, saat membacakan seruan moral yang disiarkan secara daring di kampus Sekaran Gunungpati Semarang, Senin (20/4/2020).

Dipaparkan, seruan moral ini disampaikan sebagai bentuk kepudulian dan dukungan langkah pemerintah dalam menangani Covid-19.

“Kita melihat adanya peningkatan Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material serta telah berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat dalam menjalani kehidupannya,” tandasnya.

Untuk itu, Majelis Profesor Unnes menyampaikan seruan moral sikap kebersamaan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat dan bangsa Indonesia. Dipaparkan ada sembilan poin Seruan Moral yang dilakukan yang dibacakan bersama 68 Profesor Unnes.

“Ada sembilan poin yang kita sampaikan, di antaranya mendukung Pemerintah dalam memperkuat koordinasi, pengendalian, dan pengawasan pelaksanaan kegiatan percepatan penanganan Covid-19 melalui sinergis antar kementerian, lembaga dan pemerintah daerah, serta mengomunikasikan perkembangan penanganan kepada masyarakat,” terangnya.

Selain itu juga mengajak semua komponen bangsa, untuk mematuhi anjuran pemerintah dalam mencegah penularan Covid-19 dengan tetap menjaga jarak dengan orang lain, dan menghindari kontak fisik demi kesehatan, keselamatan dan kebaikan bersama seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Kami juga sampaikan dukungan dan penghargaan setinggi-tingginya, kepada seluruh tenaga medis yang telah berjuang dengan mempertaruhkan kesehatan dan keselamatannya dalam penanganan Covid-19.

Mereka berjuang tanpa pamrih, yang didasarkan pada keihklasan dan profesionalitas untuk melindungi kesehatan dan keselamatan, segenap masyarakat Indonesia,” tandas Prof. Mungin.

Selain itu, juga mengajak semua komponen bangsa meningkatkan sikap kebersamaan, kepedulian sosial, gotong royong dan berpartisipasi dalam mencegah, mendeteksi, dan merespon terhadap Covid-19 yang melanda segenap masyarakat, bangsa Indonesia dan warga dunia.

“Termasuk, kita juga mengajak seluruh anggota Majelis Profesor, Senat Universitas, dan segenap pimpinan tingkat universitas sampai tingkat program studi Unnes, untuk terus meningkatkan sikap kebersamaan dan kepedulian sosial dalam memberikan memberikan bantuan material dan moral, dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19 ,” terangnya lebih lanjut.

Sementara, Rektor Unnes, Prof. Fathur Rokhman, M. Hum, menandasakan, seruan moral yang disampaikan Majelis Profesor Unnes sebagai bentuk sikap kebersamaan dan kepedulian sosial terhadap program pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19.

“Semoga segera berakhir sehingga kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia serta warga dunia normal kembali,” tutur Prof. Mungin.

“Ajakan sikap kebersamaan dan kepedulian sosial dalam percepatan penanganan Covid-19 ini merupakan gerakan kemanusiaan yang harus didukung. Dalam menghadapi Covid-19 Unnes juga telah melakukan berbagai langkah. Diantaranya pembentukan satgas Covid, pembuatan hand sanitizer dan masker, pembagian sembako bagi mahasiswa terdampak Covid-19 yang menyebabkan mereka tidak bisa pulang kampung dan masih tinggal di kos,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan perkuliahan secara daring dan fasilitasi akses perkuliahan daring. Termasuk dalam pelaksanaan KKN daring dan skripsi.

“Pembuatan skripsi kita perbolehkan dalam bentuk artikel, selain itu juga tidak perlu menggunakan data primer, yang pengumpulannya harus terjun ke lapangan, namun bisa menggunakan data sekuder. Data-data tersebut diambil dari studi kepustakaan atau sumber referensi lainnya,” pungkas Prof. Fathur.

Lihat juga...