Khilafah di Sana, Khilafah di Sini
Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi
Tapi tak lama kemudian semua makhluk di semenanjung itu riang setengah mati dan menyanjung-nyanjung Sir Sykes dan Mon Coeur Picot laksana pahlawan perang Uhud karena telah berhasil membawa keluar mereka dari penjajahan orang Turki. Nama-nama seperti Irak, Kuwait, Arab Saudi yang tak terbayangkan sebelumnya itu adalah simbol kekalahan kaum Ajam (non-Arab) yang berani-beraninya menggunakan nama khilafah untuk menjajah bangsa Arab yang terhormat.
Jadi apakah pemegang merk khilafah itu hanya hak orang Arab? Tergantung pemikirnya. Tabiat para pemikir di zaman dahulu mirip pemikir zaman sekarang juga: musim apa, harus mengatakan bagaimana. Ada pemikir yang hidupnya di zaman Khilafah Abbasiyah, seperti Al Mawardi (w. 1058). Pemikir yang menulis puluhan kitab soal siyasah ini menyaksikan sendiri bagaimana khilafah Sunni keturunan Quraisy itu nyaris tinggal merek saja. Urusan yang nyata seperti otoritas politik, telah digondol orang lain yaitu keluarga Buwayhi yang Syiah.
Al Mawardi, yang tidak tahan lagi melihat khalifah kesayangannya, al-Qa’im, hanya mengelus-elus jenggot karena tidak ada kerjaan, tampil ke depan. Ilmuan yang bergelar Aqda al-Qudat (Kadi Terbaik) itu, berhujah, Imamah atau khilafah itu adalah institusi pengganti Nabi untuk memelihara urusan agama dan mengelola urusan dunia. Institusi ini teramat penting dan mulia. Saking penting dan mulianya, ia tidak boleh jatuh ke tangan kaum Ajam atau Syiah. Jika saat itu ada otoritas politik sejenis Abbasiyah di Mesir yang dikenal dengan Khilafah Fatimiyah, itu mesti kelakuan orang Syiah yang tidak ada kerjaan, karenanya harus dianggap tidak pernah ada di muka bumi ini.