Khilafah di Sana, Khilafah di Sini

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

T. Taufiqulhadi (CDN/Istimewa)

Belakangan setelah Khilafah Turki Usmani bubar total pada 1924,  muncullah pemikir-pemikir musim bubar khilafah Turki. Bubarnya khilafah Islam ini, ditaksir, karena sejumlah pengaruh buruk. Pengaruh buruk itu karena filsafat Yunani, Persia, Kristen, Hindu dan Eropa. Juga pengabaian bahasa Arab oleh orang-orang Turki — yang mungkin mereka tidak suka bahasa yang penuh fi’il dan isim yang ribet itu. Paling hebat adalah pembelahan dunia Islam oleh Barat. Maka tampillah ke depan Rasyid Ridha (w. 1935) keturunan Asyraf (Quraisy) yang lahir di suatu tempat di Libanon sekarang, dan Taqiuddin al-Nabhani (w. 1977), tokoh politik Palestina pendiri sebuah parpol, Hizbut Tahrir (HT).

Keduanya memiliki kesamaan yaitu sama  menggebu-gebunya mengurus hal-hal muskil soal khilafah. Bedanya, Ridha pemikir khilafah yang pro-Nasionalisme Arab, al-Nabhani pendukung khilafah yang anti-Nasionalisme. Ridha adalah pemikir dengan bejibun karyanya, dan saking banyaknya, orang bingung melihat konsistensinya soal konsep khilafah. Tapi, mungkin sebagai keturunan Quraisy, setelah berpikir panjang, Ridha memutuskan khilafah itu cocoknya di tangan orang Arab Quraisy. “Khilafah di tangan Turki Usmani tidak ideal karena didasarkan atas ashabiyyah,  bukan agama”.

Lebih penting lagi, jika Khilafah Turki tertelan bumi, maka yang patut dihidupkan adalah sejenis khilafah di atas bumi Arab yang bertaburan umat Islam itu. Khilafah jenis ini akan menjamin pelaksanaan ibadah dan penerapan syariat Islam di muka bumi. Maka Ridha mengusulkan, orang Arab harus berteman dengan Inggris. Kenapa Inggris? Inggris, menurut Ridha, adalah sejenis penjajah yang ramah.

Lihat juga...